Sinyal Bearish Meningkat, Dolar AS Tertekan Pasca Komentar Dovish Powell.
Komentar dovish Powell di Jackson Hole memperkuat ekspektasi pelemahan dolar.
Sinyal kuantitatif dan positioning menunjukkan potensi bullish bagi mata uang Eropa dan emerging markets melawan USD.
Dolar AS sempat melonjak 0,6% pada Senin ke level 98,205, namun prospek kenaikan lebih lanjut dinilai semakin menantang. Dilansir dari investing.com Bank of America menyoroti sinyal kuantitatif bearish yang kian melebar, terutama terhadap mata uang utama Eropa, setelah Ketua The Fed Jerome Powell memberikan nada dovish di simposium Jackson Hole. Powell menegaskan bahwa risiko kini bergeser dari inflasi ke pelemahan pasar tenaga kerja, membuka peluang penyesuaian kebijakan moneter yang lebih longgar.
Analisis positioning menunjukkan dolar berpotensi melemah terhadap euro, pound, franc Swiss, hingga krona Swedia. Model kuantitatif Bank of America (CARS) juga mengindikasikan tren bullish bagi mata uang Eropa, sementara mata uang negara berkembang seperti peso Meksiko, real Brasil, dan rand Afrika Selatan turut diperkirakan mendapat keuntungan. Hal ini mencerminkan pergeseran kepercayaan investor dari dolar ke aset alternatif dengan fundamental yang lebih mendukung.
Dengan tekanan dari ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan sinyal teknikal yang melemah, prospek dolar semakin redup dalam jangka menengah. Pasar tampak lebih berhati-hati, sementara sentimen investor condong mengantisipasi lanjutan pelemahan dolar terhadap mayor maupun emerging markets.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk Dollar AS – Nada dovish Powell dan probabilitas easing yang meningkat melemahkan daya tarik dolar, sementara model teknikal serta positioning mendukung penguatan mata uang lain terhadap greenback.
Emas Bertahan di $3.370, Pasar Tunggu Data PCE dan Sinyal Pemangkasan Suku Bunga Fed.
Pasar telah memproyeksikan 90% peluang pemangkasan suku bunga Fed, mendukung potensi kenaikan emas.
Risiko geopolitik mereda, namun ekspektasi kebijakan moneter dovish tetap menjadi penggerak utama harga.
Harga emas stabil di sekitar $3.370 pada Senin, meskipun dolar AS menguat tipis seiring komentar dovish Ketua The Fed Jerome Powell akhir pekan lalu. Minimnya agenda ekonomi, kecuali data penjualan rumah baru, membuat fokus pasar tertuju pada rilis data tenaga kerja dan inflasi inti PCE minggu ini. Para pelaku pasar juga mencermati potensi pelonggaran kebijakan jika pertumbuhan ekonomi AS, yang ditunjukkan lewat data PDB, melambat.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga makin menguat, dengan probabilitas 90% sudah dipricing-in oleh pasar. Dilansir dari fxstreet.com analis ING menilai peluang emas mencetak rekor baru tetap terbuka seiring meningkatnya taruhan pemangkasan suku bunga bulan depan. Namun, tensi geopolitik ikut diperhatikan setelah pernyataan Donald Trump mengenai hubungan dengan Rusia dan Ukraina, karena de-eskalasi konflik bisa memberi tekanan pada harga emas sebagai aset safe haven.
Meski imbal hasil obligasi AS naik tipis dan indeks dolar menguat di atas 98, sentimen dovish The Fed menjaga daya tarik emas. Dengan pasar menantikan data ekonomi utama pekan ini, prospek penurunan suku bunga tetap menjadi katalis dominan yang mendukung harga emas bertahan kuat.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang sudah mencapai 90% memberikan dukungan kuat bagi emas.
Harga Minyak Naik 2% di Tengah Ancaman Sanksi AS dan Serangan Ukraina ke Infrastruktur Rusia.
Risiko pasokan meningkat akibat sanksi AS dan serangan Ukraina terhadap kilang serta terminal ekspor Rusia.
OPEC+ menambah suplai ke pasar, namun tensi geopolitik tetap dominan dalam arah harga minyak.
Harga minyak dunia menguat sekitar 2% pada Senin, melanjutkan tren kenaikan pekan lalu. Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran pasar atas potensi sanksi baru AS terhadap Rusia serta serangan drone Ukraina yang menargetkan infrastruktur energi Rusia. Brent ditutup naik 1,58% di $68,80, sementara WTI menguat 1,79% ke $64,80. Ketidakpastian negosiasi damai Ukraina-Rusia menambah tensi geopolitik, dengan Presiden Donald Trump menegaskan rencana sanksi jika tidak ada kemajuan dalam dua pekan.
Serangan terbaru Ukraina menimbulkan kebakaran besar di terminal ekspor bahan bakar Ust-Luga dan kilang Novoshakhtinsk, yang berkapasitas hingga 100.000 barel per hari. Kondisi ini meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak Rusia. Namun, dampak suplai tersebut sebagian diimbangi oleh keputusan OPEC+ yang membalikkan pemangkasan produksi, sehingga menambah jutaan barel ke pasar.
Meski ketidakpastian global mendukung kenaikan harga, analis menilai pasar masih kekurangan momentum. Investor juga mencermati potensi perlambatan ekonomi akibat tarif baru Trump terhadap India, yang bisa menekan permintaan energi. Sinyal dovish dari The Fed soal peluang pemangkasan suku bunga memberi tambahan dorongan sentimen risk-on, tetapi fokus utama tetap pada risiko geopolitik.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Faktor geopolitik saat ini jauh lebih dominan dalam membentuk harga dibanding tambahan suplai OPEC+. Ancaman sanksi AS terhadap Rusia, serangan drone Ukraina yang mengganggu infrastruktur energi penting, serta ketidakpastian perundingan damai menciptakan risiko nyata terhadap pasokan global.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- Durable Goods Orders (USD): Perbaikan signifikan dari kontraksi sebelumnya (-4.0% vs -9.4%) berpotensi mendukung USD (⬆️).
- CB Consumer Confidence (USD): Perkiraan penurunan kepercayaan konsumen (96.3 vs 97.2) berpotensi menekan USD (⬇️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
