Dolar Tertekan Tipis, Pasar Global Berayun antara Ketakutan AI dan Optimisme Fundamental

  • Dolar tetap mencatatkan kenaikan mingguan terbaik meski melemah tipis, didorong sentimen hawkish dari nominasi ketua The Fed baru.

  • Saham AS reli tajam ke rekor baru, namun sektor teknologi tertekan oleh kekhawatiran belanja besar AI dan ketidakpastian imbal hasil investasi.

Dolar AS melemah tipis pada Jumat, namun tetap mencatatkan kenaikan mingguan terbaik hampir dalam satu bulan. Indeks dolar turun 0,2% ke level 97,60, tetapi masih menguat sekitar 0,6% secara mingguan. Penguatan ini dipicu oleh sentimen hawkish setelah Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed, dinominasikan sebagai ketua bank sentral berikutnya, yang memicu ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat dan potensi penyusutan neraca The Fed.

Di sisi lain, gejolak pasar saham global akibat kekhawatiran belanja besar sektor teknologi untuk kecerdasan buatan (AI) sempat mendorong dolar sebagai aset safe haven. Meski demikian, Wall Street bangkit tajam pada Jumat, dengan Dow Jones menembus rekor baru di atas 50.000 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq juga menguat signifikan. Investor memanfaatkan koreksi sebelumnya untuk melakukan aksi beli, meski volatilitas diperkirakan masih tinggi.

Tekanan pada saham teknologi berlanjut setelah Amazon memperkirakan belanja modal 2026 mencapai US$200 miliar, jauh di atas ekspektasi pasar, sehingga sahamnya jatuh 5,6%. Data ekonomi AS menunjukkan sinyal campuran: pemutusan hubungan kerja meningkat dan klaim pengangguran naik, namun sentimen konsumen versi University of Michigan mencapai level tertinggi dalam enam bulan, sementara ekspektasi inflasi satu tahun turun ke level terendah 13 bulan. Pasar kini menunggu rilis data ketenagakerjaan resmi yang tertunda pekan depan.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif untuk Dollar AS: Didukung oleh optimisme fundamental, reli saham, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih jelas, meskipun dibayangi volatilitas dan risiko dari sektor teknologi.

 

Emas Bangkit dari Guncangan, Perak Tetap Berayun Tajam di Tengah Volatilitas Ekstrem

  • Emas pulih kuat setelah aksi jual ekstrem, didukung faktor safe haven dan stabilitas dolar.

  • Perak tetap sangat volatil dan masih mencatatkan penurunan mingguan besar akibat likuiditas yang menipis.

Harga emas dan perak menguat pada Jumat, menutup pekan yang sangat bergejolak setelah aksi jual besar di pasar logam mulia. Sentimen pasar terguncang sejak nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed memicu lonjakan dolar AS dan aksi unwinding besar-besaran pada emas dan perak. Pada perdagangan terakhir, spot emas naik 3,7% ke US$4.957,47 per ons, sementara spot perak melonjak 7,9% ke US$76,63 per ons.

Sepanjang pekan, emas bergerak ekstrem di rentang US$4.404 hingga US$5.092 per ons. Setelah gagal bertahan di atas level psikologis US$5.000, harga kembali menguat sejak sesi Asia. Analis menilai rebound cepat ini lebih dipicu oleh faktor posisi pasar dibanding perubahan makro, dengan likuiditas China yang masih longgar dan dolar yang relatif stabil tetap menopang harga. Ketegangan geopolitik AS–Iran juga kembali mendorong permintaan safe haven.

Sementara itu, perak menunjukkan volatilitas lebih tajam. Logam ini sempat melonjak hampir 11% di awal pekan, lalu anjlok sekitar 19% dalam satu hari, dan meski stabil di akhir sesi, masih mencatat penurunan mingguan sekitar 10%. Minimnya likuiditas dan berkurangnya minat investor China memperbesar fluktuasi, meski emas mulai menunjukkan tanda stabil di tengah meningkatnya permintaan lindung nilai.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Positif: Emas sebagai safe haven sementara untuk perak masih Bearish volatil.

Minyak Bangkit karena Risiko Geopolitik Iran, Namun Tertekan Prospek Oversupply

  • Risiko geopolitik AS–Iran menopang harga minyak, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus tekanan oversupply.

  • Prospek pasokan yang melimpah dan penguatan dolar membatasi kenaikan dan mendorong koreksi mingguan.

Harga minyak dunia ditutup menguat pada Jumat, berbalik dari pelemahan sebelumnya setelah pelaku pasar menilai perundingan AS–Iran belum cukup meredakan risiko konflik militer. Brent menguat 0,74% ke US$68,05 per barel, sementara WTI naik 0,41% ke US$63,55 per barel. Meski sempat turun di sesi Asia, kedua kontrak naik lebih dari US$1 saat sesi AS sebelum memangkas kenaikan menjelang penutupan.

Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor utama, mengingat sekitar 20% konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz. Perbedaan agenda antara Washington dan Teheran—di mana AS ingin membahas isu misil dan Iran membatasi pada nuklir—membuat pasar waspada. Walau Iran menyebut pembicaraan sebagai “awal yang baik” dan akan berlanjut, investor masih menimbang risiko gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.

Namun, secara mingguan harga minyak tetap tertekan oleh aksi ambil untung, penguatan dolar AS, serta kekhawatiran oversupply. Saudi Arabia kembali memangkas harga jual resmi ke Asia ke level terendah hampir lima tahun, sementara ekspor Kazakhstan berisiko turun hingga 35% bulan ini. Di tengah sinyal permintaan yang belum kuat, pasar menilai bahwa tanpa eskalasi geopolitik, minyak akan sulit mempertahankan reli.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen negatif: Karena faktor fundamental pasokan berlebih dan penguatan dolar lebih dominan dibandingkan dukungan dari risiko geopolitik.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Tidak ada rilis data ekonomi hari ini yang diperkirakan akan menyebabkan perubahan signifikan di pasar. Namun, pelaku pasar tetap akan mencermati pergerakan harga teknikal dan sentimen global sebagai panduan arah selanjutnya.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: