Wall Street Terguncang: Trump Ancam Perang Dagang Baru dengan Tarif 25% ke Jepang dan Korea Selatan.
Trump akan berlakukan tarif 25% untuk seluruh produk dari Jepang dan Korea Selatan mulai 1 Agustus, serta ancam tarif tambahan untuk negara anggota BRICS.
Pasar saham AS anjlok hampir 1% karena kekhawatiran dampak tarif terhadap ekonomi global dan arah kebijakan moneter AS ke depan.
Indeks saham AS jatuh tajam pada hari Senin setelah Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 25% untuk seluruh produk impor dari Jepang dan Korea Selatan mulai 1 Agustus 2025. Dow Jones merosot 422 poin (-0,9%), S&P 500 turun 0,8%, dan Nasdaq terkoreksi 0,9%. Keputusan ini memicu ketakutan akan perang dagang global baru yang dapat memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi dunia, terutama karena waktu pengumuman bertepatan dengan ketidakpastian seputar arah suku bunga Federal Reserve.
Trump juga memperingatkan bahwa setiap langkah balasan dari Jepang atau Korea Selatan akan dibalas dengan peningkatan tarif tambahan di atas 25%. Tak hanya dua negara tersebut, Trump menargetkan sejumlah negara lain seperti Malaysia, Kazakhstan, dan Afrika Selatan dengan kenaikan tarif tambahan. Langkah ini menyusul berakhirnya jeda kebijakan tarif resiprokal dan minimnya kemajuan dalam perundingan dagang AS dengan mitra utama, kecuali kesepakatan awal dengan Inggris, Vietnam, dan gencatan dagang dengan China.
Ketidakpastian semakin dalam setelah Trump menyatakan negara-negara yang berafiliasi dengan blok BRICS akan dikenai tarif tambahan 10% sebagai bentuk hukuman atas “praktik anti-Amerika.” Di tengah ketidakjelasan besaran tarif akhir—yang disebut Trump bisa mencapai 60% hingga 70%—pasar bersikap defensif. Para investor kini menunggu risalah rapat FOMC Rabu ini untuk melihat apakah The Fed akan tetap bertahan dengan sikap “wait and see” atau mulai membuka peluang pemangkasan suku bunga tahun ini.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen pasar terhadap indeks saham AS saat ini cenderung Bearish akibat ketidakpastian tinggi dari eskalasi kebijakan tarif Presiden Trump, potensi perlambatan ekonomi global, dan minimnya kejelasan arah kebijakan The Fed.
Tarif Trump Memicu Kecemasan Perang Dagang, Harga Emas Tertekan Tapi Didukung Pembelian Bank Sentral.
Penguatan Dolar dan naiknya yield AS menekan harga emas, namun tekanan bersifat terbatas.
Pembelian berkelanjutan emas oleh Bank Sentral Tiongkok dan sentimen de-dolarisasi mendukung prospek emas dalam jangka menengah.
Harga emas (XAU/USD) mencatat kerugian tipis pada Senin di tengah meningkatnya kekhawatiran perang dagang setelah Presiden AS Donald Trump mengirim surat tarif resmi ke Korea Selatan dan Jepang. Trump menetapkan bea 25% atas semua produk dari kedua negara mulai 1 Agustus. Sentimen risiko memburuk, indeks dolar AS (DXY) menguat tajam ke 97.55, dan imbal hasil obligasi AS naik, menekan harga emas meski sempat pulih sebelumnya. XAU/USD diperdagangkan di $3,333, turun 0.06%.
Sementara itu, data ketenagakerjaan AS yang kuat minggu lalu membuat pasar meragukan peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat. Nonfarm Payrolls naik 147K, melebihi ekspektasi, dan tingkat pengangguran turun ke 4.1%. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke 4.389%, menahan laju kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Namun di sisi lain, Bank Sentral Tiongkok kembali membeli emas untuk bulan kedelapan berturut-turut, menambah 70.000 ton cadangan emas di Juni. Ini memperkuat prospek kenaikan harga emas dalam jangka menengah-panjang, sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global, termasuk de-dolarisasi. Data jobless claims serta risalah FOMC minggu ini akan menjadi penentu arah selanjutnya bagi emas.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen saat ini untuk emas adalah Bullish jangka menengah, meski ada tekanan jangka pendek dari yield dan Dolar yang naik. Pembelian oleh bank sentral dan ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama sisi atas.
Harga Minyak Naik Tajam Meski OPEC+ Tambah Produksi, Pasar Fokus pada Permintaan Kuat dan Tarik-Ulur Tarif AS.
Harga minyak naik hampir 2% meskipun OPEC+ menaikkan produksi, karena permintaan musim liburan di AS tetap tinggi.
Ketidakpastian tarif AS dan tensi geopolitik di Timur Tengah menambah dinamika pasar minyak, namun belum cukup untuk menekan harga.
Harga minyak melonjak hampir 2% pada Senin, didorong oleh permintaan kuat selama musim libur AS meski OPEC+ mengumumkan kenaikan produksi yang lebih tinggi dari ekspektasi. Brent ditutup naik $1,28 (+1,9%) ke $69,58 dan WTI naik $0,93 (+1,4%) ke $67,93, setelah sempat turun tajam di awal sesi. Data perjalanan menunjukkan rekor jumlah warga AS bepergian saat libur 4 Juli, memperkuat sentimen bullish di tengah kekhawatiran kebijakan tarif baru AS.
OPEC+ sepakat menaikkan produksi 548.000 barel per hari untuk Agustus, membawa kembali sekitar 80% dari pemangkasan sukarela 2,2 juta bpd sejak April. Namun, sebagian besar pasokan baru masih berasal dari Arab Saudi. Kenaikan harga minyak Arab Light oleh Saudi ke level tertinggi 4 bulan di Asia mengindikasikan keyakinan akan ketahanan permintaan. Goldman Sachs memperkirakan OPEC+ akan menambah 550.000 bpd lagi untuk September pada pertemuan berikutnya 3 Agustus mendatang.
Di sisi lain, pasar juga dipengaruhi oleh ketidakpastian seputar tarif AS. Meski tarif tambahan terhadap berbagai negara diisyaratkan, termasuk potensi dampaknya terhadap permintaan energi global, pernyataan dari pejabat AS menunjukkan kemungkinan penundaan atau revisi. Selain itu, geopolitik kembali memanas setelah serangan Houthi terhadap kapal kargo di Laut Merah, sementara pembicaraan damai Gaza sedang diupayakan oleh AS dan Israel.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen pasar minyak saat ini cenderung Bullish karena permintaan riil tetap kuat, pasokan tambahan dari OPEC+ belum menyentuh pasar sepenuhnya, dan risiko geopolitik berpotensi mendongkrak harga lebih lanjut.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi AUD:
Keputusan Suku Bunga RBA: Perkiraan penurunan suku bunga dari 3.85% ke 3.60% mengindikasikan kebijakan moneter yang lebih longgar. Jika RBA benar-benar menurunkan suku bunga, AUD berpotensi melemah (Turun).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
