Pidato Powell di Jackson Hole Akan Menguji Keyakinan Pasar terhadap Pemangkasan Suku Bunga September.
Probabilitas pemangkasan suku bunga September turun drastis karena inflasi panas dan komentar hawkish pejabat Fed.
Saham AS tertekan oleh kekhawatiran ekonomi, lemahnya sektor teknologi, dan data tenaga kerja yang melemah.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan September merosot tajam, dari 99% menjadi 71,5%, setelah data inflasi produsen (PPI) yang lebih panas dari perkiraan dan komentar hawkish dari pejabat Fed. Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid menegaskan inflasi masih terlalu tinggi dan “pekerjaan belum selesai,” sementara Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menilai kondisi saat ini tidak mendukung pemotongan suku bunga bulan depan. Pasar kini menunggu sinyal dari pidato Jerome Powell di simposium Jackson Hole.
Pasar saham AS tertekan menjelang acara tersebut. S&P 500 mencatat penurunan lima hari beruntun, dipimpin pelemahan sektor ritel dan teknologi. Walmart jatuh meski meningkatkan proyeksi tahunan, sementara sektor teknologi ditekan oleh laporan MIT yang menyebut 95% perusahaan belum merasakan imbal hasil dari investasi AI. Investor juga mencermati data klaim pengangguran mingguan yang naik di atas ekspektasi, menambah bukti pelemahan pasar tenaga kerja.
Dengan kombinasi inflasi yang membandel, keraguan atas prospek AI, serta tekanan pada pasar tenaga kerja, pasar menghadapi ketidakpastian tinggi. Powell diperkirakan tidak memberi sinyal pasti soal pemotongan suku bunga, melainkan menjaga fleksibilitas kebijakan.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk indeks saham AS – Turunnya peluang dari 99% ke 71,5% menunjukkan pasar mulai kehilangan keyakinan pada dovish Fed. Hal ini biasanya menguatkan dolar dan menekan aset berisiko, termasuk saham dan emas.
Emas Tertekan Menjelang Jackson Hole, Data AS Perkuat Nada Hawkish The Fed.
PMI AS menunjukkan ekspansi kuat dan berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, memperkuat argumen kebijakan Fed tetap ketat.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga September terus menurun, melemahkan daya tarik emas.
Harga emas melemah ke $3,339 per ons pada Kamis, turun 0,30%, di tengah data ekonomi AS yang solid dan komentar hawkish pejabat Federal Reserve menjelang pidato Jerome Powell di simposium Jackson Hole. PMI manufaktur dan jasa AS mencatat ekspansi di atas perkiraan, dengan S&P Global menilai laju ekonomi berpotensi tumbuh 2,5% tahunan, lebih cepat dari paruh pertama tahun ini. Lonjakan aktivitas bisnis ini memicu kekhawatiran inflasi masih akan menanjak.
Data ketenagakerjaan AS menunjukkan klaim pengangguran awal naik ke 235.000, di atas ekspektasi, sementara klaim lanjutan menyentuh level tertinggi sejak 2021. Meski demikian, pejabat Fed tetap menekankan inflasi sebagai risiko utama. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menegaskan kebijakan harus tetap restriktif, sementara Kansas City Fed Jeffrey Schmid dan Atlanta Fed Raphael Bostic sama-sama menyoroti bahwa inflasi masih jauh dari target 2%. Hal ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga September turun dari 85% menjadi hanya 72%.
Dengan data ekonomi yang kuat, inflasi yang diperkirakan tetap tinggi, serta pejabat Fed yang cenderung hawkish, pasar emas menghadapi tekanan tambahan. Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut menekan daya tarik emas non-yielding.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Tekanan politik Trump terhadap Fed melemahkan dolar AS dan meningkatkan ketidakpastian kebijakan moneter, sehingga mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Minyak Menguat ke Level Tertinggi 2 Pekan, Didukung Risiko Geopolitik dan Stok AS Menyusut.
Konflik Rusia–Ukraina kembali memanas, memicu potensi sanksi baru dan meningkatkan “geopolitical premium” pada harga minyak.
Stok minyak mentah AS turun jauh lebih besar dari perkiraan, menegaskan kuatnya permintaan di konsumen minyak terbesar dunia.
Harga minyak naik hampir satu dolar per barel pada Kamis, didorong oleh ketegangan baru antara Rusia dan Ukraina serta data permintaan kuat dari Amerika Serikat. Brent ditutup menguat 1,2% di $67,67 per barel, sementara WTI naik 1,3% menjadi $63,52 per barel, keduanya mencapai level tertinggi dalam dua minggu. Kenaikan ini memperpanjang reli lebih dari 1% pada sesi sebelumnya.
Geopolitik kembali menjadi faktor utama setelah proses perdamaian Ukraina tersendat, dengan Moskow dan Kyiv saling menyalahkan. Rusia melancarkan serangan udara besar di dekat perbatasan Uni Eropa, sementara Ukraina mengklaim menghantam kilang minyak Rusia. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar akan sanksi baru terhadap Rusia, menambah kembali “risk premium” pada harga minyak.
Dari sisi fundamental, data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun tajam 6 juta barel, jauh di atas ekspektasi penurunan 1,8 juta barel, menandakan permintaan domestik yang solid. Kontraksi stok yang signifikan ini memperkuat sentimen positif, meski proyeksi jangka panjang dari IEA dan EIA masih mengindikasikan potensi kelebihan pasokan pada 2026. Untuk jangka pendek, kombinasi risiko geopolitik dan data stok memberi dorongan kuat bagi harga minyak.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Memanasnya konflik Rusia–Ukraina menimbulkan kembali risiko sanksi dan gangguan pasokan, sehingga menambah “risk premium” pada harga minyak.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- German GDP (EUR): Perkiraan kontraksi (-0.1%) dari pertumbuhan sebelumnya (0.3%) berpotensi menekan EUR (Turun).
- Ketua Fed Powell (USD): Isi pidato akan sangat penting; sikap hawkish akan menaikkan USD, sementara sikap dovish akan menurunkannya. Perlu Pantau.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
