Kesepakatan Dagang AS-UE Capai Titik Bersejarah, Euro dan Saham Energi AS Diuntungkan.

Analisa Fundamental Magnetfx 8 Agustus
  • Kesepakatan dagang AS-UE menetapkan tarif 15% dan membuka peluang ekspor besar bagi energi dan militer AS.

  • Euro dan saham sektor energi & pertahanan AS diprediksi menguat, sementara sektor farmasi Eropa menghadapi tekanan lanjutan.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan perjanjian dagang besar dengan Uni Eropa saat berada di Skotlandia pada Minggu, yang mencakup tarif tetap 15% atas barang-barang UE yang masuk ke AS. Sebagai imbalannya, Uni Eropa sepakat membeli energi senilai $750 miliar dan perlengkapan militer dalam jumlah besar dari AS, serta berkomitmen menanamkan investasi sebesar $600 miliar ke dalam perekonomian AS. Kesepakatan ini terjadi menjelang tenggat 1 Agustus, saat tarif “resiprokal” Trump yang lebih tinggi dijadwalkan berlaku.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa tarif 15% akan diberlakukan secara menyeluruh, termasuk pada sektor farmasi, namun membuka peluang adanya tambahan tarif dari pihak AS. Perjanjian ini dinilai menenangkan pasar yang sebelumnya khawatir akan kegagalan kesepakatan. Menurut analis Pepperstone, Michael Brown, kesepakatan ini “menghilangkan risiko besar” dan menunjukkan bahwa arah kebijakan bergerak menjauh dari retorika konfrontatif menuju kesepakatan konkret.

Pemenang utama dari perjanjian ini meliputi pabrikan otomotif Eropa, yang berhasil mengamankan perlakuan tarif serupa dengan Jepang, serta saham-saham energi dan pertahanan AS, yang akan terdorong oleh pesanan besar dari UE. Di sisi lain, sektor farmasi Eropa menghadapi tekanan akibat potensi tarif tambahan hingga 200% dari AS. Kesepakatan ini juga datang di tengah pekan krusial bagi ekonomi AS yang mencakup rilis data inflasi, laporan keuangan raksasa teknologi, dan keputusan suku bunga dari Federal Reserve yang diprediksi akan tetap ditahan.

Kesimpulan Sentimen:

Bullish. Kepastian dagang, potensi lonjakan ekspor AS, dan meredanya ketegangan tarif mendukung penguatan aset berisiko seperti saham dan euro, serta meningkatkan optimisme pasar secara keseluruhan.

Emas Tersungkur di Bawah $3.340 Jelang Keputusan The Fed dan Tarik-Ulur Dagang AS.

  • Penguatan dolar AS dan kemajuan kesepakatan dagang menekan harga emas ke bawah $3.340.

  • Pasar tenaga kerja yang kuat mendukung ekspektasi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga.

Harga emas (XAU/USD) ditutup melemah hampir 1% pada akhir pekan, tertekan oleh data ekonomi AS yang solid dan perkembangan positif dalam pembicaraan dagang. Logam mulia ini merosot ke $3,336, mendekati level terendah mingguan $3,325, seiring penguatan dolar AS dan turunnya permintaan safe haven. Sinyal pemulihan Dolar muncul meski imbal hasil obligasi AS turun, menunjukkan bahwa pasar lebih fokus pada fundamental ekonomi ketimbang suku bunga riil.

Kekuatan pasar tenaga kerja kembali ditegaskan oleh penurunan klaim pengangguran selama empat pekan berturut-turut, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga di level 4,25%–4,50% pada pertemuan 30 Juli. Meski pesanan barang tahan lama anjlok 9,6% akibat penurunan pesanan pesawat, data inti masih tumbuh 0,2%, mengindikasikan kestabilan investasi bisnis. Di sisi lain, kabar perjanjian dagang AS-Jepang dan kemungkinan kesepakatan dengan Uni Eropa sebelum tenggat 1 Agustus terus menekan harga emas karena mengurangi ketidakpastian global.

Presiden AS Donald Trump juga menyebut sebagian besar kesepakatan dagang sudah rampung, dengan tarif baru antara 10%–15% segera diumumkan. Meskipun Trump kini bersikap lebih lunak terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, kunjungannya ke gedung bank sentral belum memberikan dampak signifikan ke pasar. Dua poin penting:

Kesimpulan Sentimen:

Bearish. Kombinasi fundamental ekonomi AS yang kokoh, penguatan dolar, dan berkurangnya ketidakpastian global mendorong pelemahan berkelanjutan pada harga emas dalam jangka pendek.

Harga Minyak Turun ke Level Terendah 3 Pekan di Tengah Kekhawatiran Ekonomi dan Potensi Suplai Baru.

  • Kekhawatiran atas pelemahan ekonomi AS dan China serta potensi peningkatan pasokan dari Venezuela dan Iran menekan harga minyak.

  • Harapan kesepakatan dagang dan prospek penurunan suku bunga AS membatasi penurunan harga lebih dalam.

Harga minyak mentah berakhir melemah pada Jumat, mencatat penutupan terendah dalam tiga pekan, seiring kekhawatiran pasar atas lemahnya data ekonomi dari AS dan China serta potensi bertambahnya pasokan global. Brent turun 1,1% ke $68,44 per barel, sementara WTI jatuh 1,3% ke $65,16, menjadikan penurunan mingguan masing-masing sekitar 1% dan 3%. Tekanan harga ini muncul meskipun ada harapan bahwa kesepakatan dagang AS–UE yang mungkin dicapai akhir pekan ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.

Data ekonomi AS menunjukkan perlambatan investasi bisnis setelah pesanan barang modal manufaktur turun pada Juni. Di China, pendapatan fiskal terus menurun, memperkuat kekhawatiran bahwa dua ekonomi terbesar dunia sedang melambat. Namun, sentimen sempat terbantu oleh komentar Presiden Trump usai bertemu dengan Ketua The Fed, memberi kesan bahwa pemangkasan suku bunga mungkin sedang dipertimbangkan—kondisi yang biasanya mendukung harga minyak melalui peningkatan permintaan.

Dari sisi suplai, kekhawatiran meningkat setelah muncul kabar bahwa Chevron dan mitra PDVSA akan diizinkan beroperasi secara terbatas di Venezuela, berpotensi menambah pasokan 200.000 barel per hari. Iran juga melanjutkan negosiasi nuklir, membuka peluang ekspor tambahan jika sanksi dilonggarkan. Meski demikian, OPEC+ diperkirakan tidak akan mengubah rencana kenaikan produksi saat panel JMMC bertemu Senin nanti, karena permintaan musim panas masih mampu menyerap pasokan tambahan.

Kesimpulan Sentimen:

Bearish. Tekanan dari sisi permintaan akibat lemahnya ekonomi global, ditambah potensi bertambahnya suplai dari negara-negara yang selama ini terkena sanksi, membuat sentimen harga minyak condong ke arah penurunan.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada laporan data ekonomi hari ini yang dapat mempengaruhi pergerakan harga komoditi, pasar saham AS, dan forex dari aspek fundamental analisis.

Share on: