Wall Street Tersandung di Puncak: Ketegangan The Fed & Tarif Bayangi Pasar.

  • Data PCE dan belanja konsumen menguat, memperkuat kekhawatiran akan inflasi yang dipicu tarif.

  • Trump resmi umumkan tarif tambahan pada Korea Selatan dan India, memperluas ketegangan dagang global.

Indeks S&P 500 ditutup lebih rendah pada Kamis meski sempat mencetak rekor intraday, tertekan oleh kekhawatiran pasar atas kebijakan suku bunga dan tarif baru dari Presiden Donald Trump. S&P 500 turun tipis 0,01% setelah menyentuh level tertinggi 6.427, sementara Dow Jones melemah 0,7% dan Nasdaq tergelincir 0,03%. Aksi jual terjadi meskipun saham Meta dan Microsoft melonjak setelah laporan laba kuartalan yang mengesankan.

Data ekonomi menunjukkan pengajuan tunjangan pengangguran mingguan AS hanya naik tipis, mengindikasikan pasar tenaga kerja tetap stabil. Sementara itu, pengeluaran konsumen dan inflasi PCE mengalami kenaikan yang memperkuat ekspektasi bahwa tarif AS mulai berdampak pada harga. Inflasi tahunan PCE naik ke 2,6% dan core PCE ke 2,8%, memicu kekhawatiran pasar bahwa inflasi bisa bertahan lebih lama.

Di tengah tekanan inflasi, The Fed tetap mempertahankan suku bunga, meski dua anggota memilih pemangkasan, menandai perpecahan kebijakan pertama sejak 1993. Dilansir dari investing.com, Presiden Trump pun mengecam Ketua The Fed Powell dan meluncurkan tarif baru: 15% untuk Korea Selatan dan 25% untuk India, ditambah tarif tinggi pada tembaga dan produk semi-jadi mulai 1 Agustus. Ketidakpastian seputar tarif global dan arah suku bunga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap indeks saham AS, khususnya S&P 500, bearish dalam jangka pendek akibat tekanan dari ketegangan kebijakan moneter dan risiko tarif global yang meningkat.

Emas Bangkit Usai Oversold, Tapi Bayang-Bayang Data Kuat AS Tetap Membayangi.

  • The Fed tetap tahan suku bunga dengan dua dissenting voters, namun sikap Powell tetap hawkish.

  • Data inflasi PCE dan klaim pengangguran memperkuat ketahanan ekonomi AS dan mendukung dolar.

Harga emas (XAU/USD) menguat 0,61% ke $3.296 pada Kamis, pulih dari tekanan pasca-FOMC meski dolar AS tetap stabil. The Fed menahan suku bunga di kisaran 4,25%–4,50% dengan keputusan 9-2, di mana dua gubernur memilih pemangkasan 25 bps. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan pendekatan “per pertemuan,” menepis desakan Presiden Trump agar pemangkasan terjadi September ini.

Data ekonomi AS menunjukkan kekuatan, dengan inflasi inti PCE meningkat dan klaim pengangguran menurun, mendukung pandangan bahwa pasar tenaga kerja tetap solid. Sementara itu, perjanjian perdagangan baru dengan Meksiko dan Korea Selatan meredakan sebagian ketegangan global, meski deadline 1 Agustus dari Trump masih menimbulkan ketidakpastian jangka pendek.

Pemulihan emas didorong oleh kondisi oversold teknikal di dekat level terendah Juli $3.268, memancing aksi beli. Namun, potensi penguatan emas masih dibatasi oleh data ekonomi AS yang solid dan sikap hawkish The Fed. Fokus pasar kini tertuju pada rilis data NFP Jumat yang berpotensi menggerakkan arah harga selanjutnya.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen XAU/USD tetap bearish karena kekuatan fundamental dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Tarif Bayangan Trump Tekan Harga Minyak, Ketidakpastian Global Kian Dalam.

  • Tenggat tarif 1 Agustus dan belum selesainya banyak kesepakatan dagang global menimbulkan ketidakpastian permintaan minyak.

  • Lonjakan produksi minyak AS dan peningkatan cadangan minyak memberi tekanan tambahan pada harga.

Harga minyak turun pada Kamis seiring investor mencermati tenggat 1 Agustus yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump terkait tarif perdagangan. Brent September turun 0,97% ke $72,53 per barel, sementara WTI September melemah 1,06% ke $69,26. Meski sempat mencatat kenaikan di sesi sebelumnya, ketidakpastian dari negara-negara yang belum menyepakati perjanjian dagang dengan AS membebani sentimen pasar energi.

Trump mengumumkan perpanjangan 90 hari kesepakatan dengan Meksiko, disertai tarif tinggi seperti 25% untuk fentanyl dan mobil, serta 50% untuk baja dan aluminium. Di sisi lain, ancaman sanksi sekunder terhadap mitra dagang Rusia dan peringatan kepada China dan India atas pembelian minyak Rusia juga turut menambah ketegangan. Meski demikian, lonjakan produksi minyak AS ke rekor 13,49 juta barel/hari dan peningkatan cadangan minyak sebesar 7,7 juta barel menambah tekanan pada harga.

Sementara data inflasi dan kenaikan biaya impor akibat tarif memperkuat kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed hingga setidaknya Oktober, hal ini berpotensi menahan permintaan energi. Analis mencatat bahwa penurunan cadangan bensin hanya memberi dampak netral terhadap pasar minyak, karena kekhawatiran global tetap dominan.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen untuk harga minyak (Crude Oil) saat ini bearish, ditekan oleh ketidakpastian geopolitik, ancaman tarif lanjutan, dan suplai AS yang melimpah.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi EUR dan USD:

  • CPI (EUR): Perkiraan inflasi lebih rendah (1.9% vs 2.0%) berpotensi menekan EUR (Turun).

  • Average Hourly Earnings (USD): Pertumbuhan upah yang lebih tinggi (⬆️) mengindikasikan Tekanan Inflasi dan berpotensi untuk USD

  • Data NFP (USD): Keseluruhan Tenaga Kerja yang lemah Nonfarm Payrolls (⬇️) diperkirakan USD tertekan.

  • PMI USD: Data Manufaktur Diperkirakan mengontraksi (Turun).

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: