Dolar Tertekan di Tengah Ketidakpastian Trump dan Pasar Global.
Morgan Stanley memproyeksikan DXY turun ke 91 pada pertengahan 2026 akibat konvergensi suku bunga dan peningkatan risiko global.
Shutdown pemerintah AS dan ketidakpastian kebijakan Trump menambah tekanan jangka pendek pada dolar, meski arus modal ke AS tetap kuat.
Sejak kembalinya Presiden Donald Trump ke Gedung Putih, daya tarik dolar sebagai aset aman melemah tajam, dengan indeks dolar (DXY) turun sekitar 11%. Morgan Stanley memperingatkan investor akan tekanan lebih lanjut, memproyeksikan DXY merosot ke 91 pada pertengahan 2026, akibat ketidakpastian kebijakan dan pergeseran aliran global. Meskipun arus masuk ke aset AS dan permintaan Treasurys tetap tinggi, risiko meningkat dan konvergensi suku bunga AS dengan negara lain menekan potensi rebound dolar.
Kebuntuan politik AS, termasuk shutdown pemerintah yang memasuki minggu kedua, menunda rilis data ekonomi penting, sehingga investor dan pejabat The Fed harus mengandalkan data alternatif dari sumber swasta. Trump menandakan kesediaannya bernegosiasi dengan Demokrat soal subsidi kesehatan, membuka kemungkinan meredanya ketegangan politik, tetapi ketidakpastian tetap membayangi sentimen pasar.
Morgan Stanley menekankan bahwa meski ada optimisme investor terhadap pertumbuhan, premi risiko dan fokus global terhadap status dolar sebagai aset aman akan menahan penguatan mata uang AS. Investor dianjurkan untuk berhati-hati dalam menempatkan posisi karena tekanan fundamental dan risiko kebijakan tetap tinggi.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish untuk Dollar AS – Tekanan fundamental dari ketidakpastian politik, peningkatan risiko global, dan konvergensi suku bunga AS dengan negara lain diperkirakan akan terus menekan dolar hingga pertengahan 2026.
Emas Menanjak Rekor Baru Didukung Shutdown AS dan Fed Dovish.
Goldman Sachs menaikkan target emas 2026 menjadi $4,900 karena arus masuk ETF kuat dan akumulasi cadangan PBoC.
Shutdown AS dan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed meningkatkan daya tarik emas sebagai safe haven.
Harga emas melonjak ke level rekor, mencapai $3,991 sebelum menutup sesi di sekitar $3,982, seiring berlanjutnya shutdown pemerintah AS dan ekspektasi suku bunga rendah dari Federal Reserve (Fed) yang mendorong daya tarik safe-haven logam kuning. Ketidakpastian fiskal, perang Rusia-Ukraina, serta gejolak politik di Prancis dan Jepang semakin memperkuat permintaan emas, sementara arus masuk kuat ke ETF emas dan akumulasi cadangan PBoC mendukung kenaikan jangka panjang.
Data terbaru dari New York Fed menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun naik dari 3,2% menjadi 3,4%, sementara pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan. Para pejabat Fed memberikan sinyal dovish moderat; meski ada risiko inflasi dari tarif, data menunjukkan pertumbuhan melambat dan perlunya kebijakan moneter yang proaktif. Prediksi pasar saat ini memperkirakan kemungkinan 94% Fed akan menurunkan suku bunga 25 bps pada pertemuan 29 Oktober, yang semakin mendorong minat investor pada emas.
Goldman Sachs menyesuaikan target emas 2026 dari $4,300 menjadi $4,900, menegaskan fundamental bullish didukung oleh permintaan global dan ETF. Dengan tekanan pada dolar AS akibat suku bunga rendah dan ketidakpastian politik, emas diperkirakan akan terus menguat dalam jangka menengah hingga panjang.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Kombinasi faktor dovish Fed, ketidakpastian politik dan fiskal AS, arus masuk ETF yang tinggi, serta permintaan cadangan dari bank sentral mendukung prospek penguatan harga emas jangka menengah hingga panjang.
Harga Minyak Stabil di Tengah Kenaikan Stok AS dan Ketegangan Global.
Stok minyak mentah AS naik lebih tinggi dari perkiraan, sementara stok produk olahan turun, mencerminkan keseimbangan pasokan yang kompleks.
Dukungan harga datang dari konflik geopolitik (Rusia-Ukraina) dan permintaan Asia (India & Cina), namun surplus pasokan global tetap menjadi faktor penahan.
Harga minyak mentah AS (WTI) stabil di kisaran $62 per barel setelah laporan inventaris API menunjukkan kenaikan stok minyak mentah domestik sebesar 2,78 juta barel, lebih tinggi dari perkiraan 2,3 juta barel, sementara stok bensin dan distilat menurun masing-masing 1,25 juta dan 1,82 juta barel. Kenaikan produksi OPEC+ November sebesar 137.000 barel per hari lebih kecil dari ekspektasi pasar, memberikan dukungan terbatas pada harga di tengah prediksi surplus pasokan global.
Di sisi permintaan, konsumsi bahan bakar India naik 7% YoY pada September, sementara Cina terus membangun cadangan minyak strategisnya. Produksi minyak AS diproyeksikan mencapai rekor 13,53 juta bph tahun ini, dan stok global termasuk crude di kapal terus meningkat, menambah tekanan jangka menengah pada harga. Gejolak geopolitik, termasuk serangan drone di kilang Kirishi Rusia, tetap menjadi faktor yang menjaga harga tetap berada di level tinggi.
Analis menilai pasar minyak berada di tengah keseimbangan tipis antara pasokan yang meningkat dan risiko geopolitik, sehingga pergerakan harga cenderung terbatas. Meski ada dukungan dari ketegangan global dan permintaan Asia, tekanan dari stok yang meningkat secara konsisten menahan kenaikan signifikan.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Kenaikan stok minyak global dan produksi AS yang terus meningkat memberikan tekanan fundamental, sementara dukungan dari ketegangan geopolitik dan permintaan Asia hanya bersifat sementara, sehingga prospek jangka menengah harga minyak cenderung turun.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi NZD:
Keputusan Suku Bunga RBNZ: Penurunan suku bunga yang diperkirakan oleh Bank Sentral Selandia Baru (2.75% vs 3.00%) merupakan sinyal dovish yang kuat, yang berpotensi menekan NZD (⬇️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
