Dolar AS Melemah Usai Data Inflasi PCE Sesuai Ekspektasi, Kekhawatiran Suku Bunga Mereda
Inflasi PCE Redam Agresivitas Fed: Rilis data PCE Mei yang sesuai ekspektasi meredakan kekhawatiran pasar, memicu penurunan tipis pada taruhan kenaikan suku bunga dan memutus reli penguatan dolar AS selama enam hari berturut-turut.
Puncak Dampak Guncangan Energi: Penurunan harga minyak mentah pasca-pembukaan kembali Selat Hormuz membuat pelaku pasar optimis bahwa inflasi bulan Mei merupakan level tertinggi, meskipun para ekonom memperingatkan bahwa inflasi sektor jasa yang kaku tetap menjadi tantangan ke depan.
Indeks dolar AS melemah 0,2% ke level 101,43 pada perdagangan Kamis, mengakhiri tren penguatan selama enam hari berturut-turut. Pelemahan ini dipicu oleh data inflasi Core PCE AS yang sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga meredakan kekhawatiran akan pengetatan moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve.
Data menunjukkan Core PCE Mei naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sesuai proyeksi konsensus. Hasil tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi mulai stabil, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini sedikit menurun meski inflasi masih berada di atas target 2%.
Melemahnya dolar AS memberikan ruang bagi mata uang utama untuk menguat. Euro naik ke $1,1370, poundsterling menguat ke $1,3191, sementara dolar Australia bertahan stabil setelah didukung data ketenagakerjaan yang lebih baik dari perkiraan, mencerminkan ketahanan ekonomi Australia.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk Dollar AS:Â Kepastian dari data PCE yang tidak melebihi perkiraan memberikan ruang bernapas bagi pasar finansial global karena mengurangi urgensi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga secara agresif. Alhasil, tekanan pada aset berisiko dan komoditas mereda seiring dengan terjadinya koreksi sehat pada nilai tukar dolar AS.
Emas Bangkit dari Level Terendah Setahun Saat Dolar AS Melemah Pasca-Rilis Data PCE
Data PCE Redakan Spekulasi Suku Bunga: Inflasi PCE Mei yang stabil memicu penurunan tipis pada taruhan pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan dari The Fed tahun ini, yang secara langsung melemahkan indeks dolar AS.
Guncangan Geopolitik Hambat Laju Emas: Serangan maritim terbaru di Selat Hormuz mengganggu optimisme perjanjian damai interim AS-Iran, mengerek kembali harga energi dan membatasi reli keuntungan emas.
Harga emas menguat pada perdagangan Kamis setelah bangkit dari level terendah sejak November 2025. Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS menyusul data inflasi Core PCE yang sesuai ekspektasi pasar.
Emas spot naik 0,7% ke $4.026,78 per ons, sementara emas berjangka menguat 0,8% ke $4.041,60 per ons. Data inflasi yang tidak melebihi perkiraan meredakan kekhawatiran akan pengetatan moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve.
Namun, kenaikan emas terbatas karena ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah insiden serangan di dekat Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong harga minyak naik dan membuat investor tetap berhati-hati terhadap prospek aset safe haven.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif:Â Pelemahan dolar AS pasca-rilis data inflasi menjadi katalis utama yang memicu aksi beli kembali (bargain hunting) di pasar emas setelah terkoreksi tajam di bawah level psikologis. Meskipun demikian, pasar tetap bersikap hati-hati seiring kembali memanasnya situasi keamanan jalur logistik Selat Hormuz yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan pada sektor komoditas global.
Premi Risiko Kembali Mengguncang Pasar: Serangan fisik Korps Garda Revolusi Iran terhadap kapal kargo Singapura langsung memutus tren penurunan harga minyak dan mengembalikan kekhawatiran disrupsi pasokan di Selat Hormuz.
Sengketa Aturan Tarif Selat Hormuz: Ketegangan diplomatik meningkat setelah AS dan sekutu GCC menolak mentah-mentah upaya Iran untuk menarik biaya tol atau membatasi rute pelayaran internasional di luar regulasi internasional.
Harga minyak dunia rebound sekitar 1,7% pada perdagangan Kamis, dengan Brent naik ke $75,14 per barel dan WTI ke $71,53 per barel. Penguatan ini didorong oleh kembali meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah sejak akhir Februari.
Sentimen pasar memburuk setelah terjadi serangan terhadap kapal dagang di dekat Oman dan muncul ancaman baru terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan minyak global.
Di sisi lain, AS menegaskan kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus tetap terjaga dan menolak rencana Iran untuk mengenakan biaya transit. Pasar kini terus mencermati perkembangan geopolitik sebagai penentu arah harga minyak selanjutnya.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk harga OIL:Â Meskipun pasar sempat mengalami penurunan harga ke level pra-perang, insiden penembakan kapal dan sengketa aturan tarif pelayaran membuktikan bahwa stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah masih sangat ragu. Hal ini memicu para trader untuk kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam kalkulasi harga minyak mentah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
