Tarif Trump Ketat, Pasar Resah Tapi Optimis — Sinyal Hawkish Membayangi.

Analisa Fundamental Magnetfx 8 Agustus
  • Trump tegaskan tarif baru tidak akan diperpanjang lagi setelah 1 Agustus — risiko perang dagang tetap tinggi.

  • Pasar masih relatif tenang karena yakin Trump fleksibel, namun analis melihat sinyal kebijakan tarif makin hawkish.

Indeks S&P 500 turun tipis pada hari Selasa seiring kekhawatiran pasar atas dampak ekonomi dari kebijakan tarif agresif Presiden AS Donald Trump. Dow Jones merosot 165 poin atau 0,4%, sementara S&P 500 terkoreksi 0,1%. Trump menegaskan tidak akan ada perpanjangan tenggat waktu tarif baru yang telah diundur ke 1 Agustus, sehingga ancaman perang dagang tetap terbuka jika negosiasi gagal.

Trump menetapkan tarif tinggi terhadap negara-negara Asia dan Afrika, termasuk 25% untuk Korea Selatan, Jepang, Malaysia, dan Kazakhstan; 30% untuk Afrika Selatan; dan hingga 36% untuk Thailand. Namun India dan Uni Eropa tidak mendapat surat tarif, yang menandakan peluang tercapainya kesepakatan dagang. Meski tarif ini bisa meningkatkan pendapatan negara hingga $54 miliar per tahun, pasar tetap waspada terhadap kemungkinan lonjakan tarif mendadak jika negosiasi gagal.

Analis menilai pengumuman Trump sebagai sinyal hawkish dalam arah perang dagang, meskipun belum ada aksi nyata yang mengganggu pasar secara langsung. Di sisi lain, Amazon membuka Prime Day yang diprediksi mendorong lonjakan belanja digital, dan SoFi Technologies mencetak rekor tertinggi setelah mengumumkan ekspansi ke investasi alternatif. Fokus kini beralih ke risalah rapat The Fed pada Rabu, yang akan memberi petunjuk arah suku bunga di tengah tekanan tarif.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen pasar cenderung negatif (bearish) karena ketidakpastian tinggi dari kebijakan tarif Trump yang agresif, meskipun sebagian pelaku pasar masih mengandalkan kemungkinan negosiasi lanjutan.

Trump Guncang Pasar, Emas Tertekan Meski Bank Sentral Dunia Koleksi Lagi.

  • Trump resmi memberlakukan tarif baru hingga 40% ke 14 negara dan mengancam tarif tambahan hingga 70% — memicu tekanan risiko pasar.

  • Yield obligasi dan penguatan Dolar AS menekan emas, meskipun ETF dan bank sentral terus membeli emas dalam jumlah besar.

Harga emas (XAU/USD) anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Selasa sesi Amerika, diperdagangkan di sekitar $3,297 setelah menyentuh level tertinggi $3,345. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya Dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi AS, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Padahal sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah mengirimkan surat tarif pertama kepada 14 negara dengan beban tarif antara 25% hingga 40%.

Membaiknya sentimen risiko tercermin dari penguatan indeks saham AS, setelah Trump menunda tenggat tarif dari 9 Juli ke 1 Agustus, meskipun memperingatkan bahwa tidak akan ada perpanjangan tambahan. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS 10-tahun naik menjadi 4,423%, menandakan pasar mulai menepis peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, hanya memperkirakan pelonggaran sebesar 48 basis poin pada 2025.

 

Meskipun emas tertekan secara teknikal, permintaan institusional tetap tinggi. World Gold Council melaporkan bahwa ETF emas mencatatkan arus masuk terbesar dalam lima tahun terakhir senilai $38 miliar, dengan tambahan 397 ton emas selama paruh pertama 2025. Bank Sentral China juga menambah 70.000 ton emas dalam cadangannya. Namun, tekanan dari yield obligasi dan penguatan dolar masih mendominasi arah harga saat ini.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap harga emas hari ini cenderung bearish, karena kekuatan fundamental dari penguatan Dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi AS lebih dominan dibandingkan permintaan institusional yang meningkat.

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Di Tengah Tarik Ulur Produksi dan Tarif Trump.

  • Harga minyak naik dua hari berturut-turut berkat outlook produksi AS yang lebih rendah, gangguan Laut Merah, dan tarif tembaga Trump.

  • Meskipun ada tambahan pasokan OPEC+ dan lonjakan stok API, sentimen pasar tetap kuat dengan dukungan teknikal dan kenaikan margin kilang.

Harga minyak dunia menguat ke level tertinggi dua minggu pada Selasa, didorong oleh proyeksi penurunan produksi AS, meningkatnya serangan Houthi di Laut Merah, serta berita mengejutkan dari Presiden Trump yang akan mengenakan tarif 50% pada tembaga. Brent naik 0,8% ke $70,15 dan WTI menguat 0,6% ke $68,33, menandai kenaikan dua hari berturut-turut sejak 23 Juni.

Kenaikan ini didukung sentimen pasar terhadap produksi AS yang melambat akibat harga minyak yang sebelumnya menurun, serta ketegangan geopolitik setelah serangan maut terhadap kapal tanker di Laut Merah. Pengalihan rute kapal memperbesar biaya logistik energi. Tarif baru Trump atas tembaga juga memperkuat harga komoditas, karena logam tersebut sangat penting untuk kendaraan listrik, pertahanan, dan infrastruktur.

Namun, sentimen pasar tetap dibayangi potensi peningkatan pasokan dari OPEC+ sebesar 548.000 bpd mulai Agustus. Meski laporan awal API menunjukkan stok minyak AS naik 680.000 barel pekan lalu, pasar tetap optimis karena spread margin kilang (crack spread) naik ke level tertinggi sejak Maret 2024. Analis mencatat bahwa harga minyak mampu naik meski dibayangi berita-berita bearish — menandakan kekuatan teknikal dan minat beli yang sedang dominan.

Kesimpulan Sentimen:

Bullish. Sentimen terhadap minyak cenderung positif karena kombinasi fundamental kuat, faktor geopolitik, serta kekuatan teknikal di atas level $70 per barel untuk Brent yang menjadi resistensi kunci.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Keputusan Suku Bunga RBNZ: Suku bunga diperkirakan tetap (3.25%), sehingga dampaknya mungkin Netral. Namun, pernyataan RBNZ yang menyertai keputusan tersebut bisa memberikan petunjuk tentang arah kebijakan moneter di masa depan.

Share on: