Damai AS–Iran Masih Abu-Abu, Dolar Bangkit dan Wall Street Kehilangan Tenaga
Harapan damai AS–Iran mulai memudar setelah Iran disebut menolak proposal pembukaan Selat Hormuz.
Dolar AS menguat kembali, sementara Wall Street melemah akibat ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga minyak.
Dolar AS kembali menguat pada Kamis setelah sempat melemah di awal perdagangan, seiring investor menimbang peluang meredanya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan tercapainya kesepakatan sementara sempat mendorong optimisme pasar global, namun sentimen berubah setelah muncul laporan bahwa Iran menolak proposal AS terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian ini membuat pasar kembali berhati-hati, sementara Wall Street ditutup melemah dengan S&P 500 turun 0,4%, Dow Jones terkoreksi 0,6%, dan NASDAQ turun 0,1%.
Negosiasi damai antara Washington dan Teheran disebut masih berlangsung melalui mediator, dengan pembicaraan lanjutan direncanakan digelar di Pakistan. Donald Trump menyatakan pembicaraan berjalan baik dan mengklaim AS telah “memenangkan” perang, tetapi Iran memberikan sinyal campuran dengan menyebut proposal AS belum disetujui dan masih dalam tahap peninjauan. Ketegangan kembali meningkat setelah media Iran melaporkan adanya serangan terhadap kapal tanker minyak Iran menjelang penutupan pasar Wall Street, yang memicu tekanan tambahan terhadap sentimen investor.
Harga minyak bergerak sangat volatil di tengah ketidakpastian konflik dan potensi dimulainya kembali operasi pengawalan kapal dagang AS di Selat Hormuz. Meski Brent sempat turun di bawah $100 per barel, harga energi tetap jauh di atas level sebelum perang dimulai. Di sisi lain, data tenaga kerja AS menunjukkan pasar kerja masih cukup stabil meskipun terjadi peningkatan PHK di sektor teknologi akibat belanja besar perusahaan pada kecerdasan buatan (AI).
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk Dollar AS: ketidakjelasan negosiasi damai dan meningkatnya kembali tensi geopolitik membuat investor kembali berhati-hati, menekan pasar saham dan meningkatkan volatilitas aset global.
Emas Kehilangan Tenaga, Harapan Damai AS–Iran Mulai Diragukan Pasar
Harga emas tertahan setelah pasar mulai meragukan tercapainya kesepakatan damai cepat AS–Iran.
Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed dan potensi inflasi energi membatasi kenaikan emas.
Harga emas memangkas sebagian penguatannya pada Kamis setelah dolar AS berbalik menguat di tengah memudarnya optimisme terhadap kesepakatan damai cepat antara Amerika Serikat dan Iran. Spot gold naik tipis 0,3% ke $4.705,76 per ons, sementara gold futures menguat 0,4% ke $4.714,84 per ons, tetapi keduanya turun dari level tertinggi dua pekan. Pasar mulai lebih berhati-hati setelah Iran memberikan sinyal campuran terkait proposal damai terbaru dari Washington dan muncul laporan bahwa AS mempertimbangkan kembali operasi pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz.
Washington dan Teheran dilaporkan masih membahas proposal perdamaian baru melalui mediator Pakistan, namun sejumlah perbedaan utama terkait program nuklir Iran dan inspeksi internasional masih belum terselesaikan. Iran juga mulai menerapkan aturan baru bagi kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz, termasuk kewajiban pengisian dokumen khusus agar terhindar dari risiko serangan. Donald Trump sebelumnya menghentikan sementara operasi “Project Freedom”, tetapi laporan terbaru menyebut AS berpotensi kembali melanjutkan operasi tersebut dengan dukungan Arab Saudi dan Kuwait.
Di sisi lain, pasar emas menghadapi tekanan dari ekspektasi bahwa lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah dapat memicu inflasi global dan mendorong bank sentral seperti Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi ini biasanya kurang menguntungkan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Meski dolar sempat melemah dan membantu menopang harga emas, analis menilai pergerakan gold saat ini cukup tidak biasa karena gagal reli kuat meskipun dunia menghadapi salah satu krisis energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: penguatan dolar AS serta kekhawatiran suku bunga tinggi akibat inflasi energi mengurangi daya tarik emas, meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Serangan Baru di Selat Hormuz Guncang Pasar, Harga Minyak Berbalik Meledak
Harga minyak berbalik naik tajam setelah laporan serangan baru AS terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz.
Ketidakjelasan negosiasi damai dan ancaman gangguan pasokan energi kembali memicu kekhawatiran pasar global.
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis setelah laporan media menyebut militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap lokasi Iran di sekitar Selat Hormuz. Sebelumnya harga minyak sempat turun lebih dari 5% karena harapan damai antara Washington dan Teheran, namun sentimen berubah drastis setelah muncul laporan serangan terhadap pelabuhan Qeshm dan kota Bandar Abbas. Minyak Brent akhirnya ditutup naik 1,2% ke $102,48 per barel, sementara WTI melonjak 2,8% ke $97,75 per barel.
Ketegangan meningkat karena Iran masih memberikan respons campuran terkait proposal damai terbaru dari AS. Donald Trump tetap menekan Iran agar menerima kesepakatan, sambil mempertahankan ancaman serangan baru jika negosiasi gagal. Di sisi lain, Iran mulai menerapkan aturan baru untuk kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz, termasuk kewajiban pengisian dokumen khusus atau berisiko diserang. Media Iran juga melaporkan bahwa kapal tanker minyak Iran diserang oleh militer AS, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal Iran terhadap unit musuh di sekitar selat.
Pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz karena jalur tersebut mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Ketidakpastian negosiasi dan potensi dimulainya kembali operasi militer AS untuk mengawal kapal dagang membuat kekhawatiran gangguan pasokan kembali meningkat. Di tengah lonjakan harga energi, perusahaan minyak besar seperti Shell
mencatat lonjakan laba besar akibat volatilitas harga minyak yang dipicu perang Timur Tengah.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Meningkatnya kembali tensi militer AS–Iran dan risiko terganggunya distribusi minyak global memperbesar ketidakpastian pasar serta meningkatkan tekanan inflasi energi dunia.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi AUD dan USD
Nonfarm Payrolls (Apr) – USD
Angka penyerapan tenaga kerja baru di luar sektor pertanian diprediksi turun tajam menjadi 65K dari angka sebelumnya yang cukup tinggi di 178K.
Dampak:
Berpotensi Bearish USD. Penurunan yang signifikan ini (jika rilis sesuai atau di bawah forecast) menunjukkan pelemahan serius di sektor tenaga kerja AS. Hal ini dapat memicu pelemahan Dolar AS secara masif dan biasanya menjadi katalis pendorong kenaikan harga Gold (XAUUSD).
- Unemployment Rate (Apr) – USD
Tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di level 4.3%.
Dampak:
Berpotensi Netral. Fokus pasar kemungkinan akan lebih tertuju pada penyimpangan angka NFP dibandingkan tingkat pengangguran yang statis. Namun, jika angka ini melonjak di atas 4.3%, tekanan jual pada USD akan semakin kuat.
- Average Hourly Earnings (MoM) – USD
Rata-rata upah per jam diprediksi naik tipis menjadi 0.3% dari sebelumnya 0.2%.
Dampak:
Berpotensi Bullish USD (Minor). Kenaikan upah sering dianggap sebagai indikator inflasi dari sisi biaya tenaga kerja. Jika upah naik lebih tinggi dari perkiraan di tengah data NFP yang buruk, pasar mungkin akan mengalami pergerakan dua arah (whipsaw) yang membingungkan.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
