Dolar Melemah Usai Data Pekerjaan Buruk, Namun Perang Timur Tengah Tetap Menopang Safe Haven
Laporan NFP yang menunjukkan kehilangan pekerjaan meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan menekan dolar dalam jangka pendek.
- Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkatkan permintaan aset aman sehingga tetap menopang dolar secara keseluruhan.
Dolar AS melemah pada Jumat setelah laporan tenaga kerja Amerika menunjukkan penurunan tajam dalam penciptaan lapangan kerja. Data Nonfarm Payrolls Februari mencatat kehilangan sekitar 92 ribu pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 58 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%, mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Meski demikian, dolar masih mencatat kenaikan mingguan yang kuat karena meningkatnya permintaan aset safe haven akibat konflik Timur Tengah yang terus memanas. Ketegangan meningkat setelah Israel meluncurkan gelombang serangan besar terhadap infrastruktur di Teheran, sementara Iran membalas dengan serangan ke beberapa negara di kawasan seperti Israel, negara Teluk, Turki, dan Azerbaijan, sehingga memperluas risiko konflik regional.
Lonjakan harga energi akibat perang juga memperburuk prospek ekonomi global dan menambah tekanan inflasi. Para analis menilai selama konflik belum menunjukkan tanda mereda, dolar kemungkinan tetap mendapatkan dukungan dari permintaan safe haven meskipun data ekonomi domestik melemah. Pelaku pasar kini menilai level 100 pada indeks dolar sebagai titik teknikal penting yang dapat menentukan arah selanjutnya.
Sentimen negatif untuk Dollar AS: Melemahnya dolar akibat data ekonomi yang buruk serta meningkatnya risiko geopolitik.
Emas Melonjak Usai Data Pekerjaan AS Anjlok, Namun Tekanan Dolar Masih Mengintai
Laporan NFP yang menunjukkan kehilangan pekerjaan meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan menekan dolar dalam jangka pendek.
- Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkatkan permintaan aset aman sehingga tetap menopang dolar secara keseluruhan.
Harga emas melonjak lebih dari 1% pada sesi perdagangan Amerika Utara setelah laporan tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan pelemahan tajam. Data Nonfarm Payrolls Februari mencatat kehilangan sekitar 92 ribu pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan sekitar 59 ribu pekerjaan. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%, memicu peningkatan spekulasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
Sentimen risk-off di pasar global akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah turut memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Kombinasi data ekonomi AS yang melemah dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor kembali memburu logam mulia, sehingga harga XAU/USD sempat naik hingga mendekati level $5.140.
Meski demikian, emas masih berpotensi menutup pekan dengan kinerja negatif sekitar 2,5%. Penguatan dolar AS secara luas serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih menjadi faktor utama yang menekan harga emas sepanjang minggu ini. Pasar kini meningkatkan taruhan pemangkasan suku bunga The Fed hingga sekitar 43 basis poin pada akhir tahun, sementara investor menunggu serangkaian data ekonomi penting AS pekan depan, termasuk inflasi dan GDP.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen positif: Melemahnya dolar akibat data ekonomi yang buruk serta meningkatnya risiko geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga XAUUSD.
Harga Minyak Meledak, Selat Hormuz Lumpuh: Dunia Terancam Krisis Energi Baru
Gangguan jalur utama pengiriman minyak dunia menyebabkan penurunan pasokan global dan memicu lonjakan harga energi.
- Kenaikan harga minyak dan gas berpotensi mempercepat inflasi global serta menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Lonjakan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan besar pada pasokan energi global, terutama setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti. Jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia ini kini dipenuhi kapal yang tertahan, sementara sejumlah produsen utama seperti Irak, Kuwait, dan Qatar terpaksa memangkas produksi akibat kesulitan ekspor dan kerusakan infrastruktur energi. Harga minyak global pun melonjak lebih dari 25% sejak konflik dimulai.
Gangguan pasokan energi tersebut memicu reaksi berantai pada pasar global. Banyak kilang minyak di Asia menghentikan produksi karena kekurangan pasokan, sementara beberapa negara mulai mencari sumber energi alternatif. Di saat yang sama, harga bahan bakar global meningkat tajam, memicu risiko inflasi baru di berbagai negara dan memperburuk tekanan ekonomi global.
Sejumlah lembaga keuangan memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dari puncak krisis energi sebelumnya. Goldman Sachs menilai gangguan pasokan saat ini jauh lebih besar dibandingkan gangguan produksi Rusia pada 2022, sehingga dapat mempercepat penurunan cadangan minyak global. Jika Selat Hormuz tetap terganggu, pasar energi berisiko menghadapi lonjakan harga yang lebih ekstrem dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas, sementara inflasi yang lebih tinggi dan gangguan pasokan energi berisiko menekan stabilitas ekonomi global.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting yang diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
