Dolar AS Terpukul ke 99,86: Intervensi Siluman Tokyo dan Keraguan Efektivitas The Fed

  • DXY Anjlok ke 99,86 & Yen Melesat: Dolar AS merosot 1% akibat intervensi langsung pemerintah Jepang yang menjual dolar untuk menyokong Yen.

  • Skeptisisme Pasar pada The Fed: Pelaku pasar meragukan retorika hawkish Kevin Warsh, menilai penahanan suku bunga The Fed kurang efektif menekan inflasi.

Indeks Dolar AS (DXY) anjlok 1% ke level 99,86 pada perdagangan Kamis, mencatatkan penurunan harian terburuknya sejak April 2025. Pelemahannya dipicu oleh dugaan intervensi masif dari otoritas Jepang yang memborong Yen dan menjual Dolar AS dari pasar valuta asing. Langkah mendadak Tokyo ini berhasil menekan laju greenback secara signifikan di seluruh pasar global.

Pasangan USD/JPY merosot tajam hingga 2,2% ke level 159,70 usai laporan Nikkei Asia mengonfirmasi intervensi pemerintah Jepang demi menyelamatkan Yen dari rekor terendah. Di saat bersamaan, sentimen Dolar AS makin tergerus oleh skeptisisme pasar terhadap efektivitas Ketua The Fed Kevin Warsh. Investor meragukan retorika keras Warsh dalam memangkas inflasi tanpa eksekusi kenaikan suku bunga riil.

Sementara itu, Euro menguat ke $1,1525 terdorong rilis data PDB Zona Euro kuartal II yang tumbuh melampaui ekspektasi. Poundsterling juga menguat ke $1,3465 setelah Bank of England memilih menahan suku bunga acuan di level 3,75%. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman kebijakan moneter Bank of Japan pada hari Jumat untuk sinyal arah valas berikutnya.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Dolar AS menghadapi tekanan ganda dari aksi intervensi jual oleh otoritas finansial Jepang serta runtuhnya kepercayaan pasar (skeptisisme) terhadap kejelasan arah kebijakan moneter Ketua The Fed Kevin Warsh..

Emas Tembus $4.100: Lompatan Terbesar Mampu Akhiri Tren Buruk Aset Safe-Haven

  • Emas Tembus $4.100,10: Naik tajam 1,58% ($63,80) dan mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak 22 Juli.

  • Memutus Tren Penurunan: Mengakhiri pelemahan dua hari beruntun serta mengunci penguatan bulanan sebesar 1,92% selama Juli.

Harga kontrak emas berjangka pengiriman Agustus melonjak tajam $63,80 atau 1,58% hingga ditutup pada level $4.100,10 per troy ons pada perdagangan Kamis. Kenaikan signifikan ini mencatatkan rekor lonjakan harian terbesar, baik secara nominal maupun persentase, sejak pertengahan Juli lalu.

Kenaikan impresif ini secara resmi mengakhiri tren penurunan harga emas yang sempat berlangsung selama dua sesi berturut-turut. Hasil penutupan tersebut sekaligus membawa harga logam mulia ini kembali menyentuh titik tertinggi barunya dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Meskipun masih berjarak 22,91% dari rekor tertinggi sepanjang masa di $5.318,40 pada Januari lalu, emas berhasil membukukan kenaikan bulanan 1,92% sepanjang Juli. Jika dibandingkan dengan titik terendah tahun lalu, nilai komoditas safe-haven ini telah melesat hingga 24,50%.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Terjadinya rebound tajam yang menembus level psikologis $4.100 menunjukkan kembali menguatnya daya tarik emas di mata investor. Keberhasilan memutus tren penurunan dua hari dan mencetak kenaikan bulanan positif makin memperkokoh sinyal bullish bagi harga emas.

Minyak Terpeleset di Tengah Laju Perang: Diplomasi Oman Jadi Rem Volatilitas Pasar
  • Minyak Melandai ke $87,39: Brent dan WTI terkoreksi akibat optimisme pasar terhadap perundingan Iran-Oman terkait Selat Hormuz.

  • Saling Serang Militer & Anjloknya Stok AS: AS menggempur puluhan target IRGC di Iran, sementara persediaan minyak AS anjlok 7,2 juta barel ke level terendah sejak 2018.

Harga minyak dunia ditutup melandai pada perdagangan Kamis di tengah volatilitas tinggi akibat meredanya kepanikan pasar. Minyak Brent turun 0,8% ke level $87,39 per barel, sementara WTI merosot 1,1% ke $81,15 per barel. Penurunan ini dipicu oleh kabar berlangsungnya negosiasi antara Iran dan Oman mengenai skema lalu lintas di Selat Hormuz.

Meskipun diplomasi berjalan, situasi militer di lapangan justru semakin membara pasca-serangan balasan AS. Militer AS meluncurkan gelombang gempuran besar-besaran ke puluhan target Garda Revolusi Iran (IRGC) usai serangan rudal Teheran berhasil dicegat. Konflik kian meluas dengan adanya serangan drone pada kapal gas Mesir serta eskalasi blokade laut oleh milisi Houthi di Selat Bab el-Mandeb.

Di sisi pasokan, data EIA melaporkan stok minyak mentah AS anjlok mengejutkan sebesar 7,2 juta barel ke level terendah sejak 2018. Penyusutan persediaan yang sangat tajam ini menegaskan ketatnya pasokan fisik di pasar global. Namun, sinyal negosiasi lalu lintas selat berhasil menahan laju kenaikan harga minyak untuk sementara waktu.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk harga OIL: Meskipun eskalasi militer AS-Iran dan anjloknya stok AS secara fundamental bersifat bullish, rumor negosiasi pengelolaan Selat Hormuz berhasil meredakan kekhawatiran (jitters) pasar atas krisis pasokan, sehingga memicu aksi ambil untung dan menekan harga minyak turun.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

  • BoJ Interest Rate Decision (JPY)

Diperkirakan tidak ada perubahan pada tingkat suku bunga acuan dari Bank of Japan (BoJ), tetap dipertahankan di angka 1.00%.

Dampak:
Berpotensi memicu volatilitas pada JPY. Secara umum berpotensi Netral jika dirilis sesuai ekspektasi, namun JPY berpotensi menguat tajam jika data aktual dirilis lebih besar dari forecast (kejutan hawkish), dan berpotensi melemah jika dirilis lebih kecil atau jika disertai dengan pernyataan kebijakan yang sangat dovish.

  • CPI (YoY) (Jul) P (EUR)

Diperkirakan ada kenaikan awal (preliminary) pada tingkat inflasi konsumen tahunan zona Euro dari data sebelumnya 2.8% menjadi 2.9%.

Dampak:
Berpotensi EUR menguat jika data dirilis lebih besar dari forecast, karena naiknya inflasi dapat mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Berpotensi EUR melemah jika data dirilis lebih kecil dari forecast.

  • Chicago PMI (Jul) (USD)
    Tidak ada data forecast angka yang diproyeksikan untuk indeks manajer pembelian (PMI) wilayah Chicago ini, dengan data sebelumnya berada di zona ekspansi pada angka 56.7.

Dampak:
Berpotensi USD menguat jika data aktual dirilis lebih besar dari data sebelumnya, dan berpotensi USD melemah jika dirilis lebih kecil dari data sebelumnya.

Disclaimer:
Analisis ini disusun semata-mata sebagai referensi dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi. Keputusan trading harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar, profil risiko, serta strategi masing-masing individu. Perdagangan berjangka merupakan aktivitas yang memiliki risiko tinggi, sehingga seluruh keputusan dan konsekuensi transaksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: