Wall Street Terguncang: Trump Ancam Iran Lebih Keras, Pasar Saham AS Rontok dan Harga Minyak Melonjak
Trump kembali mengancam Iran dengan serangan lanjutan, memicu kekhawatiran eskalasi konflik dan menghancurkan optimisme perdamaian Timur Tengah.
Harga minyak melonjak akibat gangguan pasokan dari Selat Hormuz, sementara Wall Street mengalami penurunan tajam dipimpin sektor teknologi dan AI.
Wall Street ditutup melemah tajam setelah Presiden AS, Donald Trump, kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dan mengancam akan melancarkan serangan lanjutan. Ketegangan geopolitik yang meningkat mengikis harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah. Indeks S&P 500 turun 1,6%, Nasdaq merosot 2%, sementara Dow Jones anjlok 1,9%. Di saat yang sama, harga minyak dunia melonjak akibat masih tertutupnya Selat Hormuz yang memicu gangguan pasokan energi global.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah militer AS melancarkan serangan ke Iran sebagai respons atas insiden penembakan helikopter Apache Amerika di kawasan Selat Hormuz. Trump menegaskan bahwa AS akan kembali menyerang Iran jika negosiasi tidak menunjukkan kemajuan. Pernyataan tersebut memupus optimisme yang sebelumnya muncul setelah Iran dan Israel sempat sepakat menghentikan serangan satu sama lain. Harga minyak Brent pun naik 2,4% karena pasar khawatir konflik akan semakin meluas.
Di sisi lain, data inflasi AS bulan Mei menunjukkan CPI tahunan naik menjadi 4,2%, tertinggi sejak April 2023, terutama akibat lonjakan harga energi dan bensin. Meski inflasi inti relatif lebih terkendali, kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah tetap menjadi ancaman bagi perekonomian. Investor kini memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sementara sektor teknologi dan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) juga mengalami aksi jual yang cukup besar.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Meningkatnya risiko geopolitik AS-Iran, ancaman serangan lanjutan, lonjakan harga minyak, dan inflasi yang masih tinggi meningkatkan ketidakpastian pasar. Kondisi ini mendorong investor mengurangi eksposur pada saham dan beralih ke aset defensif seperti emas serta energi. Untuk pasar saham AS, sentimennya jelas negatif karena kombinasi risiko geopolitik dan prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Emas Ambruk Lebih dari 4%: Dolar Menguat dan Ancaman Trump ke Iran Picu Gelombang Jual
Ancaman baru Trump terhadap Iran dan serangan militer AS mengurangi harapan perdamaian serta meningkatkan ketidakpastian geopolitik global.
Kenaikan inflasi energi dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama memperkuat dolar AS dan memicu tekanan besar pada harga emas.
Harga emas jatuh tajam lebih dari 4% pada perdagangan Rabu setelah dolar AS menguat dan investor melakukan aksi jual besar-besaran di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harga emas spot turun 4,4% ke level US$4.071,40 per ons, sementara kontrak berjangka emas merosot 4,5% ke US$4.095,00 per ons. Pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali mengancam akan menyerang Iran semakin mengikis harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap target Iran sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache Amerika di wilayah Selat Hormuz. Trump menegaskan bahwa Iran harus segera menyetujui kesepakatan yang telah dinegosiasikan atau menghadapi konsekuensi yang lebih berat. Konflik yang terus berlanjut juga membuat Selat Hormuz tetap terganggu, memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Di sisi ekonomi, data inflasi AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) tahunan naik menjadi 4,2% pada Mei, tertinggi sejak April 2023. Kenaikan tersebut sebagian besar didorong oleh lonjakan harga energi dan bahan bakar akibat konflik Timur Tengah. Meskipun inflasi inti masih relatif terkendali, pasar menilai Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kombinasi dolar yang lebih kuat, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan prospek kebijakan moneter yang ketat menjadi faktor utama yang menekan harga emas secara signifikan.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif:Â
- Dolar AS menguat tajam sehingga mengurangi daya tarik emas.
- Ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama meningkatkan opportunity cost kepemilikan emas.
- Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, namun pasar lebih fokus pada penguatan dolar dan prospek kebijakan moneter ketat dibanding fungsi safe haven emas.
Trump Ancam Iran Lagi, Pasar Minyak Memanas: Selat Hormuz Jadi Medan Perebutan Energi Dunia
Trump kembali mengancam Iran dan mengklaim AS menjalankan operasi rahasia di Selat Hormuz, memperbesar risiko geopolitik serta menghambat proses perdamaian.
Penurunan tajam stok minyak AS dan cadangan strategis pemerintah memperkuat kekhawatiran pasokan global, sehingga mendorong harga minyak lebih tinggi.
Harga minyak dunia kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dan menyatakan bahwa Washington siap “menghantam lebih keras” untuk hari kedua berturut-turut. Pernyataan tersebut memperburuk prospek tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran yang selama ini diharapkan dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah. Akibatnya, harga Brent naik 2,1% ke US$93,33 per barel, sementara WTI menguat 2,4% ke US$90,27 per barel.
Trump juga mengungkap adanya operasi rahasia militer AS untuk membantu kapal tanker melewati Selat Hormuz tanpa sepengetahuan Iran. Menurut Trump, operasi tersebut berhasil mengamankan lebih dari 100 juta barel minyak dan memungkinkan lebih dari 200 kapal dagang melintasi jalur energi paling vital di dunia. Namun, klaim tersebut memunculkan pertanyaan setelah Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan tidak mengetahui adanya operasi pengangkutan jutaan barel minyak tersebut.
Di sisi fundamental, pasar juga mendapat dorongan dari data persediaan minyak AS yang menunjukkan penurunan signifikan. Stok minyak komersial AS turun 7,2 juta barel, jauh lebih besar dari perkiraan pasar sebesar 3 juta barel. Sementara itu, cadangan darurat minyak AS (Strategic Petroleum Reserve/SPR) turun ke 349,2 juta barel, level terendah sejak Agustus 2023. Di saat yang sama, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah mendorong inflasi energi AS naik 23,5% secara tahunan, tertinggi sejak Agustus 2022.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif:Â
- Ketegangan AS-Iran semakin meningkat sehingga risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi.
- Selat Hormuz masih menjadi titik kritis distribusi minyak global.
- Persediaan minyak AS dan cadangan strategis terus menurun, menunjukkan pasar energi semakin ketat.
- Inflasi energi yang tinggi mengindikasikan tekanan pasokan masih berlanjut.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi EUR dan USD:
ECB Interest Rate Decision & Deposit Facility Rate
Pasar memprediksi Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga acuannya dari 2.15% menjadi 2.40%, serta suku bunga deposito dari 2.00% ke 2.25%.
Dampaknya:
Kenaikan suku bunga biasanya membuat suatu mata uang menjadi lebih menarik bagi investor karena menawarkan imbal hasil (bunga) yang lebih tinggi di bank. Berpotensi EUR (Euro) Menguat.
- PPI MoM
Data PPI (yang mengukur inflasi dari tingkat harga pabrik/produsen) diprediksi melambat cukup tajam menjadi 0.7%, turun dari bulan sebelumnya yang berada di angka 1.4%. Ini berarti tekanan harga barang mulai mendingin.
Dampaknya:
Jika inflasi melambat, Bank Sentral AS (The Fed) memiliki alasan untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut di masa depan. Berhentinya kenaikan suku bunga biasanya kurang disukai oleh investor pemburu dolar. Berpotensi USD Melemah.
- Initial Jobless Claims
Berpotensi jumlah orang AS yang baru mengajukan klaim pengangguran diprediksi turun tipis ke angka 220 ribu (220K) dari minggu sebelumnya yang mencapai 225 ribu (225K). Ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih tergolong kuat dan stabil.
Dampaknya:
Semakin sedikit orang yang menganggur, semakin baik indikasi untuk kesehatan ekonomi negara tersebut. Berpotensi USD (Dolar AS) Menguat.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
