Selat Hormuz Membara Lagi, Wall Street Goyang Ditengah Sinyal Suku Bunga Fed

  • Eskalasi Militer AS-Iran: Perjanjian damai terancam kolaps setelah AS meluncurkan serangan udara masif ke wilayah Iran, memicu aksi balasan Teheran terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.

  • Minyak Melonjak & Fed Terbelah: Harga minyak mentah Brent sempat menembus $80 per barel akibat konflik, sementara risalah FOMC menunjukkan para pejabat Fed terbelah dua dalam menentukan kelanjutan kenaikan suku bunga.

Bursa saham Wall Street ditutup bervariasi (mixed) setelah sempat melemah akibat memanasnya kembali perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran. Indeks Dow Jones merosot 1,1%, namun Nasdaq berhasil berbalik naik 0,2% berkat kebangkitan saham sektor teknologi dan chip yang berhasil menahan kejatuhan pasar lebih dalam.

Situasi geopolitik mendadak tegang setelah militer AS membombardir 80 target di Iran sebagai balasan atas serangan tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir, mengancam akan melakukan serangan susulan, serta mencabut izin ekspor minyak Iran yang langsung melambungkan harga minyak Brent ke level $80 per barel.

Di sisi lain, kecemasan pasar sedikit terobati oleh rilis risalah rapat Bank Sentral AS (The Fed) yang menunjukkan perdebatan seimbang mengenai arah suku bunga. Sebagian pejabat melihat inflasi akan turun dengan sendirinya, sementara sebagian lainnya khawatir konflik Timur Tengah dan tren AI akan kembali memicu lonjakan inflasi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Meskipun sektor teknologi berhasil bangkit di akhir perdagangan, sentimen berita ini tetap cenderung negatif karena pecahnya kembali perang bersenjata antara AS-Iran merusak kesepakatan damai, melambungkan harga energi, dan memperbesar risiko inflasi yang mempersulit posisi kebijakan moneter The Fed.

Harga Emas Ambles Lagi, Pasar Khawatir Suku Bunga Fed Terbang Akibat Efek Perang

  • Penurunan Harga Emas Dunia: Harga emas spot turun ke $4.077,52 akibat sikap agresif (hawkish) The Fed yang memproyeksikan kenaikan suku bunga baru demi melawan inflasi.

  • Ancaman Inflasi dari Sektor Energi: Eskalasi militer AS-Iran melambungkan harga minyak mentah Brent ke $80 per barel, memicu ketakutan pasar akan kenaikan suku bunga lanjutan yang menekan aset emas.

Harga emas dunia kembali merosot pada perdagangan Rabu akibat keputusan investor yang mengantisipasi sikap ketat Bank Sentral AS (The Fed) setelah rilis risalah rapat terbaru mereka. Emas spot melemah 0,7% ke level $4.077,52 per ons, sementara kontrak berjangka emas terjun bebas sebesar 1,7% ke posisi $4.086,55 per ons.

Risalah rapat menunjukkan para pejabat Fed terbelah dua, di mana sebagian besar mengkhawatirkan inflasi global akan tetap tinggi akibat konflik bersenjata di Timur Tengah. Di bawah pimpinan Ketua baru Kevin Warsh, The Fed menunjukkan sikap yang lebih galak (hawkish) dengan membuka peluang kenaikan suku bunga acuan guna meredam lonjakan harga.

Sentimen pasar kian tertekan setelah militer Amerika Serikat kembali meluncurkan serangan udara susulan ke Iran, yang langsung menerbangkan harga minyak dunia hingga menembus $80 per barel. Tingginya harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi baru, yang justru merugikan emas karena memperkuat alasan bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Sentimen bagi pergerakan emas cenderung negatif karena kombinasi risalah The Fed yang galak dan lonjakan harga minyak akibat perang justru memperbesar peluang kenaikan suku bunga AS, situasi yang secara historis selalu menekan harga aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Gencatan Senjata Gagal Total, Minyak WTI Terbang 3,5% Setelah AS Bombardir Iran
  • Minyak WTI Meroket: Harga minyak WTI terbang ke $74,50 per barel setelah AS menghancurkan lebih dari 80 target militer Iran, resmi mengakhiri gencatan senjata yang baru berjalan sepuluh hari.

  • Pasokan Mengetat & Ancaman Balasan: AS mencabut izin ekspor minyak legal Iran yang akan berlaku efektif 17 Juli, memperparah ancaman kelangkaan pasokan di tengah janji Teheran untuk menyerang balik pangkalan AS di kawasan Teluk.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3,5% ke kisaran $74,50 per barel pada perdagangan Rabu waktu setempat. Lonjakan ini dipicu oleh pecahnya kembali perang terbuka setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara masif yang menghancurkan gencatan senjata seumur jagung antara kedua negara.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menghantam lebih dari 80 target militer di sekitar Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Iran terhadap tiga kapal tanker komersial sebelumnya. Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan damai kini telah berakhir, sementara Teheran langsung membalas dengan menyerang fasilitas pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait serta mengancam aksi balasan yang jauh lebih besar.

Meskipun pasokan minyak fisik dipastikan mengetat akibat pencabutan lisensi ekspor minyak Iran oleh AS, kenaikan harga minyak kali ini dinilai masih tertahan. Pelaku pasar melihat dampak konflik ini lebih sebagai kejutan sektor energi jangka pendek (inflation input) ketimbang ancaman sistemik global, terlebih karena fokus pasar terpecah oleh sikap ketat (hawkish) Bank Sentral AS (The Fed) dan rilis data inflasi China.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif untuk harga OIL: Karena kegagalan total gencatan senjata AS-Iran berisiko mengunci pasar dalam siklus konflik yang tiada habisnya (recursion loop). Hal ini memicu lonjakan harga energi, menaikkan biaya asuransi pengiriman laut, dan menambah tekanan inflasi baru di saat The Fed masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi NZD dan USD

  • Initial Jobless Claims (USD)

Diperkirakan ada kenaikan jumlah klaim pengangguran awal dari data sebelumnya 215K menjadi 218K.
Dampak:
Berpotensi USD melemah jika data dirilis lebih besar dari forecast (mengindikasikan pengangguran bertambah), dan berpotensi menguat jika dirilis lebih kecil.

  • Existing Home Sales (Jun) (USD)

Diperkirakan ada kenaikan penjualan rumah lama dari data sebelumnya 4.17M menjadi 4.19M.
Dampak:
Berpotensi USD menguat jika data dirilis lebih besar dari forecast.

Disclaimer:
Analisis ini disusun semata-mata sebagai referensi dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi. Keputusan trading harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar, profil risiko, serta strategi masing-masing individu. Perdagangan berjangka merupakan aktivitas yang memiliki risiko tinggi, sehingga seluruh keputusan dan konsekuensi transaksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: