Wall Street Menang Tipis: Pasar Rayakan Diplomasi Tarif, Tapi Bayang-bayang Fiscal Capture Mengintai.
Pasar saham menguat karena Trump buka pintu negosiasi tarif, redakan risiko perang dagang.
Lonjakan penerimaan tarif picu spekulasi bahwa strategi Trump berubah dari “tarif untuk negosiasi” menjadi “tarif untuk pendapatan negara”.
S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor pada Senin (14 Juli 2025), ditopang harapan bahwa Presiden AS Donald Trump masih terbuka untuk negosiasi dagang meskipun gelombang tarif baru sedang bergulir. Trump menyatakan surat-surat tarif yang dikirim ke mitra dagang seperti Uni Eropa dan Meksiko adalah “kesempatan untuk berdialog,” menenangkan kekhawatiran investor akan eskalasi perang dagang besar. Nasdaq naik 0,3% ke rekor baru di 20.640,33, sementara Dow dan S&P menguat tipis masing-masing 0,2% dan 0,1%.
Namun di balik euforia pasar, lonjakan penerimaan bea masuk AS memunculkan spekulasi bahwa tarif kini bukan hanya alat negosiasi, melainkan sumber utama penerimaan negara. Dengan tarif menyumbang $113 miliar dalam sembilan bulan fiskal dan diprediksi tembus $300 miliar hingga akhir tahun, analis menilai Trump mungkin menjalankan strategi “tariff for revenue,” bukan hanya tekanan diplomatik. Hal ini didukung oleh data surplus anggaran Juni dan strategi fiskal Gedung Putih lewat UU “One Big Beautiful Budget Act” (OBBBA) yang sangat mengandalkan penerimaan tarif.
Ekspektasi investor kini terfokus pada rilis data inflasi CPI AS hari Selasa, yang diprediksi naik menjadi 2,6% YoY. Jika data mendukung tekanan inflasi akibat tarif, The Fed bisa terdorong menunda pemangkasan suku bunga. Di sisi lain, narasi bahwa tarif kini menjadi bagian dari strategi fiskal besar AS juga berpotensi mendorong kurva yield AS lebih curam, akibat ekspektasi inflasi jangka panjang yang lebih tinggi.
Kesimpulan Sentimen:
Bullish terbatas. Sentimen pasar saham tetap positif jangka pendek karena peluang diplomasi tarif terbuka, namun prospek inflasi dan strategi fiskal berbasis tarif mulai mengganggu dinamika yield dan ekspektasi The Fed.
Tarif Melebar, Emas Tertekan: Saat Safe Haven Diuji Dollar & Data CPI.
Tarif AS 30%-100% tekan sentimen global, tetapi dolar AS yang menguat batasi kenaikan emas.
Data CPI AS dan PDB China menjadi katalis kunci arah emas selanjutnya.
Harga emas tergelincir 0,19% pada Senin ke $3.347 akibat kekuatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi, meski ketegangan geopolitik dan tarif dagang global meningkat. Presiden AS Donald Trump secara resmi memberlakukan tarif 30% terhadap barang-barang dari Uni Eropa dan Meksiko, serta mengancam tarif tambahan hingga 100% untuk Rusia. Hal ini sempat mendorong harga emas ke $3.374 sebelum kembali turun.
Sentimen pasar juga terbebani oleh ekspektasi rilis data inflasi AS (CPI) yang diprediksi naik dari 2,4% ke 2,7% YoY, memperkuat spekulasi bahwa The Fed masih harus menjaga kebijakan moneter ketat. Di sisi lain, sebagian pejabat The Fed seperti Daly dan Waller mulai mengisyaratkan peluang dua kali penurunan suku bunga pada 2025, namun tetap mewaspadai dampak inflasi dari tarif-tarif baru tersebut.
Sementara itu, surat resmi Trump telah dikirim ke 23 negara, termasuk peringatan tarif tambahan untuk semua mitra dagang. Meski tarif ini biasanya menjadi pemicu kenaikan emas sebagai aset lindung nilai, penguatan dolar AS dan imbal hasil Treasury telah menahan lonjakan harga emas. Investor kini menantikan data CPI dan PDB China untuk menentukan arah selanjutnya.
Kesimpulan Sentimen:
Netral ke Bearish. Tekanan dari dolar yang menguat dan yield tinggi mengimbangi dukungan dari risiko geopolitik, membuat harga emas sulit melanjutkan reli hari ini.
Minyak Goyah: Harga Minyak Turun Diterpa Ancaman Sanksi dan Tarif Trump.
Harga minyak turun karena ancaman sanksi dan tarif Trump menimbulkan ketidakpastian terhadap permintaan global.
Meskipun pasar minyak terlihat ketat dalam jangka pendek, proyeksi jangka menengah menunjukkan potensi surplus karena kenaikan pasokan OPEC+.
Harga minyak dunia turun lebih dari $1 pada Senin (14 Juli 2025), seiring pasar mencerna ancaman sanksi baru Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara pembeli minyak Rusia. Brent turun 1,63% ke $69,21 per barel, sementara WTI jatuh 2,15% ke $66,98. Awalnya harga sempat naik karena ekspektasi sanksi ketat, namun melemah kembali saat investor menilai sanksi masih dalam tahap wacana dan tidak langsung diterapkan.
Sinyal tarif tambahan 30% terhadap impor dari Uni Eropa, Meksiko, Jepang, Korea Selatan, dan Brasil juga membebani pasar, memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang berisiko menekan permintaan minyak. China dan India yang menjadi pembeli utama minyak Rusia pun terancam terkena imbas, meskipun analis menilai kemungkinan AS benar-benar memberlakukan tarif 100% kepada China sangat kecil karena risiko lonjakan inflasi.
Namun beberapa faktor pendukung tetap ada. Impor minyak China naik 7,4% YoY di bulan Juni, dan data dari IEA menegaskan bahwa pasar tetap ketat dalam jangka pendek, meskipun secara struktural diproyeksikan surplus di kuartal IV. Pelaku pasar juga mencermati potensi sanksi tambahan jika Trump menepati janjinya membuat “pengumuman besar” terkait Rusia, serta perkembangan RUU bipartisan di Kongres AS yang memperketat larangan energi dari Rusia.
Kesimpulan Sentimen:
Bearish moderat. Sentimen harga minyak untuk hari ini negatif karena tekanan dari retorika tarif dan sanksi AS meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan prospek perlambatan ekonomi global, meskipun fundamental jangka pendek masih mendukung.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
CPI (Core, MoM, YoY): Perkiraan inflasi lebih tinggi (⬆️) dari sebelumnya mengindikasikan tekanan harga yang meningkat, yang berpotensi mendukung USD (Naik).
