Wall Street Tertekan Jelang CPI, Saham AS Ambles di Tengah Pergeseran ke Obligasi

  • Investor beralih ke obligasi jelang rilis CPI, menekan indeks saham utama AS.

  • Data NFP yang kuat memangkas peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada Kamis, ketika investor beralih dari saham ke obligasi menjelang rilis data inflasi (CPI) yang krusial. Kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve kembali meningkat setelah laporan tenaga kerja AS yang sangat kuat memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Tekanan juga datang dari sektor teknologi, terutama saham Cisco yang anjlok lebih dari 12% pasca laporan kinerja kuartalan yang mengecewakan.

Indeks utama Wall Street ditutup di zona merah, dengan S&P 500 turun 1,6% ke 6.833, Dow Jones melemah 1,3% ke 49.451, dan Nasdaq jatuh 2% ke 22.597. Data Nonfarm Payrolls menunjukkan penambahan 130 ribu pekerjaan dan penurunan tingkat pengangguran ke 4,3%, memperkuat pandangan bahwa ekonomi masih solid namun mengurangi peluang pelonggaran moneter. Investor kemudian memburu obligasi sebagai langkah defensif, mendorong imbal hasil US Treasury 10-tahun turun ke 4,099%.

Di sisi korporasi, musim laporan keuangan secara umum masih positif, namun saham Cisco menjadi beban besar bagi sektor teknologi akibat margin yang lebih rendah dari ekspektasi. Sebaliknya, McDonald’s mencatatkan kinerja kuat berkat strategi promosi yang efektif. Dengan fokus pasar kini beralih ke data CPI, investor menunggu petunjuk berikutnya terkait arah inflasi dan kebijakan The Fed yang akan menentukan sentimen pasar ke depan.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Tekanan dari ketidakpastian inflasi, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, serta rotasi ke aset aman membuat pasar saham berada dalam fase defensif.

Emas Terjun Bebas: Data Tenaga Kerja Kuat dan Meredanya Risiko Geopolitik Tekan XAUUSD

  • Data NFP yang sangat kuat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga lebih lama.

  • Meredanya risiko geopolitik global mengurangi permintaan emas sebagai aset safe haven.

Harga emas melemah tajam pada Kamis, turun hampir 2,7%, seiring data tenaga kerja Amerika Serikat yang solid memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih lama. XAU/USD sempat menyentuh $5.100, namun berbalik turun hingga area $4.945 karena investor melakukan aksi jual besar-besaran. Laporan Nonfarm Payrolls Januari yang naik 130 ribu, jauh di atas perkiraan, serta penurunan tingkat pengangguran ke 4,3%, memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat untuk menahan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Di sisi lain, permintaan safe haven terhadap emas melemah akibat harapan de-eskalasi geopolitik. Munculnya peluang kesepakatan nuklir antara AS dan Iran serta potensi perdamaian antara Rusia dan Ukraina menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Pernyataan bahwa Rusia berencana kembali menggunakan dolar dalam transaksi internasional juga ikut menekan logam mulia. Kondisi ini membuat emas kehilangan dukungan geopolitik yang sebelumnya menopang reli.

Tekanan tambahan datang dari dolar AS yang tetap kuat, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS justru turun. Indeks Dolar (DXY) bertahan di sekitar 96,99, sementara yield Treasury 10 tahun turun ke 4,106%. Pasar juga memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, dengan peluang penurunan baru terbuka pada Juli. Fokus investor kini beralih ke data CPI AS, yang berpotensi menjadi penentu arah kebijakan The Fed berikutnya.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk emas: Kombinasi data ekonomi AS yang solid, penguatan dolar, dan meredanya ketegangan geopolitik membuat emas kehilangan katalis utama untuk naik dalam jangka pendek.

Minyak Tergelincir Meski Ketegangan Timur Tengah, IEA Pangkas Proyeksi Permintaan

  • IEA memangkas proyeksi permintaan minyak global, menimbulkan kekhawatiran oversupply meskipun gangguan pasokan sempat terjadi.

  • Risiko geopolitik mereda, sehingga dukungan harga minyak dari ancaman konflik berkurang.

Harga minyak dunia turun tajam pada Kamis setelah proyeksi permintaan global direvisi turun oleh International Energy Agency (IEA), sementara kekhawatiran atas potensi konflik di Timur Tengah mulai mereda. Kontrak Brent berada di sekitar USD 67–69 per barel, turun signifikan dari sesi sebelumnya, demikian pula West Texas Intermediate (WTI) yang mencatat penurunan tajam. Penurunan ini datang meskipun gejolak geopolitik antara AS dan Iran sempat mendorong harga naik, karena pasar kini menilai permintaan energi global akan tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam laporan bulanan, IEA memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini akan lebih lambat, dengan surplus pasokan yang cukup besar di tengah perbaikan output dari beberapa produsen besar, termasuk Rusia. Lonjakan persediaan minyak mentah AS yang jauh melebihi ekspektasi analis juga menambah tekanan jual di pasar. Meskipun negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih berlanjut, langkah menuju kesepakatan mengurangi sebagian risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga.

Selain faktor permintaan, dinamika pasokan global juga berkontribusi terhadap pelemahan harga. Kenaikan ekspor produk minyak Rusia didukung oleh output bahan bakar yang tinggi dan permintaan domestik yang turun, sementara tingkat utilisasi kilang di AS menurun, mencerminkan perlambatan kegiatan industri. Kombinasi prospek permintaan yang lebih lemah dan peningkatan pasokan ini membuat pasar minyak berada dalam tekanan turun meskipun ketidakpastian geopolitik masih ada.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif untuk OIL: Pasar kini lebih dipengaruhi oleh ekspektasi permintaan yang melemah dan surplus pasokan, sementara katalis geopolitik yang sempat menopang harga kini mulai mereda, menekan harga minyak dalam jangka pendek.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • U.S. CPI MoM (Jan) – USD

Inflasi bulanan diperkirakan tetap di 0,3%. Angka ini mengindikasikan tekanan harga konsumen masih bertahan dan belum menunjukkan perlambatan signifikan. Kondisi ini berpotensi membuat The Fed tetap berhati-hati untuk segera menurunkan suku bunga.

Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish)

  • U.S. CPI YoY (Jan) – USD

Inflasi tahunan diperkirakan turun ke 2,5% dari 2,7%. Penurunan ini mengindikasikan tren disinflasi masih berlanjut, meskipun lajunya melambat. Hal ini membuka ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan di masa mendatang.

Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah (Bearish)

  • U.S. Core CPI MoM (Jan) – USD

Inflasi inti diperkirakan naik ke 0,3% dari 0,2%. Kenaikan ini mengindikasikan tekanan harga sektor inti, terutama jasa, masih kuat. Kondisi ini memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish).

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: