Dolar di Ujung Taktik: Goldman Sachs Prediksi Reversal Setelah Kenaikan Juli.

  • Goldman Sachs menilai kekuatan Dolar saat ini bersifat sementara, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga akan mempercepat pelemahannya.

  • Ketidakpastian kebijakan dan tensi tarif AS-EU berisiko memperburuk performa aset-aset AS dan menggeser aliran modal ke luar negeri.

Goldman Sachs memperingatkan bahwa kekuatan taktis Dolar AS saat ini menunjukkan tanda-tanda kerentanan dan bisa segera berbalik arah (investing.com). Meskipun pemulihan dolar didorong oleh kinerja unggul aset AS, bank investasi ini menilai tren itu tidak akan bertahan lama karena diversifikasi global dan ketidakpastian kebijakan semakin dominan. Indeks Dolar AS naik 1,7% pada Juli, setelah anjlok sekitar 12% di paruh pertama 2025.

Goldman mencatat bahwa reaksi dolar terhadap isu tarif dan potensi perubahan pimpinan The Fed memicu keraguan investor asing terhadap alokasi aset AS. Korelasi tidak stabil antara dolar dan pasar saham mendorong arus lindung nilai (hedging) yang lebih besar. Selain itu, data inflasi yang lebih lembut dibanding ekspektasi pasar membuat Goldman yakin The Fed tetap berhati-hati dan kemungkinan akan memotong suku bunga tahun ini.

Sementara itu, sentimen konsumen AS menurut survei University of Michigan menunjukkan perbaikan, namun data earnings dari emiten besar seperti 3M dan American Express mengecewakan investor. Kegagalan saham-saham unggulan mempertahankan momentum dan kerasnya sikap Presiden Trump terhadap tarif perdagangan membuat indeks Dow Jones kembali melemah, memicu kekhawatiran terhadap prospek jangka pendek aset AS secara keseluruhan.

Kesimpulan Sentimen:

Dari keseluruhan analisis, sentimen terhadap Dolar AS cenderung negatif (bearish), dengan tanda-tanda pelemahan struktural meski saat ini mengalami kenaikan sementara. Goldman Sachs, data pasar, serta perkembangan geopolitik mendukung pandangan bahwa kekuatan dolar tidak berkelanjutan.

Dolar Loyo, Emas Bersinar: Optimisme Dovish The Fed Angkat Harga XAUUSD.

  • Komentar dovish pejabat The Fed mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga, menekan imbal hasil dan dolar AS.

  • Proyeksi bullish dari Bernstein menyebut harga emas berpotensi mencapai $3.700 per ons pada 2026, mengandalkan model berbasis kebijakan, bukan fundamental komoditas.

Harga emas naik tipis pada Jumat (18 Juli 2025) seiring pelemahan Dolar AS dan pernyataan dovish dari pejabat The Fed yang memicu ekspektasi penurunan suku bunga. XAU/USD menguat 0,43% ke level $3.353, ditopang aksi ambil untung menjelang akhir pekan serta komentar dari Gubernur Fed Christopher Waller yang mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Data University of Michigan menunjukkan meningkatnya optimisme konsumen AS dan ekspektasi inflasi yang melandai. Imbal hasil obligasi AS turun setelah pernyataan Waller, sementara indeks DXY jatuh 0,13% ke 98,48, mendukung harga emas karena pelemahan dolar membuatnya lebih murah bagi pembeli global.

Sementara itu, analis Bernstein menyatakan bahwa pendekatan lama dalam memprediksi harga emas telah usang, dan memproyeksikan harga bisa menyentuh $3.700/oz pada 2026. Faktor utama penentu harga emas kini bukan lagi pasokan-permintaan, melainkan arah kebijakan moneter global dan pergeseran cadangan emas bank sentral.

Kesimpulan Sentimen:

Emas bergerak naik didorong oleh ekspektasi pelonggaran moneter, melemahnya dolar, dan pandangan jangka panjang yang positif dari analis besar seperti Bernstein. Sentimen pasar terhadap XAU/USD saat ini mengarah positif (bullish).

Minyak Diam di Tengah Badai: Tarik Ulur Sentimen AS-EU dan Sanksi Rusia.

  • Harga minyak stagnan karena ketidakpastian ekonomi dan tarif AS-EU, serta reaksi pasar yang lemah terhadap sanksi baru Eropa terhadap Rusia.

  • Peluang pemangkasan suku bunga AS bisa mendukung permintaan minyak, tetapi tekanan dari kebijakan tarif dan inflasi masih membayangi.

Harga minyak mentah dunia ditutup sedikit lebih rendah pada Jumat (18 Juli 2025), dipengaruhi oleh kabar ekonomi AS yang beragam serta kekhawatiran pasokan akibat sanksi baru Uni Eropa terhadap Rusia. Brent turun 24 sen ke $69,28 per barel dan WTI turun 20 sen ke $67,34, menjadikan penurunan mingguan sekitar 2% untuk kedua acuan.

Data AS menunjukkan penurunan tajam pembangunan rumah tunggal ke level terendah 11 bulan, menandakan pelemahan sektor perumahan akibat suku bunga tinggi. Namun, sentimen konsumen membaik dan ekspektasi inflasi turun, membuka peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga — sebuah faktor yang dapat mendorong permintaan minyak.

Di sisi geopolitik, sanksi ke-18 Uni Eropa terhadap Rusia menargetkan sektor minyak dan energi, termasuk larangan impor produk olahan dari minyak Rusia. Pasar bereaksi datar, mencerminkan skeptisisme bahwa sanksi baru ini akan efektif. Chevron juga menuntaskan akuisisi besar senilai $55 miliar terhadap Hess, memberi akses strategis ke ladang minyak raksasa di Guyana.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen pasar terhadap harga minyak cenderung negatif (bearish). Meskipun ada potensi kenaikan permintaan dari pemangkasan suku bunga, tekanan dari kebijakan tarif agresif AS, efektivitas sanksi yang dipertanyakan, serta pelemahan sektor properti AS memberikan tekanan turun bagi harga minyak saat ini.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada laporan data ekonomi hari ini yang mempengaruhi perubahan sentimen terhadap pergerakan harga komoditi, forex dan indeks saham AS.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: