AS Banting Setir ke Diplomasi: Amunisi Menipis Renggangkan Perang AS-Iran
AS-Iran Hentikan Serangan Militer: Trump menahan bombardment ke Iran akibat keterbatasan stok amunisi AS, diikuti penghentian serangan balasan oleh Teheran.
Prospek Suku Bunga The Fed: Citi memprediksi The Fed tetap menahan suku bunga pada rapat Juli karena mendinginnya inflasi inti AS, menepis kekhawatiran akibat lonjakan harga minyak.
Presiden Donald Trump menghentikan sementara kampanye pemboman terhadap Iran setelah 13 malam berturut-turut untuk membuka ruang diplomasi. Penundaan serangan dilakukan usai penasihat militer AS memperingatkan risiko penipisan persediaan amunisi serta habisnya target strategis. Teheran merespons dengan menghentikan serangan balasan, menegaskan prinsip attack for attack sembari tetap skeptis terhadap ketulusan Washington.
Di tengah jeda militer, ketegangan bergeser ke Laut Merah setelah milisi Houthi menyerang fasilitas kilang Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu. Langkah ini mengancam jalur ekspor energi penting Arab Saudi di saat AS mempertahankan blokade lautnya terhadap pelabuhan Iran. Kendati eskalasi di Yaman meningkat, ketidakpastian geopolitik global mulai tertahan oleh berhentinya aksi saling serang secara langsung.
Dari sisi moneter, Citi memproyeksikan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat Juli meski lonjakan harga minyak memicu spekulasi pengetatan. Data inflasi inti dan pasar tenaga kerja AS yang mendingin dinilai cukup untuk menahan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Keputusan untuk menahan suku bunga diperkirakan bakal menekan imbal hasil Obligasi AS dan melemahkan dolar.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk indeks saham AS:Â Penghentian sementara serangan militer AS-Iran yang meredakan eskalasi perang langsung, dipadu dengan proyeksi The Fed yang kemungkinan bertahan tidak menaikkan suku bunga acuan, memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi global serta mengurangi ketakutan pasar terhadap stagflasi.
Emas Tahan Banting di $4.052: Benteng Logam Mulia Menembus Teror Minyak dan Suku Bunga
Emas Sukses Bertahan di $4.052: Emas menghentikan tren penurunan dua pekan (naik 0,9% mingguan) berkat pertahanan kuat di level psikologis $4.000.
Risiko Suku Bunga & Sinyal Diplomasi: Lonjakan minyak ke $100 mendorong peluang kenaikan suku bunga Fed ke 38%, di tengah gertakan militer AS dan terbukanya pintu dialog Trump-Iran.
Harga emas spot menghentikan tren penurunan dua pekan dengan merangkak naik 0,1% ke level $4.052,98 per ons pada penutupan Jumat. Penguatan mingguan sebesar 0,9% ini ditopang oleh aksi beli teknikal yang konsisten saat emas menyentuh batas psikologis $4.000. Langkah ini menahan tekanan dari penguatan dolar AS dan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah.
Ancaman inflasi kian nyata setelah harga minyak Brent sempat menembus $100 per barel akibat serangan Houthi serta gangguan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Eskalasi militer AS-Iran malam ke-13 dan penerapan tarif ganda Trump melipatgandakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga 38%. Kendati demikian, pasar mencatat adanya sinyal awal diplomasi setelah Donald Trump mengonfirmasi komunikasi langsung dengan Tehran.
Pasar emas masih dibayangi risiko ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan proyeksi harga minyak yang berpotensi menyentuh $150 per barel jika krisis berlanjut. Analis menilai emas perlu menembus resistensi kuat $4.200 per ons untuk memicu kembali tren bullish secara meyakinkan. Untuk saat ini, fungsi emas sebagai aset safe-haven berhasil menjaga harganya dari koreksi yang lebih dalam.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen netral:Â Meskipun tekanan makroekonomi (penguatan dolar, kenaikan imbal hasil obligasi, dan risiko suku bunga Fed) sangat membebani pasar, keberhasilan emas mempertahankan level psikologis $4.000 serta munculnya sinyal pembukaan jalur diplomasi AS-Iran memberikan daya tahan (support) bagi pergerakan harga.
Minyak Merosot Lebih dari 5%: Brent turun ke $91,20 dan WTI ke $84,40 akibat keputusan Trump menghentikan sementara serangan udara ke Iran.
Gencatan Senjata & Ancaman Houthi: Iran sepakat menghentikan serangan balasan selama AS jeda, meski milisi Houthi sempat menargetkan kilang minyak Saudi Aramco.
Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari 5% pada perdagangan Senin, dengan Brent jatuh ke level $91,20 dan WTI ke $84,40 per barel. Anjloknya harga dipicu oleh keputusan mendadak Presiden Donald Trump untuk memobilisasi jeda serangan udara ke Iran setelah 13 malam berturut-turut. Langkah ini membuka kembali ruang diplomasi dan meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Teheran merespons positif dengan menghentikan serangan balasan selama AS mempertahankan moratorium bombardment militer tersebut. Kendati demikian, AS menegaskan blokade laut terhadap pelabuhan Iran tetap beroperasi penuh sebagai penekanan negosiasi. Ketegangan sempat bergeser ke Laut Merah setelah milisi Houthi menyerang fasilitas kilang Saudi Aramco di Jizan dan Yanbu.
Meskipun babak baru perundingan damai memberikan angin segar, risiko geopolitik dinilai belum sepenuhnya padam akibat mobilisasi pasukan di Yaman. Analis mencatat bahwa Trump menahan eskalasi demi mencegah pengurasan stok amunisi AS serta melindungi jalur energi sekutu Teluk. Pasar kini mencermati dengan saksama perkembangan negosiasi langsung antara Washington dan Teheran.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk harga OIL:Â Keputusan jeda militer oleh AS dan respons kooperatif dari Iran membuka peluang penyelesaian diplomatis yang nyata. Penurunan harga minyak dunia lebih dari 5% turut meredakan tekanan inflasi global dan mengurangi kepanikan atas krisis pasokan energi.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
- Durable Goods Orders (MoM) (Jun) P (USD)
Diperkirakan ada kenaikan pesanan barang tahan lama bulanan dari data sebelumnya -4.5% menjadi 1.6%. Dampak:
Berpotensi USD menguat jika data dirilis lebih besar dari forecast
Disclaimer:
This analysis is prepared solely for reference purposes and does not constitute a solicitation to engage in transactions. Trading decisions should take into account various factors, including market conditions, risk profiles, and individual strategies. Futures trading involves high risk; therefore, all decisions and the consequences of transactions are the sole responsibility of the individual.
