Dolar AS Loyo di Level 100,90, Mata Uang Utama Bersiap Hadapi Ujian Baru
Dolar AS Tertekan Data Tenaga Kerja: Indeks Dolar AS melemah hingga 0,50% pekan ini ke level 100,90, memicu penguatan tajam pada mata uang utama seperti EUR, GBP, dan AUD.
Fokus Pasar ke Risalah FOMC: Investor menanti rilis risalah rapat Juni FOMC dan data klaim pengangguran AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga Bank Sentral ke depan.
Indeks Dolar AS (DXY) merosot hingga ke zona 100,90 akibat rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melemah pasca-libur Hari Kemerdekaan. Pelemahan ini memberi napas baru bagi mata uang global, sekaligus menggeser fokus pasar pada rilis data ekonomi penting pekan depan.
Risalah rapat Juni FOMC di bawah pimpinan Ketua baru Kevin Warsh dan data klaim pengangguran akan menjadi penentu ketahanan mata uang Greenback selanjutnya. Investor kini tengah mencari petunjuk kuat apakah para pembuat kebijakan Bank Sentral AS akan tetap mempertahankan sikap restriktif mereka.
Mata uang Euro, Poundsterling, dan Dolar Australia kompak menguat tajam memanfaatkan momentum pelemahan dolar, sementara Yen Jepang masih tertahan di level rendah. Di sisi lain, risiko intervensi pasar tetap membayangi pasangan USD/JPY jika mata uang Jepang tersebut terus terpuruk di dekat rekor terendah 40 tahun.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif untuk Dollar AS:Â Sentimen terhadap Dolar AS cenderung negatif karena tertekan oleh buruknya data tenaga kerja domestik dan ketidakpastian pasar menjelang rilis risalah FOMC, yang memicu aksi jual dan menguntungkan mata uang rival utamanya.
Harga Emas Terbang ke $4.174, Data Ketenagakerjaan AS Bikin Dolar Babak Belur
Lonjakan Harga Emas: Harga emas dunia melesat naik hingga $4.174 per ons setelah data ketenagakerjaan AS Juni yang mengecewakan memangkas peluang kenaikan suku bunga Fed.
Kejatuhan Dolar AS: Indeks Dolar AS (DXY) tertekan menuju kerugian mingguan sebesar 0,52%, memberi keuntungan besar bagi aset aman (safe haven) seperti emas di tengah kembalinya aksi beli bank sentral.
Harga emas dunia (XAU/USD) melonjak lebih dari 1% hingga menyentuh level $4.174 setelah rilis data ketenagakerjaan AS (Nonfarm Payrolls) Juni anjlok jauh di bawah perkiraan. Melemahnya sektor tenaga kerja ini langsung memangkas ekspektasi pasar terhadap pengetatan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS di akhir tahun.
Ambruknya performa Greenback terlihat dari Indeks Dolar AS (DXY) yang datar di posisi 100,83 dan bersiap menutup pekan dengan kerugian sebesar 0,52%. Situasi ini kian diperkuat oleh tingkat partisipasi tenaga kerja AS yang menyusut ke level terendah sejak Maret 2021, memicu keraguan atas ketahanan ekonomi Paman Sam.
Di sisi lain, daya tarik logam mulia non-imbal hasil ini semakin berkilau didorong oleh kembalinya aksi borong cadangan emas bersih oleh bank-bank sentral global sebesar 41 ton. Kini, para pelaku pasar fokus menanti rilis risalah rapat FOMC dan laporan inflasi AS (CPI) pertengahan Juli mendatang sebagai katalis pergerakan harga berikutnya.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen positif:Â Sentimen bagi pergerakan emas cenderung positif karena buruknya data ekonomi AS melemahkan dolar dan memicu ekspektasi kebijakan Fed yang lebih longgar, yang secara historis selalu meningkatkan daya tarik investasi emas.
Peluang Ekspor Iran & Kenaikan Kuota OPEC+: Iran menjajaki kembali pasar Jepang di tengah pelonggaran sanksi AS, sementara OPEC+ sepakat menambah produksi minyak untuk Agustus, memicu lonjakan pasokan global.
Harga Minyak Dunia Merosot: Meredanya ketegangan di Selat Hormuz dan rekor ekspor dari produsen non-OPEC+ membuat harga Brent anjlok hingga 43% dari puncaknya ke level 72 dolar per barel.
Iran mulai mendekati perusahaan Jepang untuk menjual kembali minyak mentahnya memanfaatkan pelonggaran sanksi AS selama masa pembicaraan damai 60 hari. Meski pembeli Jepang masih ragu terkait jaminan keamanan kapal di Selat Hormuz, peluang kembalinya pasokan Iran ini berpotensi besar mengubah peta dagang energi Asia.
Di saat yang sama, aliansi OPEC+ yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia resmi sepakat menaikkan kuota produksi minyak kolektif mereka sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan Agustus. Langkah ini menjadi babak akhir dari pemulihan pemangkasan pasokan masa perang dan dipastikan akan menambah volume minyak mentah di pasar global.
Melonjaknya pasokan dari Uni Emirat Arab dan Rusia, ditambah meredanya konflik di Selat Hormuz, kini sukses menjatuhkan harga minyak mentah Brent hingga menyentuh angka 72 dolar per barel. Struktur pasar bahkan mulai beralih ke kondisi surplus, memicu kekhawatiran para investor akan ancaman banjir pasokan global yang lebih parah.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk harga OIL:Â Meskipun berita ini membawa angin segar bagi stabilitas perdamaian, sentimen ekonomi bagi pasar komoditas minyak cenderung negatif. Kombinasi antara kembalinya pasokan Iran, kenaikan kuota OPEC+, dan rekor ekspor negara lain menciptakan situasi surplus pasokan (supply glut) yang menekan jatuh harga minyak global dan mengancam profitabilitas para produsen energi.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- S&P Global Services PMI (Jun) (USD)
Diperkirakan tidak ada kenaikan atau penurunan aktivitas pada sektor jasa dari data sebelumnya, tetap di angka 51.3.
Dampak: Berpotensi USD menguat jika data dirilis lebih besar dari forecast, dan berpotensi USD melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.
- ISM Non-Manufacturing Prices (Jun) (USD)
Tidak ada data forecast angka yang diproyeksikan untuk indeks harga non-manufaktur ini, dengan data sebelumnya berada di angka 71.3.
Dampak:
Berpotensi USD menguat jika data aktual dirilis lebih besar dari data sebelumnya, dan berpotensi melemah jika dirilis lebih kecil.
- ISM Non-Manufacturing PMI (Jun) (USD)
Diperkirakan ada penurunan aktivitas di sektor non-manufaktur (jasa) dari data sebelumnya 54.5 menjadi 54.2. Dampak:
Berpotensi USD melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.
Disclaimer:
This analysis is prepared solely for reference purposes and does not constitute a solicitation to engage in transactions. Trading decisions should take into account various factors, including market conditions, risk profiles, and individual strategies. Futures trading involves high risk; therefore, all decisions and the consequences of transactions are the sole responsibility of the individual.
