Dolar AS Mengamuk, Harapan Damai Timur Tengah Retak, Pasar Ubah Taruhan Suku Bunga
Data NFP AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan meningkatkan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan memperkuat dolar AS.
Penolakan Hezbollah terhadap gencatan senjata Israel-Lebanon menghambat prospek perdamaian AS-Iran dan menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
Dolar AS melonjak ke level tertinggi hampir dua bulan pada Jumat setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat jauh melampaui ekspektasi pasar. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS menciptakan 172 ribu lapangan kerja pada Mei, jauh di atas perkiraan 85 ribu, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,3%. Data yang kuat tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun.
Di saat yang sama, upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran kembali menghadapi hambatan. Harapan pasar sempat meningkat setelah muncul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi AS. Namun situasi berubah setelah Hezbollah menolak kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai perjanjian yang tidak dapat diterima. Penolakan ini memperbesar keraguan terhadap prospek perdamaian kawasan dan mengurangi optimisme bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran akan segera menghasilkan kesepakatan final.
Ketidakpastian geopolitik yang berlanjut membuat Selat Hormuz masih belum kembali beroperasi normal, sehingga gangguan pasokan energi global tetap menjadi ancaman utama. Kenaikan harga minyak yang terjadi selama beberapa pekan terakhir terus memicu tekanan inflasi global, sementara dolar AS memperoleh dukungan ganda dari statusnya sebagai aset safe haven dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi. Akibatnya, pasar mulai mengurangi harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan kembali memperkuat posisi pada dolar AS.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk Dollar AS: Data tenaga kerja yang kuat meningkatkan ekspektasi kebijakan hawkish The Fed.
Emas Rontok Tajam! Data Tenaga Kerja AS Meledak, Peluang Kenaikan Suku Bunga Kembali Menguat
Data NFP AS sebesar 172 ribu jauh di atas ekspektasi 85 ribu, memperkuat peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan mendorong dolar AS menguat.
Hezbollah menolak gencatan senjata Israel-Lebanon sehingga ketidakpastian geopolitik Timur Tengah tetap tinggi dan menghambat proses perdamaian AS-Iran.
Harga emas anjlok tajam pada perdagangan Jumat setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat jauh melampaui ekspektasi pasar. Data Nonfarm Payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS menciptakan 172 ribu lapangan kerja pada Mei, jauh di atas perkiraan 85 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Merespons data tersebut, dolar AS melonjak ke level tertinggi hampir dua bulan dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik tajam, mendorong harga emas spot turun 3,3% ke US$4.325,96 per ons dan emas berjangka merosot 3,4% ke US$4.352,57 per ons.
Kuatnya pasar tenaga kerja memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, bahkan peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat. Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Kondisi ini menjadi tekanan besar bagi emas karena aset tanpa imbal hasil tersebut cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah Hezbollah menolak gencatan senjata Israel-Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat. Penolakan tersebut mengurangi harapan tercapainya kesepakatan damai yang lebih luas antara AS dan Iran. Selain itu, Selat Hormuz masih mengalami gangguan yang berdampak pada pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Namun, dukungan dari faktor geopolitik gagal mengimbangi tekanan kuat yang berasal dari penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen negatif:
- Data tenaga kerja AS yang sangat kuat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Dolar AS dan imbal hasil obligasi naik tajam, yang secara historis menjadi faktor negatif bagi emas.
- Risiko geopolitik memang masih mendukung aset safe haven, tetapi pengaruhnya saat ini kalah kuat dibanding dampak kebijakan moneter AS yang semakin hawkish.
Damai Timur Tengah Kembali Retak! Hezbollah Tolak Gencatan Senjata, Risiko Krisis Energi Global Membara
Hezbollah menolak gencatan senjata Israel-Lebanon, sehingga harapan tercapainya kesepakatan damai AS-Iran kembali melemah.
Selat Hormuz masih terganggu, menjaga risiko pasokan energi global tetap tinggi meskipun operasional pelabuhan utama Oman telah kembali normal.
Harga minyak dunia ditutup melemah pada Jumat setelah aktivitas di Pelabuhan Mina al Fahal, Oman, kembali normal pasca gangguan akibat dugaan serangan drone. Brent crude turun 2,3% ke US$92,89 per barel, sementara WTI melemah 3% ke US$90,25 per barel. Normalisasi operasional pelabuhan tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi di kawasan Teluk.
Namun, harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali terpukul setelah Hezbollah menolak gencatan senjata Israel-Lebanon yang dimediasi AS. Kelompok yang didukung Iran itu menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah yang “merendahkan” dan tidak dapat diterima. Penolakan ini memperburuk prospek diplomasi regional, sementara ketegangan militer terus berlanjut melalui serangan di Lebanon, Kuwait, Bahrain, dan sekitar Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, Selat Hormuz masih mengalami gangguan yang signifikan sehingga pasokan minyak global tetap tertekan. Meski harga minyak terkoreksi harian, Brent dan WTI masing-masing masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 0,9% dan 3,2%. Sementara itu, data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, yang berpotensi menjaga tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif:
- Prospek perdamaian AS-Iran kembali memburuk setelah penolakan Hezbollah terhadap gencatan senjata.
- Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz masih menjadi risiko utama bagi pasar energi.
- Ketegangan geopolitik yang berlanjut cenderung mendorong premi risiko pada harga minyak meskipun terjadi koreksi jangka pendek.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi JPY:
GDP (QoQ) (Q1) – JPY
Produk Domestik Bruto (GDP) adalah metrik makro absolut untuk mengukur pertumbuhan ekonomi Jepang. Model konsensus memproyeksikan stagnasi pertumbuhan di level 0.5%, sama persis dengan kuartal sebelumnya.
Dampak:
Katalis JPY. Mengingat Bank of Japan (BoJ) saat ini berada di bawah tekanan ekstrem terkait devaluasi struktural Yen, deviasi sekecil apa pun dari angka 0.5% ini akan langsung direspons oleh mesin algoritmik yang mengelola portofolio carry trade. Jika rilis aktual meleset ke bawah (kontraksi), ekspektasi normalisasi kebijakan BoJ akan kembali memudar, memicu aksi jual lanjutan pada JPY.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
