Dow Jones Siaga Menjelang CPI: Rate Cut Nyaris Pasti, Tapi Risiko Inflasi Menghantui.
Pasar mematok peluang 90% pemangkasan suku bunga pada September, tetapi ekspektasi pemangkasan ganda masih ragu-ragu.
CPI Juli diperkirakan naik tipis, yang dapat menguji komitmen Fed untuk tetap melonggarkan kebijakan
Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah sekitar 200 poin pada Senin, kembali menguji level di bawah 44.000 jelang rilis data inflasi AS (CPI) Juli pada Selasa. Pasar telah hampir sepenuhnya mematok peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada 17 September, namun potensi kenaikan inflasi dapat mengganggu ekspektasi tersebut. Saat ini, Dow bergerak dalam rentang konsolidasi 44.400–43.600, masih 2,5% di bawah rekor tertinggi, tetapi tetap berada di atas support penting EMA 200-hari di 42.500.
Proyeksi pasar menunjukkan kemungkinan hampir 90% untuk pemangkasan 25 bps pada September, namun peluang pemangkasan lanjutan pada 29 Oktober hanya sekitar 50%. Data CPI diperkirakan menunjukkan kenaikan tipis: headline CPI naik ke 2,8% YoY (dari 2,7%) dan core CPI ke 3,0% YoY (dari 2,9%). Investor berharap lonjakan ini cukup terkendali agar tidak mengubah sikap dovish Fed.
Menambah sentimen, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan 90 hari atas tarif baru terhadap barang-barang China, memberi ruang negosiasi dagang. Meski demikian, pasar tetap fokus pada rilis CPI yang bisa menjadi penentu arah kebijakan moneter berikutnya.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen terhadap indeks saham AS Bullish — ekspektasi rate cut tetap dominan meski risiko inflasi ada.
Emas Tergelincir di Bawah $3.400 Menjelang CPI AS.
Harga emas turun tajam di bawah $3.400 akibat penguatan dolar AS dan ekspektasi gencatan senjata Ukraina.
CPI AS Juli diproyeksikan naik, dan sikap The Fed pasca data menjadi kunci arah emas.
Harga emas jatuh lebih dari 1,2% ke sekitar $3.360 pada sesi Amerika Utara, tertekan oleh kekuatan dolar AS dan sentimen menunggu keputusan Gedung Putih terkait bea fisik emas batangan. Spekulasi rencana gencatan senjata Ukraina melalui pertemuan Trump–Putin akhir pekan ini turut menekan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Pemulihan dolar AS di tengah turunnya imbal hasil obligasi AS menahan kenaikan harga di atas $3.400.
Pasar kini fokus pada rilis CPI AS Juli pada Selasa, yang diperkirakan naik menjadi 2,8% YoY dari 2,7%, dan core CPI menembus 3% untuk pertama kali sejak Februari 2025. Presiden Trump menyatakan emas tidak akan dikenakan tarif, namun arah harga emas tetap bergantung pada respons The Fed terhadap data inflasi ini. Jika Fed menekankan prioritas stabilitas harga, tekanan jual bisa meningkat; sebaliknya, tanda disinflasi dapat mendorong harga naik lewat ekspektasi penurunan yield.
Selain CPI, investor akan memantau data penjualan ritel, produksi industri, klaim pengangguran, serta sentimen konsumen. Probabilitas pasar menunjukkan 84% peluang pemangkasan suku bunga 25 bps pada September, namun CPI yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat mengguncang optimisme tersebut.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — risiko inflasi yang lebih tinggi dapat menahan atau memperlambat pemangkasan suku bunga, menekan emas.
Minyak Stabil Jelang Pertemuan Trump–Putin, Pasar Tunggu Sinyal Perdamaian Ukraina.
Pertemuan Trump–Putin pada 15 Agustus berpotensi mengubah lanskap pasokan minyak global.
UBS memangkas proyeksi harga Brent karena peningkatan pasokan global dan lemahnya permintaan India.
Harga minyak bergerak datar pada Senin setelah anjlok lebih dari 4% pekan lalu, di tengah fokus pasar pada pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus di Alaska untuk membahas perdamaian Ukraina. Ekspektasi kesepakatan gencatan senjata berpotensi memulihkan pasokan minyak Rusia, sementara kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu sanksi tambahan dari AS.
UBS menurunkan proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi $62 per barel dari $68, dengan alasan peningkatan pasokan dari Amerika Selatan dan negara-negara yang terkena sanksi. Tekanan juga datang dari melemahnya permintaan India dan kenaikan produksi OPEC+ pada Juli, meski terbatas oleh pemangkasan Irak dan gangguan di ladang minyak Kurdi. Exxon Mobil bahkan memulai produksi di Guyana empat bulan lebih awal dari jadwal.
Pasar kini berada di persimpangan antara potensi peningkatan pasokan jika perang Ukraina mereda dan pembatasan produksi OPEC+ yang tidak sebesar perkiraan. Kombinasi faktor ini membuat harga minyak cenderung bergerak fluktuatif, dengan investor menunggu arah pasti pasokan pasca pertemuan Trump–Putin.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — prospek perdamaian Ukraina dan bertambahnya pasokan global menekan potensi kenaikan harga minyak.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
- RBA (AUD): Pemangkasan suku bunga diperkirakan akan menekan AUD (Turun).
- CPI (USD): Higher Inflation Higher (CPI YoY, Inti) diperkirakan akan memberikan Suport. Namun MoM yang menurun akan membuat efek campuran
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
