EUR/USD Tertahan, Ekspektasi Akhir Shutdown AS Batasi Kenaikan Euro
Dukungan Gedung Putih untuk mengakhiri shutdown AS membatasi penguatan Euro karena dolar sedikit pulih dari pelemahannya.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed semakin kuat akibat data ekonomi AS yang lemah, sementara ECB tetap berhati-hati dan menahan suku bunga.
Pasangan mata uang EUR/USD bergerak datar di sekitar 1.1560 pada Senin (10/11), seiring dolar AS menahan pelemahannya setelah Gedung Putih menyatakan dukungan terhadap kesepakatan bipartisan untuk mengakhiri penutupan pemerintahan yang telah berlangsung selama 41 hari. Kabar ini mendorong optimisme bahwa aktivitas pemerintahan AS akan segera normal kembali, namun di sisi lain menahan potensi penguatan Euro lebih lanjut karena dolar mendapat sedikit dukungan dari prospek stabilitas politik.
Sementara itu, data ekonomi AS masih menunjukkan pelemahan. Laporan PHK dari Challenger mencatat pemutusan kerja tertinggi dalam dua dekade, sementara survei sentimen konsumen Universitas Michigan menunjukkan meningkatnya pesimisme rumah tangga terhadap ekonomi AS. Kondisi ini meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed hingga 50 bps pada Desember, dengan peluang pasar kini naik menjadi sekitar 66%. Namun, komentar pejabat The Fed terbelah antara pandangan dovish dan pandangan yang masih yakin terhadap ketahanan ekonomi AS.
Dari sisi Eropa, pejabat ECB seperti Luis de Guindos dan François Villeroy de Galhau menyebut bahwa tingkat suku bunga saat ini sudah sesuai, menandakan sikap hati-hati dalam menilai inflasi yang mulai mendekati target 2%. Perbedaan arah kebijakan antara ECB yang cenderung menahan suku bunga dan Fed yang mengarah ke pelonggaran menjadi faktor utama yang menjaga potensi penguatan Euro dalam jangka menengah.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish untuk EURUSD – Pelemahan fundamental ekonomi AS dan meningkatnya peluang pemangkasan suku bunga Fed mendukung potensi penguatan Euro, meskipun terbatas oleh kabar positif seputar pembukaan kembali pemerintahan AS.
Emas Bertahan di Atas $4,090, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Fed Kembali Dongkrak Sentimen.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed di Desember kembali meningkat di tengah lemahnya data ekonomi AS.
Optimisme pembukaan kembali pemerintahan AS menekan dolar, tetapi tidak menggoyahkan minat beli terhadap emas.
Harga emas menguat lebih dari 2% dan bertahan di sekitar $4,092 per ons pada Senin (10/11), didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember. Meski dolar AS sedikit menguat setelah Senat AS menyetujui langkah bipartisan untuk mengakhiri penutupan pemerintahan, minat beli emas tetap kuat karena investor fokus pada prospek pelonggaran kebijakan moneter di tengah tanda-tanda pelemahan ekonomi AS.
Optimisme terhadap pembukaan kembali pemerintahan AS tumbuh setelah Presiden Donald Trump menyatakan keyakinan bahwa “shutdown akan segera berakhir.” Di sisi lain, data ekonomi AS yang lemah — termasuk penurunan tajam sentimen konsumen Universitas Michigan dan lonjakan PHK lebih dari 150.000 pada Oktober — memperkuat kekhawatiran resesi dan memperbesar peluang pelonggaran Fed. Berdasarkan alat CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang 67% pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember.
Meskipun dolar AS dan imbal hasil obligasi sempat menguat tipis, emas tetap menunjukkan ketahanan sebagai aset lindung nilai. Selain itu, laporan World Gold Council menunjukkan adanya arus masuk ke ETF emas sebesar 54,9 ton pada Oktober, menandakan meningkatnya permintaan institusional. Kombinasi antara ekspektasi pemangkasan suku bunga, kekhawatiran ekonomi, dan permintaan investasi yang stabil menjadi pendorong utama penguatan emas.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Karena kombinasi risk-on global dan melemahnya permintaan dari China menekan harga di bawah area psikologis $4.000.
Harga Minyak Naik di Tengah Serangan Ukraina dan Gangguan Kilang AS.
Kekhawatiran Gangguan Pasokan: Serangan drone dan sanksi AS terhadap Rusia mengancam pasokan bahan bakar global.
Surplus Pasokan Menahan Kenaikan: Kenaikan produksi OPEC+ dan meningkatnya stok minyak di Asia serta AS menekan potensi lonjakan harga lebih tinggi.
Harga minyak dunia naik pada Senin (10/11) karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan bahan bakar akibat sanksi baru Amerika Serikat terhadap Rusia serta serangan drone Ukraina ke kilang minyak Rusia. Namun, kenaikan harga tertahan oleh proyeksi surplus pasokan minyak mentah global.
Brent Crude ditutup naik 0,7% di level $64,06 per barel, sementara WTI naik 0,6% menjadi $60,13 per barel. Kenaikan terbesar terlihat pada harga bensin dan diesel AS yang masing-masing naik sekitar 1%, didorong oleh gangguan kilang di wilayah Great Lakes dan Pantai Barat. Gangguan penerbangan besar-besaran akibat penutupan pemerintahan AS juga berpotensi meningkatkan permintaan bahan bakar menjelang liburan Thanksgiving.
Selain itu, serangan drone Ukraina terhadap kilang Lukoil di Volgograd memicu penghentian operasi dan meningkatkan kekhawatiran pasokan. Sementara itu, Lukoil menghadapi tekanan tambahan karena tenggat waktu sanksi AS pada 21 November dan gagalnya kesepakatan penjualan ke trader asal Swiss, Gunvor.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish: Karena kekhawatiran pasokan mendukung harga, tetapi potensi surplus global membatasi kenaikan lebih lanjut.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Tidak ada rilis data ekonomi hari ini yang diperkirakan akan menyebabkan perubahan signifikan di pasar. Namun, pelaku pasar tetap akan mencermati pergerakan harga teknikal dan sentimen global sebagai panduan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
