Wall Street Meledak ke Rekor Baru, Harapan Damai AS–Iran Hancurkan Harga Minyak
Wall Street mencetak rekor baru didorong harapan damai AS–Iran dan anjloknya harga minyak.
Harga minyak turun tajam, meredakan kekhawatiran inflasi dan meningkatkan minat terhadap aset berisiko.
Wall Street ditutup menguat tajam pada Rabu setelah harga minyak anjlok akibat meningkatnya harapan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Indeks S&P 500 melonjak 1,4% ke rekor 7.363,68, NASDAQ melesat 2% ke level tertinggi sepanjang masa di 25.838,94, sementara Dow Jones naik 1,2% ke 49.910,59. Sentimen pasar juga didorong oleh lonjakan saham AMD setelah laporan kinerja perusahaan yang kuat, yang mengangkat sektor chip dan teknologi secara keseluruhan.
Optimisme pasar meningkat setelah laporan bahwa Washington dan Teheran tengah membahas memorandum awal untuk mengakhiri konflik. Proposal tersebut mencakup penghentian perang, pelonggaran sanksi terhadap Iran, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini terganggu akibat konflik. Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan semakin besar, meskipun ia juga memperingatkan bahwa aksi militer dapat kembali meningkat jika negosiasi gagal. Iran sendiri mengonfirmasi sedang meninjau proposal tersebut melalui jalur mediasi Pakistan.
Harapan meredanya konflik membuat harga minyak jatuh tajam, dengan Brent turun 7,8% ke $101,33 per barel dan WTI merosot 7% ke $95,10 per barel. Penurunan ini meredakan kekhawatiran inflasi global dan memperbaiki sentimen investor terhadap aset berisiko. Meski demikian, beberapa analis memperingatkan bahwa optimisme pasar masih lebih banyak didorong sentimen dan likuiditas besar di pasar, sementara risiko geopolitik dan kerusakan infrastruktur di kawasan belum benar-benar terselesaikan.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk indeks saham AS: Harapan berakhirnya konflik Timur Tengah dan turunnya harga minyak mengurangi tekanan inflasi global, meningkatkan optimisme pasar, dan mendorong reli kuat di pasar saham.
AS–Iran Makin Dekat Damai, Dolar Tersungkur dan Emas Bersinar
Bank sentral global yang bersikap hawkish dan suku bunga tinggi memberikan tekanan kuat terhadap emas.
Konflik AS–Iran memicu inflasi melalui kenaikan harga minyak, sehingga dolar AS lebih diuntungkan dibandingkan emas.
Harapan pasar terhadap berakhirnya konflik Timur Tengah meningkat tajam setelah laporan menyebut Gedung Putih semakin dekat mencapai kesepakatan awal dengan Iran untuk mengakhiri perang. Proposal yang dibahas berupa memorandum satu halaman yang akan menjadi dasar negosiasi nuklir lebih lanjut, termasuk penghentian pengayaan nuklir Iran, pencabutan sanksi AS, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur perdagangan energi global. Washington dikabarkan menunggu respons resmi Teheran dalam 48 jam ke depan.
Donald Trump menyatakan bahwa jika Iran menerima kesepakatan tersebut, maka blokade dan konflik di Selat Hormuz akan berakhir. Namun, Trump juga memperingatkan bahwa jika negosiasi gagal, serangan militer dapat kembali meningkat dengan intensitas lebih besar. Iran sendiri mengonfirmasi sedang meninjau proposal tersebut melalui mediasi Pakistan, sementara operasi militer “Project Freedom” yang sebelumnya digunakan untuk mengawal kapal dagang di Selat Hormuz dihentikan sementara sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.
Perkembangan ini memicu pelemahan dolar AS dan penurunan tajam harga minyak karena pasar melihat peluang perdamaian semakin besar. Di sisi lain, emas justru mendapat dorongan karena kombinasi dolar yang melemah dan permintaan safe haven yang masih bertahan di tengah ketidakpastian negosiasi. Meski demikian, potensi kenaikan suku bunga The Fed akibat tekanan inflasi energi masih menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan emas ke depan.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Peluang perdamaian mengurangi risiko geopolitik dan tekanan energi global, sementara pelemahan dolar meningkatkan daya tarik emas di pasar internasional.
Harga Minyak Ambruk ke Titik Terendah Dua Pekan, Pasar Bertaruh pada Damai AS–Iran
Harga minyak anjlok tajam karena meningkatnya harapan damai AS–Iran dan potensi dibukanya kembali Selat Hormuz.
Pasar mulai memperkirakan normalisasi pasokan energi global meski proses pemulihan diperkirakan memakan waktu.
Harga minyak dunia jatuh tajam pada Rabu ke level terendah dalam dua pekan setelah muncul optimisme bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Minyak Brent anjlok 7,83% ke $101,27 per barel, sementara WTI turun 7,03% ke $95,08 per barel. Penurunan ini dipicu laporan bahwa kedua negara tengah membahas memorandum awal yang dapat membuka jalan menuju penghentian perang dan pemulihan jalur perdagangan energi global.
Sumber dari mediator Pakistan menyebut negosiasi antara Washington dan Teheran semakin mendekati titik temu, sementara Iran mengonfirmasi sedang meninjau proposal baru dari AS. Laporan media AS menyebut respons Iran atas beberapa poin penting diperkirakan akan disampaikan dalam 48 jam ke depan. Optimisme pasar meningkat karena peluang dibukanya kembali Selat Hormuz dinilai semakin besar, meskipun pernyataan dari Donald Trump dan pejabat Iran menunjukkan bahwa kesepakatan final belum sepenuhnya tercapai.
Penurunan harga minyak juga dipengaruhi ekspektasi bahwa normalisasi pengiriman energi global akan mulai terjadi jika ketegangan mereda. Meski demikian, analis memperingatkan bahwa pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz tetap membutuhkan waktu beberapa minggu karena dampak gangguan distribusi yang sudah berlangsung sejak Februari. Di sisi lain, persediaan minyak AS terus menyusut akibat tingginya kebutuhan global untuk menutupi kekurangan pasokan selama konflik berlangsung.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Potensi berakhirnya konflik dan membaiknya distribusi energi global mengurangi kekhawatiran pasar terhadap krisis pasokan serta tekanan inflasi, sehingga mendukung sentimen risiko di pasar keuangan.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- Initial Jobless Claims – USD
Data klaim pengangguran mingguan AS diproyeksikan akan naik menjadi 205K dibandingkan angka sebelumnya di 189K. Kenaikan jumlah orang yang mengajukan klaim pengangguran menunjukkan adanya sedikit pelemahan dalam ketatnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Dampak:
Potensi Bearish USD. Jika rilis aktual sesuai atau bahkan lebih tinggi dari forecast 205K, hal ini akan menekan nilai tukar Dolar AS karena pasar menangkap sinyal perlambatan ekonomi. Sebaliknya, jika angka aktual tetap rendah (mendekati 189K), Dolar bisa mendapatkan momentum penguatan mendadak.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
