Nasdaq Melejit, Trump Menggertak, The Fed Terpecah!
Nasdaq mencetak rekor baru didorong lonjakan saham Nvidia yang tembus $4T.
Trump memperkuat retorika tarif baru hingga 50% pada tembaga dan memanaskan tensi dengan The Fed.
Pasar saham AS ditutup menguat pada Rabu, dengan Nasdaq mencetak rekor tertinggi baru di 20.611,34 meski Presiden Donald Trump kembali memanaskan tensi dagang global. Saham Nvidia melonjak 2% hingga menembus kapitalisasi pasar $4 triliun untuk pertama kalinya, memimpin reli sektor teknologi. Sementara itu, Dow Jones naik 217 poin dan S&P 500 bertambah 0,6%.
Trump memperkuat ancaman tarif impor, termasuk potensi tarif 50% untuk tembaga, serta kemungkinan pungutan tambahan pada farmasi dan semikonduktor. Meski begitu, ia mengklaim bahwa negosiasi dengan Uni Eropa dan China berjalan baik. Dari sisi The Fed, risalah rapat FOMC menunjukkan mayoritas anggota masih mendukung pemangkasan suku bunga tahun ini, namun muncul perbedaan pandangan soal waktu dan urgensinya, memicu ketegangan dengan Trump yang terus mendesak penurunan suku bunga dan menyerang ketua The Fed, Jerome Powell.
Meskipun ekspektasi penurunan suku bunga tetap ada, data tenaga kerja AS yang solid dan kekhawatiran inflasi akibat tarif membuat The Fed cenderung bersikap hati-hati. Strategi Trump yang agresif di ranah perdagangan juga memberi tekanan pada pasar global, meskipun investor tampak percaya bahwa sektor teknologi, terutama AI, akan tetap tumbuh kuat. Goldman Sachs sendiri memperkirakan ruang kenaikan pasar saham saat ini terbatas karena valuasi tinggi dan risiko ekonomi makro yang meningkat.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen pasar jangka pendek cenderung bearish karena risiko ketegangan dagang global meningkat dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed membebani prospek ekonomi.
Tarif Naik, Yield Turun — Emas Mulai Bangkit Lagi!
Yield Treasury AS turun tajam, mendukung kenaikan harga emas.
Gelombang baru tarif dagang dari Trump memicu permintaan aset aman.
Harga emas menguat pada Rabu ke level $3.312 per ons, naik 0,31%, didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi AS meskipun dolar AS masih bertahan kuat. Penurunan yield Treasury 10-tahun sebesar 6 bps ke 4,342% dan yield riil ke 1,992% meningkatkan daya tarik logam mulia yang tidak berimbal hasil. Dukungan tambahan datang dari notulen FOMC terbaru, yang mengindikasikan mayoritas pejabat The Fed masih melihat peluang pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps di tahun 2025.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali meluncurkan gelombang tarif baru, termasuk rencana tarif tambahan 10% terhadap negara-negara yang dianggap pro-BRICS, serta bea masuk 20–50% terhadap negara seperti Filipina, Brasil, Moldova, dan lainnya. Ancaman tarif sebesar 50% pada impor tembaga juga turut mendongkrak harga logam tersebut, menambah ketegangan geopolitik dan ekonomi global yang memicu permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Dari sisi permintaan, World Gold Council mencatat bahwa ETF emas menarik arus masuk terbesar dalam lima tahun terakhir, dengan tambahan 397 ton selama paruh pertama 2025. China pun terus menambah cadangan emasnya, dengan akumulasi lebih dari 1 juta ons sejak November lalu. Meskipun tekanan dari dolar masih ada, kuatnya permintaan fisik dan institusional menjaga arah kenaikan harga emas tetap hidup.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen emas saat ini bullish, dengan dukungan dari penurunan imbal hasil, eskalasi ketegangan dagang global, dan arus masuk besar ke ETF emas.Â
Permintaan BBM Menggila, Red Sea Membara, Harga Minyak Tetap Tahan Banting!
Permintaan bensin AS naik tajam 6% meski stok minyak mentah bertambah drastis.
Ketegangan Laut Merah & ancaman tarif tembaga 50% turut memberi sentimen positif pada harga energi.
Harga minyak tetap stabil pada Rabu meski pasar diterpa kabar besar. Brent naik tipis ke $70.19 dan WTI ke $68.38 per barel, didukung oleh lonjakan permintaan bensin AS sebesar 6% menjadi 9,2 juta barel per hari serta ketegangan yang meningkat di Laut Merah akibat serangan Houthi yang menenggelamkan dua kapal.
Data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS justru naik 7,1 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan, namun penurunan stok bensin dan distilat memberikan sinyal kuatnya konsumsi energi. Selain itu, proyeksi penurunan produksi minyak AS di 2025 akibat harga yang lesu memberi dukungan pada harga.
Dari sisi geopolitik dan kebijakan, Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 50% untuk impor tembaga guna mendongkrak produksi dalam negeri, sementara OPEC+ tetap pada jalur peningkatan produksi 548.000 barel per hari untuk Agustus. Menurut Menteri Energi UEA, pasar global masih mampu menyerap tambahan pasokan tanpa menimbun stok, menandakan permintaan masih tinggi.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen harga minyak jangka pendek cenderung bullish karena lonjakan permintaan energi AS, ketegangan geopolitik, dan pasokan OPEC+ yang tetap terserap pasar.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi EUR dan USD:
CPI Jerman (EUR): Perkiraan lebih rendah, yang menunjukkan EUR berpotensi melemah (Turun)
Initial Jobless Claims (USD): Klaim Pengangguran Diprediksi Naik yang akan menekan USD (Turun).
