Drama Trump vs. Powell: Wall Street Naik, Tapi Ketidakpastian Masih Membayangi.

  • Trump menyangkal kabar akan memecat Powell, tetapi tetap menekan The Fed agar menurunkan suku bunga drastis.

  • Inflasi konsumen dan produsen mencerminkan dampak awal dari tarif, memperkuat sikap wait-and-see The Fed.

Wall Street ditutup lebih tinggi pada Rabu setelah Presiden Donald Trump membantah laporan bahwa ia akan segera memecat Ketua The Fed, Jerome Powell. Indeks S&P 500 naik 0,3% ke rekor baru, didukung oleh rebound pasar setelah penyangkalan Trump meredakan kekhawatiran pasar yang sempat goyah. Namun, Trump tetap mengkritik Powell karena mempertahankan suku bunga tinggi dan proyek renovasi Fed yang dinilainya boros.

Data inflasi produsen AS pada Juni menunjukkan stabilitas dengan kenaikan tahunan 2,3%, melambat dari 2,7% pada Mei. Sementara itu, data konsumen sehari sebelumnya menunjukkan harga konsumen naik lebih cepat dari perkiraan, mendorong spekulasi bahwa tarif dagang mulai mempengaruhi inflasi. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang, sambil menunggu dampak penuh dari kebijakan tarif Trump.

Ketidakpastian meningkat menyusul ancaman tarif tambahan dari Trump, termasuk rencana menerapkan tarif 200% untuk impor farmasi dan 19% untuk barang dari Indonesia. Trump juga menekan The Fed untuk memangkas suku bunga hingga 300 basis poin, sesuatu yang tidak realistis namun mencerminkan tekanan politik terhadap kebijakan moneter. Pasar kini terjebak dalam dilema antara tekanan politik dan sinyal fundamental ekonomi yang bertentangan.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen pasar tetap cenderung bearish terhadap arah kebijakan moneter jangka pendek karena meningkatnya ketidakpastian politik dan inflasi yang membandel, membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga sulit terealisasi dalam waktu dekat.

Powell, Politik, dan PPI: Emas Kembali Bersinar di Tengah Gejolak Fed.

  • Ketidakpastian politik terkait posisi Powell dan pernyataan Trump mendorong minat investor terhadap emas sebagai aset aman.

  • Data PPI yang lebih lemah dari ekspektasi memberi harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter The Fed, namun CPI yang tinggi tetap menahan optimisme pasar.

Harga emas naik 0,78% selama sesi perdagangan Amerika, didorong oleh ketidakpastian politik di AS setelah laporan bahwa Presiden Donald Trump mempertimbangkan pemecatan Ketua The Fed Jerome Powell. Meskipun Trump membantah rencana tersebut, pernyataannya memicu sentimen risk-off dan mendorong harga emas (XAU/USD) ke level tertinggi harian di $3.377 sebelum stabil di sekitar $3.348. Trump bahkan menyebut Menteri Keuangan Scott Bessent sebagai kandidat potensial pengganti Powell, menambah kekhawatiran pasar soal independensi kebijakan moneter.

Data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi di tingkat produsen mulai mereda. Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada Juni hanya naik 2,3% secara tahunan, di bawah ekspektasi 2,5% dan turun dari bulan sebelumnya. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa tekanan harga mulai melunak, memberikan peluang bagi The Fed untuk bersikap lebih dovish. Namun, CPI yang dirilis sehari sebelumnya masih menunjukkan inflasi yang tinggi, dengan angka tahunan sebesar 2,9%, membatasi ruang gerak emas untuk menembus $3.400.

Selain faktor domestik, ketegangan geopolitik seperti serangan Israel ke Suriah dan kesepakatan dagang antara AS dan Indonesia turut memengaruhi arah harga emas. Di sisi permintaan fisik, data menunjukkan impor emas India turun 40% pada Juni akibat harga tinggi. Secara keseluruhan, pasar kini fokus pada laporan Retail Sales, data tenaga kerja, dan sentimen konsumen AS, sembari mencermati arah kebijakan The Fed di tengah tekanan politik yang meningkat.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap emas tetap bullish jangka pendek karena kombinasi ketidakpastian politik, meredanya inflasi produsen, dan kekhawatiran terhadap independensi The Fed mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Minyak Melemah Tipis: Antara Persediaan AS dan Tekanan Tarif Trump.

  • Stok bensin dan distilat AS melonjak tajam, menekan harga meskipun stok minyak mentah menurun lebih besar dari perkiraan.

  • Ketidakpastian akibat kebijakan tarif Trump dan ancaman pemecatan Ketua The Fed mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga, yang bisa menjadi katalis positif untuk permintaan energi ke depan.

Harga minyak dunia ditutup sedikit lebih rendah pada Rabu karena kekhawatiran atas lonjakan stok bahan bakar AS dan dampak ekonomi dari kebijakan tarif Presiden Trump menekan sentimen pasar, meski ada sinyal permintaan meningkat. Brent turun 0,3% ke $68,52 per barel, sementara WTI melemah 0,2% ke $66,38. Laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok bensin naik 3,4 juta barel dan distilat naik 4,2 juta barel, jauh di atas ekspektasi. Sebaliknya, stok minyak mentah turun 3,9 juta barel, lebih dalam dari perkiraan.

Kekecewaan pasar makin terasa karena turunnya permintaan bensin saat musim puncak berkendara musim panas, serta kapasitas kilang yang mendekati 94% turut meningkatkan stok produk olahan. Ketidakpastian tambahan muncul dari rencana Trump memberlakukan tarif baru pada Rusia dan ancaman balasan dari Uni Eropa, menambah tekanan atas permintaan energi global. Di sisi lain, spekulasi pemecatan Ketua The Fed Jerome Powell memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga, yang bisa mendukung aktivitas ekonomi dan permintaan energi ke depan.

OPEC tetap optimistis bahwa ekonomi global membaik pada semester kedua 2025, terutama didukung China, India, dan Brasil. Sementara itu, permintaan minyak China diperkirakan meningkat 400.000 barel per hari pada paruh pertama tahun ini. Namun, pasokan terganggu akibat serangan drone di ladang minyak Kurdistan yang memangkas produksi hingga 150.000 barel per hari. Dengan latar belakang ini, harga minyak cenderung stabil namun rapuh, di tengah tarik-menarik antara fundamental permintaan dan ketegangan geopolitik serta kebijakan perdagangan AS.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap minyak saat ini cenderung netral-ke-negatif karena tekanan dari lonjakan stok bahan bakar AS dan ketidakpastian tarif global masih membayangi prospek permintaan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • CPI EUR: Inflasi yang lebih tinggi (⬆️) dapat mendukung EUR.

  • Retail Sales USD: Pemulihan dari kontraksi sebelumnya diprediksi Naikkan USD

  • Initial Jobless Claims (USD): Klaim yang lebih tinggi (⬇️) berpotensi menekan USD.

  • Philadelphia Fed Manuf. Index (USD): Peningkatan di atas negatif mengindikasikan Perlambatan sehingga USD potensial naik

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: