Wall Street Bergejolak: Ancaman Iran, Yield Obligasi, dan Nvidia Jadi Penentu Arah Pasar
Ketegangan AS-Iran dan penutupan Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran inflasi energi global serta risiko gangguan pasokan minyak.
Lonjakan yield obligasi dan ekspektasi suku bunga tinggi menekan saham teknologi menjelang laporan penting Nvidia.
Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Senin di tengah volatilitas tinggi akibat ketegangan geopolitik AS-Iran dan lonjakan yield obligasi global. Indeks S&P 500 turun tipis 0,1% ke 7.402,81 dan Nasdaq melemah 0,5% ke 26.090,73 akibat tekanan saham teknologi, sementara Dow Jones justru naik 0,3% ke 49.686,12. Pasar sempat tertekan oleh kekhawatiran inflasi global setelah harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel akibat krisis Selat Hormuz dan konflik Iran.
Sentimen pasar sempat membaik setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran usai permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan UEA demi memberi ruang negosiasi damai. Namun pasar tetap waspada karena AS dan Iran masih berselisih soal program nuklir, pembukaan Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi. Ketidakpastian meningkat setelah muncul laporan adanya serangan drone baru di kawasan Teluk dan ancaman Trump bahwa serangan besar tetap bisa dilakukan sewaktu-waktu jika negosiasi gagal.
Di sisi lain, pasar juga dibayangi kenaikan tajam yield obligasi global akibat lonjakan inflasi yang dipicu harga energi tinggi. Yield obligasi AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,6%, sementara peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat di seluruh sisa pertemuan tahun ini. Investor kini fokus pada laporan keuangan Nvidia pekan ini yang dianggap sebagai ujian besar reli saham AI dan teknologi, terutama di tengah kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi dapat mengganggu valuasi saham teknologi yang sudah sangat mahal.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS:Â Pasar masih dibebani kombinasi risiko geopolitik, inflasi tinggi akibat harga minyak, serta potensi suku bunga The Fed bertahan tinggi lebih lama. Meski serangan AS ke Iran ditunda, ketidakpastian perang dan tekanan yield obligasi tetap menjadi ancaman besar bagi aset berisiko seperti saham teknologi.
Emas Bangkit dari Jurang USD4.500: Dolar AS Melemah, Tapi Ancaman Suku Bunga Tinggi Masih Membayangi
Pelemahan dolar AS dan turunnya harga minyak membantu emas rebound dari bawah USD4.500.
Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed tetap menjadi tekanan utama bagi harga emas.
Harga emas berhasil bangkit pada perdagangan Senin setelah sempat jatuh di bawah level psikologis USD4.500 per ons. Pelemahan dolar AS menjadi faktor utama yang membantu stabilisasi harga logam mulia di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak inflasi baru akibat konflik Timur Tengah. XAU/USD diperdagangkan stabil di sekitar USD4.541 per ons, sementara indeks dolar AS (DXY) turun 0,2% ke area 99,06. Penurunan harga minyak setelah muncul kabar potensi pelonggaran sementara sanksi minyak Iran turut menekan dolar AS dan memberi ruang pemulihan bagi emas.
Meski demikian, pasar tetap berhati-hati karena ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve masih kuat setelah data inflasi AS pekan lalu menunjukkan kenaikan yang lebih panas dari perkiraan. Yield obligasi AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi hampir dua tahun di 4,631% sebelum stabil di 4,595%. Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan peluang 50% bahwa The Fed justru akan menaikkan suku bunga pada akhir 2026, bukan memangkasnya. Kondisi ini menjadi hambatan besar bagi emas karena aset non-yielding cenderung tertekan saat suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat.
Dari sisi geopolitik, Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer AS terhadap Iran setelah permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Trump menegaskan negosiasi serius masih berlangsung, tetapi AS siap melancarkan serangan besar sewaktu-waktu jika kesepakatan gagal tercapai. Sementara itu, laporan menyebut Washington mulai membuka peluang pencabutan sementara sanksi minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung. Kombinasi meredanya ketegangan sementara dan pelemahan dolar membantu menopang emas, meski pasar tetap dibayangi risiko geopolitik dan kebijakan moneter ketat.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif: Meski emas mendapat dukungan dari pelemahan dolar dan meredanya tensi geopolitik sementara, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed dan yield obligasi AS yang tetap tinggi masih menjadi tekanan besar bagi pergerakan emas.
Minyak Bergejolak: Trump Tunda Serangan Iran, Tapi Ancaman Perang Masih Menghantui Pasar
Trump menunda serangan ke Iran demi membuka peluang negosiasi damai, tetapi ancaman aksi militer masih tetap ada.
Penutupan Selat Hormuz dan ketegangan AS-Iran terus menopang harga minyak serta meningkatkan risiko inflasi global.
Harga minyak dunia memangkas penguatannya pada perdagangan Senin setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran. Trump mengatakan keputusan itu diambil setelah permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, yang meyakini peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka. Trump menegaskan negosiasi serius sedang berlangsung, namun AS tetap siap meluncurkan serangan besar sewaktu-waktu jika Iran gagal menerima kesepakatan yang diajukan Washington. Pernyataan tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar, meski harga minyak masih bertahan tinggi akibat ketegangan geopolitik yang belum selesai.
Sebelumnya, pasar minyak sempat melonjak karena kebuntuan antara AS dan Iran terus berlanjut tanpa tanda terobosan nyata. Ketegangan semakin meningkat setelah insiden drone baru di kawasan Teluk dan Selat Hormuz yang masih nyaris tertutup total. Washington menuntut Iran menghentikan program nuklir, menyerahkan uranium yang diperkaya, dan membuka kembali Selat Hormuz. Sebaliknya, Tehran meminta penghentian perang, kompensasi kerusakan, dan pencabutan blokade laut AS. Di tengah negosiasi yang rapuh, muncul laporan simpang siur terkait kemungkinan pelonggaran sanksi minyak Iran, namun Gedung Putih disebut masih menganggap proposal terbaru Iran belum cukup untuk mencapai kesepakatan damai.
Pasar energi global kini menghadapi kekhawatiran serius terkait potensi kelangkaan fisik pasokan energi. Lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz mulai memicu tekanan inflasi di berbagai negara dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga global. Brent crude sempat bertahan di atas USD109 per barel, sementara WTI berada di sekitar USD102 per barel. Pemerintah AS juga memperpanjang izin sementara pembelian minyak Rusia selama 30 hari guna membantu stabilisasi pasar energi dunia. Meski ada ruang diplomasi, pasar tetap khawatir bahwa konflik dapat kembali memanas sewaktu-waktu dan memicu krisis energi yang lebih besar.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif:Â Penundaan serangan memberi sedikit harapan diplomasi, namun kebuntuan AS-Iran dan ancaman gangguan pasokan energi global masih sangat besar. Kondisi ini mendukung harga minyak tetap tinggi sekaligus meningkatkan risiko inflasi dan perlambatan ekonomi dunia.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi JPY:
GDP (QoQ) (Q1) – JPY
Data ini mengukur pertumbuhan ekonomi kuartalan Jepang dengan membandingkan nilai total barang dan jasa yang diproduksi pada kuartal pertama tahun ini terhadap kuartal sebelumnya. Proyeksi pasar menunjukkan sedikit kenaikan ekspansi ekonomi ke level 0.4%.
Dampak:
Potensi Bullish JPY. Jika rilis aktual sesuai atau bahkan lebih tinggi dari forecast 0.4%, hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi domestik Jepang terus membaik. Angka pertumbuhan yang solid ini dapat memberikan katalis positif bagi penguatan Yen, sekaligus mendukung Bank of Japan (BoJ) untuk tetap berada dalam jalur pengetatan atau normalisasi kebijakan moneter mereka.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
