Pasar Gelisah, The Fed di Bawah Bayang-Bayang Trump.

  • Penunjukan Stephen Miran ke Dewan Gubernur The Fed menandai potensi perubahan arah kebijakan moneter ke arah lebih politis dan proteksionis.

  • Kenaikan klaim pengangguran memperkuat peluang pemangkasan suku bunga pada September, dengan pasar kini menilai probabilitasnya mencapai 94%.

Indeks S&P 500 ditutup sedikit melemah pada Kamis, turun 0,03%, setelah pulih dari tekanan awal seiring investor mencerna kabar pergantian kepemimpinan di Federal Reserve dan kekuatan berkelanjutan di sektor teknologi. Nasdaq menguat 0,4% sementara Dow Jones turun 0,5%, mencerminkan pasar yang masih mencari arah di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.

Christopher Waller mencuat sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, sementara Stephen Miran—arsitek agenda ekonomi “America First”—ditunjuk menggantikan Adriana Kugler di Dewan Gubernur The Fed. Miran dikenal sebagai pendukung kebijakan proteksionis ekstrem, yang berpotensi menggeser arah kebijakan moneter AS ke jalur yang lebih politis dan tidak konvensional.

Data klaim pengangguran mingguan yang meningkat turut memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September. Probabilitas pasar atas penurunan suku bunga melonjak menjadi 94%, dari 48% pekan lalu. Namun, potensi politisasi The Fed lewat penunjukan figur kontroversial seperti Miran menimbulkan keresahan di kalangan investor terhadap independensi bank sentral ke depan.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen pasar negatif untuk indeks saham AS — kekhawatiran atas independensi The Fed dan risiko inflasi akibat kebijakan tarif membuat investor bersikap hati-hati meski ekspektasi pemangkasan suku bunga meningkat.

Emas Bersinar di Tengah Sinyal Stagflasi dan Tarik Ulur Kebijakan The Fed.

  • Data tenaga kerja AS yang melemah dan kenaikan Continuing Claims meningkatkan kekhawatiran stagflasi, mendukung ekspektasi pemangkasan suku bunga.

  • Tarif baru Trump terhadap beberapa negara mendorong ketegangan dagang, memicu minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas (XAU/USD) menguat pada Kamis, diperdagangkan di $3.385 atau naik 0,45%, setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Klaim pengangguran mingguan naik ke 228.000, melampaui ekspektasi, sementara Continuing Claims melonjak ke level tertinggi sejak November 2021, memicu kekhawatiran akan potensi stagflasi. Kondisi ini mendorong ekspektasi pasar bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Dukungan tambahan bagi emas datang dari pelemahan imbal hasil obligasi AS dan peningkatan ketegangan dagang, menyusul diberlakukannya tarif baru oleh Presiden Donald Trump terhadap Swiss, Brasil, dan India. Kekhawatiran atas inflasi yang bertahan di tengah perlambatan ekonomi membuat investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Meski Dolar AS sempat pulih karena spekulasi penggantian Ketua The Fed, emas tetap mempertahankan kenaikannya, walau gagal menembus level psikologis $3.400.

Pernyataan dari pejabat Fed, termasuk Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic yang menyebut satu kali pemangkasan suku bunga masih relevan tahun ini, menambah keyakinan pasar akan pelonggaran moneter. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang 95% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan ketegangan global yang terus membayangi.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen bullish untuk emas — tekanan ekonomi, ekspektasi dovish The Fed, dan eskalasi risiko geopolitik memperkuat permintaan terhadap logam mulia.

Minyak Tertekan Isu Perdamaian: Harapan Damai Putin-Trump Tekan Harga.

  • Ekspektasi pertemuan Putin-Trump memicu harapan penyelesaian konflik Ukraina, menekan harga minyak global.

  • Ketegangan dagang memanas dengan tarif baru AS terhadap India, meningkatkan ketidakpastian pasar energi.

Harga minyak turun untuk hari keenam berturut-turut pada Kamis, terseret ekspektasi tercapainya resolusi damai dalam konflik Rusia-Ukraina. Brent ditutup melemah 0,7% ke $66,43 per barel, sementara WTI turun ke $63,88. Penurunan ini dipicu kabar bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump akan bertemu dalam beberapa hari ke depan, memicu spekulasi akan adanya terobosan diplomatik.

Kendati demikian, ketegangan dagang tetap membayangi pasar energi. Trump memperluas tekanan ekonomi dengan menetapkan tarif 25% terhadap barang impor India, sebagai respons atas terus berlanjutnya pembelian minyak Rusia oleh negara tersebut. India merupakan pembeli terbesar kedua minyak Rusia setelah China. Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap China, memperbesar ketidakpastian pasar.

Di sisi fundamental, pelemahan harga sedikit tertahan oleh data penurunan stok minyak AS sebesar 3 juta barel serta peningkatan harga jual Arab Saudi ke Asia. Sementara itu, meski impor minyak China turun 5,4% dari bulan sebelumnya, secara tahunan tetap naik 11,5%, menunjukkan permintaan yang solid. Namun, sentimen perdamaian dan peningkatan produksi OPEC+ sebesar 547.000 barel per hari tetap menjadi tekanan utama bagi harga minyak.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen pasar negatif untuk OIL — ekspektasi perdamaian geopolitik dan peningkatan pasokan OPEC+ menekan harga minyak, meskipun data fundamental menunjukkan pengetatan pasokan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada laporan data ekonomi yang dapat mempengaruhi sentimen terhadap pasar forex, indeks saham AS dan komoditi.

Share on: