Wall Street Cetak Rekor Baru Saat Pasar Bertaruh pada Damai AS-Iran

  • Wall Street mencetak rekor tertinggi baru setelah muncul laporan kesepakatan awal damai AS-Iran.

  • Inflasi AS tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi melambat, memperkecil peluang penurunan suku bunga The Fed.

Wall Street kembali ditutup menguat pada perdagangan Kamis dengan ketiga indeks utama mencetak rekor tertinggi baru. S&P 500 naik 0,6% ke level 7.563, Nasdaq melonjak 0,9% ke 26.917, sementara Dow Jones menguat tipis 0,1%. Sentimen pasar membaik setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai memorandum awal gencatan senjata 60 hari yang mencakup pembukaan jalur pelayaran Selat Hormuz dan negosiasi program nuklir Iran, meski masih menunggu persetujuan akhir Presiden Donald Trump.

Pasar sempat bergerak volatil setelah data inflasi PCE Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Inflasi inti PCE tahunan naik ke 3,3%, sementara headline PCE mencapai 3,8%, tertinggi sejak Mei 2023. Di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama direvisi turun menjadi 1,6%, memunculkan kekhawatiran kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed semakin menipis dan mendorong imbal hasil obligasi tetap tinggi.

Di tengah optimisme damai, konflik militer AS-Iran ternyata belum benar-benar mereda. Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik dan drone ke wilayah sekitar Kuwait serta memperingatkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz tanpa pengawasan Iran. Meski demikian, investor tetap fokus pada peluang tercapainya kesepakatan besar yang dapat mengakhiri perang dan memulihkan aliran energi global. Harapan tersebut membuat harga minyak memangkas kenaikan tajam sebelumnya dan menopang sentimen risk-on di pasar saham global.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif untuk indeks saham AS: Pasar menyambut positif peluang deeskalasi konflik AS-Iran dan potensi normalisasi Selat Hormuz, namun inflasi tinggi dan ketidakpastian geopolitik masih membatasi optimisme secara penuh.

 

Emas Bertahan Naik di Tengah Drama Gencatan Senjata AS-Iran dan Ancaman Inflasi Global

  • AS dan Iran dikabarkan sepakat memperpanjang gencatan senjata 60 hari, namun detail kesepakatan masih belum final.

  • Pasar minyak sangat volatil akibat tarik-ulur negosiasi damai dan risiko geopolitik Timur Tengah.

Harga minyak dunia ditutup mixed pada perdagangan Kamis setelah pasar menghadapi sinyal yang saling bertentangan terkait negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak Brent kontrak Juli turun 0,6% ke US$93,71 per barel, sementara WTI justru ditutup naik tipis 0,3% ke US$88,90. Volatilitas tinggi terjadi karena pasar terus bereaksi terhadap setiap perkembangan terkait peluang berakhirnya perang Iran dan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz yang masih sangat terbatas aktivitasnya.

Laporan Reuters dan Axios menyebut kedua pihak telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, meskipun masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump. Namun, media Iran menyatakan dokumen kesepakatan tersebut belum final dan belum dikonfirmasi resmi. Ketidakpastian semakin meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang pangkalan udara AS sebagai balasan atas serangan Amerika di Bandar Abbas, sementara AS membantah laporan Iran terkait jatuhnya pesawat militernya di Bushehr.

Pasar minyak kini menjadi sangat sensitif terhadap headline geopolitik Timur Tengah dibanding data fundamental. Meski stok minyak mentah AS kembali turun untuk minggu keenam berturut-turut, perhatian trader tetap tertuju pada perkembangan negosiasi AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz. Aktivitas kapal tanker memang mulai meningkat, tetapi masih jauh di bawah level normal sebelum perang, sehingga risiko gangguan pasokan global masih membayangi pasar energi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Harapan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz menekan premi risiko minyak, tetapi ketidakpastian negosiasi dan ancaman konflik lanjutan masih menahan penurunan lebih dalam.

Minyak Bergejolak di Tengah Drama Gencatan Senjata AS-Iran: Pasar Masih Dilanda Ketidakpastian

  • Harga minyak Brent dan WTI jatuh lebih dari 5% akibat optimisme perdamaian AS-Iran.

  • Aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz mulai meningkat, memicu harapan pemulihan pasokan energi global.

Harga minyak dunia anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Rabu dan menyentuh level terendah dalam lebih dari satu bulan terakhir. Minyak Brent ditutup turun ke US$94,29 per barel, sementara WTI melemah ke US$88,68 per barel. Penurunan tajam ini dipicu meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang selama ini terganggu akibat konflik berkepanjangan.

Pernyataan pejabat tinggi AS dan Iran memperlihatkan adanya kemajuan negosiasi meski kedua pihak masih mengakui sejumlah isu penting belum terselesaikan. Pasar juga mulai merespons positif meningkatnya aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz setelah beberapa kapal minyak berhasil melintasi kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa aliran energi global perlahan akan kembali normal sehingga premi risiko pasokan minyak dunia mulai berkurang.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar. Serangan baru AS ke Iran serta meningkatnya ketegangan Israel-Lebanon sempat menekan optimisme perdamaian. Namun, pasar lebih fokus pada potensi pemulihan pasokan minyak global dibanding risiko konflik lanjutan. Di sisi lain, muncul tanda pelemahan permintaan energi setelah maskapai-maskapai besar India memangkas jadwal penerbangan domestik, menambah tekanan terhadap harga minyak di tengah prospek pasokan yang mulai membaik.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dan normalisasi pasokan energi menekan premi risiko geopolitik, sehingga harga minyak turun tajam dan pasar global menjadi lebih optimistis terhadap stabilitas ekonomi serta inflasi.

 

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Chicago PMI (May) – USD

Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Chicago mengukur tingkat kesehatan ekonomi di sektor manufaktur khusus untuk wilayah Chicago. Angka ini diproyeksikan naik ke level 50.6 dari data bulan sebelumnya di level 49.2.

Dampak:
Bullish USD. Angka forecast yang berhasil menembus kembali ke atas ambang batas 50.0 mengindikasikan bahwa sektor manufaktur di wilayah tersebut telah kembali masuk ke zona ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi (di bawah 50.0). Jika rilis aktual sesuai atau lebih tinggi dari perkiraan, hal ini akan memberikan katalis positif lanjutan bagi penguatan Dolar AS menjelang penutupan pasar akhir pekan.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: