S&P 500 Cetak Rekor Penutupan Baru, Lonjakan Saham Intel Redam Kekhawatiran Inflasi.
Lonjakan saham Intel membantu S&P 500 mencetak rekor meski data inflasi produsen memanas.
PPI Juli AS yang di atas ekspektasi menekan peluang pemangkasan suku bunga jumbo oleh The Fed.
Indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan ketiga berturut-turut pada Kamis, naik tipis 0,01% ke 6.467,32, didorong lonjakan 7% saham Intel setelah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump berdiskusi dengan perusahaan untuk kemungkinan kepemilikan saham oleh pemerintah. Kenaikan ini membantu sektor teknologi memangkas kerugian dan menutup sesi di zona hijau, sementara Dow Jones melemah tipis 11 poin dan Nasdaq berakhir mendatar.
Data Producer Price Index (PPI) AS Juli menunjukkan lonjakan 0,9% bulanan dan 3,3% tahunan, jauh di atas ekspektasi, menekan peluang pemangkasan suku bunga jumbo oleh The Fed pada September dari 97% menjadi 90%. Kenaikan biaya jasa sebesar 1,1% menjadi pemicu utama, tertinggi sejak Maret 2022. Data klaim pengangguran mingguan turun menjadi 224.000, menandakan pasar tenaga kerja tetap kuat.
Selain kabar ekonomi, Trump mengumumkan rencana pertemuan kedua dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, menyusul pertemuan awal yang dijadwalkan Jumat. Trump optimis kesepakatan damai Ukraina dapat tercapai, sementara sentimen pasar tetap terfokus pada prospek kebijakan moneter AS dan kekuatan sektor teknologi.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Untuk harga indeks saham AS, sentimennya Bullish karena rekor penutupan S&P 500 ditopang lonjakan saham Intel, meskipun data inflasi PPI yang panas membatasi ekspektasi pemangkasan suku bunga jumbo.
PPI AS Panas Tekan Emas: Penguatan Dolar Picu Aksi Jual.
PPI dan Core PPI AS melonjak tajam, menghapus peluang pemangkasan suku bunga Fed sebesar 50 bps.
Dolar AS dan yield obligasi menguat, menekan harga emas di bawah support utama.
Emas tergelincir lebih dari 0,60% pada Kamis, tertekan oleh lonjakan inflasi produsen AS yang melampaui ekspektasi dan memicu penguatan dolar. XAU/USD diperdagangkan di $3.334, setelah data Producer Price Index (PPI) Juli naik 0,9% bulanan dan 3,3% tahunan, jauh di atas perkiraan. Core PPI melonjak ke 3,7% YoY, menghapus peluang pemangkasan suku bunga sebesar 50 bps pada pertemuan The Fed berikutnya.
Pasar kini memperkirakan peluang 92% untuk pemangkasan 25 bps pada September, dengan risiko penundaan pemangkasan jika data penjualan ritel Jumat menunjukkan kekuatan ekonomi. Data tenaga kerja yang solid, dengan klaim pengangguran mingguan turun menjadi 224.000, menambah alasan bagi Fed untuk tetap hati-hati. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik 5 bps ke 4,289%, sementara Indeks Dolar AS menguat 0,47% ke 98,24.
Komentar hawkish dari Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem, yang menyebut inflasi mendekati 3% dan tarif berkontribusi terhadap kenaikan harga, memperkuat tekanan jual emas. Kenaikan dolar dan yield mempersempit minat beli aset safe haven, mendorong harga emas di bawah support teknikal $3.340.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Lonjakan PPI dan Core PPI mendorong dolar dan yield naik, menekan emas, sehingga peluang pemangkasan besar sirna dan sentimen menjadi kuat bearish.
Minyak Sentuh Tertinggi Satu Pekan Berkat Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed dan Manuver Perdamaian Trump-Putin.
Optimisme pertemuan Trump-Putin dan potensi pelonggaran sanksi Rusia menambah risk premium pada harga minyak.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bulan depan menopang prospek permintaan energi.
Harga minyak mentah dunia menguat sekitar 2% pada Kamis, mencapai level tertinggi dalam sepekan, didorong optimisme pemangkasan suku bunga The Fed bulan depan dan ekspektasi positif dari rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Brent naik 1,8% menjadi $66,84 per barel dan WTI menguat 2,1% ke $63,96, sekaligus keluar dari wilayah oversold untuk pertama kali dalam tiga hari terakhir.
Pernyataan Trump bahwa Putin siap mencapai kesepakatan damai di Ukraina meningkatkan spekulasi potensi pelonggaran sanksi terhadap Rusia, produsen minyak terbesar kedua dunia. Namun, ancaman “konsekuensi berat” dan kemungkinan tarif sekunder bagi pembeli minyak Rusia, terutama China dan India, tetap menjadi risiko geopolitik yang memberi premium harga. Analis menilai ketidakpastian hasil pertemuan ini menjadi faktor bullish bagi pasar energi.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed juga menopang sentimen harga. Data inflasi konsumen Juli yang moderat memperkuat peluang rate cut, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent membuka kemungkinan penurunan agresif 50 basis poin. Meski data harga produsen yang tinggi dapat memicu perdebatan internal The Fed, pasar tetap mempertahankan optimisme terhadap kebijakan yang lebih longgar, yang berpotensi meningkatkan permintaan minyak.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Kombinasi ancaman sanksi Trump terkait Rusia dan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed September berpotensi mendorong permintaan minyak.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi JPY dan USD
- GDP JPY: Perbaikan gdp yang mengindikasikan potensi peruatan JPY (Naik)
- Data Retail USD: Data Sales yang diperkirakan lebih rendah dapat menekan USD (Turun)
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
