Wall Street Bersorak: S&P 500 Cetak Rekor Setelah AS dan Jepang Sepakat Soal Dagang.

Analisa Fundamental Magnetfx 8 Agustus
  • AS dan Jepang capai kesepakatan dagang, tarif ditetapkan 15% dengan janji investasi besar Jepang di AS.

  • Ekspektasi kesepakatan AS-Uni Eropa meningkat, berpotensi menghindari tarif besar yang bisa memicu konflik perdagangan.

Indeks S&P 500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi pada Rabu (10/07), didorong sentimen positif dari kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang. Dow Jones melonjak 507 poin atau 1%, S&P 500 naik 0,8%, dan Nasdaq menguat 0,6%, mencerminkan optimisme investor bahwa pemerintahan Trump bisa mencapai kesepakatan dagang tambahan, terutama dengan Uni Eropa, sebelum tenggat tarif 1 Agustus.

Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Jepang akan menghadapi tarif 15% — lebih rendah dari ancaman awal sebesar 25% — serta akan menginvestasikan $550 miliar di AS. Jepang juga sepakat membuka pasar domestiknya untuk produk pertanian dan otomotif AS. Trump menyatakan bahwa pembicaraan lanjutan dengan Uni Eropa dijadwalkan segera, memberi harapan bahwa tarif 30% terhadap barang-barang Eropa bisa dihindari.

Meski pasar merespons positif, risiko tetap ada. Negara-negara Eropa siap memberikan balasan tarif jika kesepakatan tidak tercapai. Namun, langkah maju dalam perundingan dengan Jepang dan sinyal terbuka dari Uni Eropa memperkuat kepercayaan investor bahwa risiko perang dagang besar bisa dihindari.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif (bullish) mendominasi pasar saham, didukung harapan bahwa kesepakatan dagang lanjutan akan tercapai dan mengurangi ketidakpastian global.

Harga Emas Tertekan di Bawah $3.400 Akibat Sinyal Kesepakatan Dagang AS-EU.

  • Harga emas melemah tajam setelah laporan Financial Times menyebut AS dan EU hampir capai kesepakatan dagang.

  • Imbal hasil obligasi AS naik dan data ekonomi AS bervariasi, tapi ekspektasi suku bunga tetap memberi batasan tekanan terhadap emas.

Harga emas (XAU/USD) turun lebih dari 1,2% ke $3.387 setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (EU) mendekati kesepakatan dagang baru, menyusul kesepakatan serupa yang telah dicapai AS dengan Jepang. Meskipun nilai Dolar AS sedikit melemah — biasanya menjadi angin segar bagi emas — kabar perjanjian dagang justru memicu aksi ambil untung dan menekan harga emas sejak sesi Asia. Perjanjian ini dikabarkan akan memberlakukan tarif 15% untuk beberapa barang EU, dan kedua belah pihak akan menghapus tarif pada produk tertentu seperti pesawat, minuman keras, dan alat medis.

Sinyal positif dari hubungan dagang AS-EU datang di tengah rilis data ekonomi AS yang cenderung bervariasi. Penjualan rumah existing pada Juni turun 2,7%, namun imbal hasil obligasi AS naik, dengan yield obligasi 10 tahun mencapai 4,384%, turut mendorong naiknya imbal hasil riil. Di sisi lain, data pengangguran mingguan dan pesanan barang tahan lama yang akan dirilis menjadi perhatian pelaku pasar, dengan ekspektasi pesanan barang tahan lama anjlok tajam dari bulan sebelumnya.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin kecil, dengan probabilitas 94% bank sentral akan mempertahankan suku bunga di pertemuan akhir Juli. Hal ini seharusnya menjadi katalis bagi emas, namun fokus pasar saat ini tertuju pada perkembangan geopolitik dan perdagangan global, yang justru membatasi minat terhadap aset safe haven seperti emas.

Kesimpulan Sentimen:

 Sentimen bearish (negatif) untuk emas dalam jangka pendek, didorong oleh meredanya ketegangan dagang dan meningkatnya minat terhadap aset berisiko.

Minyak Terjebak di Tengah Deal Dagang dan Ketegangan Geopolitik.

  • Penurunan stok minyak AS dan lonjakan ekspor memberi sinyal bullish dari sisi pasokan.

  • Ketidakpastian kesepakatan dagang AS-UE dan potensi sanksi minyak Rusia memicu kekhawatiran pasar.

Harga minyak cenderung stagnan pada Rabu karena investor mencerna perkembangan perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat, menyusul kesepakatan tarif baru antara Presiden AS Donald Trump dan Jepang. Brent ditutup turun tipis 0,12% di $68,51 per barel, sementara WTI turun 0,09% ke $65,25. Kesepakatan AS-Jepang dinilai menjadi template untuk deal dagang negara lain, namun pelaku pasar masih khawatir soal negosiasi AS dengan Uni Eropa dan China.

Uni Eropa menyatakan siap mengajukan tarif balasan senilai €93 miliar terhadap barang-barang AS, sebagai respons atas ancaman tarif 30% yang direncanakan mulai 1 Agustus. Walau kompromi tarif 15% disepakati untuk sementara, pasar tetap resah karena ketidakpastian hasil akhir pembicaraan. Di sisi lain, data EIA menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 3,2 juta barel—dua kali lipat dari ekspektasi pasar, didorong oleh lonjakan ekspor dan penurunan impor, yang dinilai sebagai sinyal bullish oleh pelaku pasar.

Selain itu, pernyataan dari Menteri Energi AS tentang kemungkinan sanksi terhadap minyak Rusia memperkuat sentimen kenaikan, seiring UE mengesahkan paket sanksi ke-18 terhadap Rusia. Meski demikian, sentimen pasar masih terbebani oleh kekhawatiran stagnasi kesepakatan dagang dengan mitra besar seperti China dan UE.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen cenderung bullish karena kombinasi data stok minyak yang menguat dan potensi eskalasi geopolitik (sanksi minyak Rusia), meskipun dibayangi ketidakpastian negosiasi dagang.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • Keputusan ECB (EUR): Suku bunga diperkirakan Tetap. sehingga Netral. Yang Penting Konferensi Pers

  • Jobless Claims (USD): Klaim pengangguran yang lebih tinggi (⬆️), sehingga USD Berpotensi Turun

  • PMI (USD): PMI Manufaktur menurun (⬇️),

  • PMI Jasa meningkat (⬆️) = dampaknya campuran, perlu diperhatikan mana yang lebih kuat.

  • New Home Sales (USD): Penjualan rumah baru yang lebih tinggi (⬆️) dari sebelumnya bisa mendukung USD.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: