Jobs Ambles, Markets Tumble: Kekhawatiran Resesi Dorong Wall Street Jatuh.

  • Laporan NFP jauh di bawah ekspektasi dengan revisi negatif besar, memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dan dorong spekulasi pemangkasan suku bunga.

  • Trump meningkatkan tekanan pada Fed dan mitra dagang dengan pemecatan pejabat statistik dan gelombang tarif besar, memperparah ketidakpastian pasar.

Wall Street ditutup anjlok tajam pada Jumat setelah laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS menunjukkan hanya 73.000 pekerjaan tercipta di Juli, jauh di bawah ekspektasi 106.000. S&P 500 jatuh 1,7%, Nasdaq turun 2,2%, dan Dow Jones kehilangan 542 poin. Data tersebut juga disertai revisi negatif besar untuk dua bulan sebelumnya, menambah kekhawatiran pasar akan perlambatan ekonomi mendalam, terlebih di tengah tekanan tambahan dari saham teknologi yang melemah dipimpin Amazon.

Presiden Trump memanfaatkan situasi dengan memecat pejabat statistik tenaga kerja, menuduh manipulasi data tanpa bukti. Ia juga menandatangani kenaikan tarif hingga 50% pada puluhan negara, memperuncing kekhawatiran pasar. Tambahan guncangan datang dari pengunduran diri Gubernur The Fed Adriana Kugler, membuka peluang bagi Trump untuk menunjuk figur yang lebih dovish, yang bisa mempercepat pemangkasan suku bunga.

Sementara The Fed sebelumnya menahan suku bunga, laporan tenaga kerja yang lemah ini membuat pelaku pasar meningkatkan spekulasi akan pemangkasan suku bunga pada September. Namun, kekhawatiran lebih dalam muncul: potensi politisasi kebijakan moneter, risiko ketergantungan pada utang jangka pendek, dan ancaman terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan dunia jika kredibilitas Fed dan pemerintah AS terus tergerus.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap indeks saham AS (khususnya S&P 500) saat ini bearish kuat, dipicu kombinasi data tenaga kerja yang buruk, tekanan politik terhadap Fed, dan kekhawatiran dampak ekonomi dari tarif baru.

Data Buruk & Ancaman Perang: Emas Naik Tajam ke $3.350.

  • NFP Juli sangat lemah, dengan revisi negatif terbesar kedua sejak 1979, memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga.

  • Ketegangan geopolitik AS-Rusia meningkat setelah AS mengirim kapal selam nuklir dan Rusia menyebut situasi mengarah ke perang.

Harga emas melonjak lebih dari 1,5% pada Jumat, dipicu laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang jauh di bawah ekspektasi, menunjukkan pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja. XAU/USD menanjak ke sekitar $3.350, didorong juga oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Rusia. Investor mulai memperkirakan pemangkasan suku bunga oleh The Fed, seiring data NFP Juli hanya mencatatkan 73 ribu pekerjaan baru — jauh di bawah ekspektasi 110 ribu — dan revisi tajam dua bulan sebelumnya sebesar -258 ribu.

Di sisi ekonomi, PMI Manufaktur dari ISM kembali terkontraksi ke 48.0, menandai lima bulan berturut-turut berada di zona resesi. Sentimen konsumen juga melemah meski sedikit lebih baik dibanding dua bulan sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam: yield Treasury 10-tahun jatuh 15 bps ke 4,228% dan yield riil turun 12 bps ke 1,838%, mendukung kenaikan harga emas yang sensitif terhadap imbal hasil.

Dari sisi geopolitik, Presiden Trump mengancam puluhan negara dengan gelombang tarif baru dan mengirim dua kapal selam nuklir menyusul pernyataan keras dari Rusia. Dilansir dari fxstreet.com pernyataan Dmitry Medvedev yang menyebut Trump “mendorong langkah menuju perang” menjadi pemicu arus safe haven ke emas. Pasar kini memperkirakan 76% peluang The Fed akan memangkas suku bunga 25 bps pada September.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap harga emas saat ini bullish kuat, didorong kombinasi data ekonomi AS yang melemah dan eskalasi geopolitik yang meningkatkan permintaan safe haven.

Harga Minyak Anjlok Tajam Akibat Isu Kenaikan Produksi OPEC+ dan Data Tenaga Kerja AS yang Lemah.

  • Harga minyak turun tajam karena kekhawatiran pasar akan kenaikan produksi OPEC+ hingga 548.000 barel per hari mulai September.

  • Data Nonfarm Payrolls AS yang jauh di bawah ekspektasi memicu ketakutan terhadap pelemahan permintaan minyak global.

Harga minyak mentah turun lebih dari $2 per barel pada Jumat karena kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan produksi oleh OPEC+ dan melemahnya data tenaga kerja AS. Brent crude ditutup di $69,67 per barel, turun 2,83%, sementara WTI turun 2,79% ke $67,33. Meski demikian, kedua acuan minyak mencatatkan kenaikan mingguan lebih dari 6%, didorong oleh sentimen geopolitik dan perkembangan perdagangan internasional.

Tiga sumber menyebut OPEC+ kemungkinan akan menyepakati peningkatan produksi hingga 548.000 barel per hari mulai September, meski volume final masih dalam pembahasan. Di sisi lain, laporan pekerjaan AS menunjukkan hanya 73.000 lapangan kerja ditambahkan pada Juli, jauh di bawah perkiraan, dan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Lemahnya data ini meningkatkan kekhawatiran akan permintaan energi ke depan.

Penurunan harga juga diperparah oleh ketidakpastian pasca keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga, serta eksekusi tarif besar-besaran oleh Presiden Donald Trump terhadap puluhan negara mitra dagang. Meski sebagian besar mitra utama seperti Uni Eropa dan Jepang telah mencapai kesepakatan dagang, risiko sanksi terhadap pembeli minyak Rusia seperti China dan India tetap membayangi. Hal ini menambah tekanan pada keseimbangan pasokan dan permintaan global.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen terhadap harga minyak bearish, karena potensi lonjakan suplai OPEC+ dan lemahnya data ekonomi AS menimbulkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan dan menurunnya permintaan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada laporan data ekonomi yang dapat mempengaruhi sentimen terhadap pasar forex, indeks saham AS dan komoditi.

Share on: