Shutdown Panjang Tekan Dolar AS: Pasar Antisipasi Pemangkasan Suku Bunga Lanjutan oleh The Fed.
Shutdown AS menunda rilis data ekonomi penting seperti NFP, CPI, dan GDP, menciptakan “kekosongan data” menjelang rapat The Fed.
Ekspektasi kuat terhadap pemangkasan suku bunga lebih lanjut menekan Dolar AS dan memperlemah daya tarik aset berdenominasi dolar.
Dolar AS melemah pada perdagangan Jumat, terseret oleh volatilitas rendah akibat berlanjutnya shutdown pemerintah AS yang menunda rilis data ekonomi penting seperti Nonfarm Payrolls (NFP). Indeks Dolar (DXY) turun 0,1% ke 97.47 setelah sempat menguat di sesi sebelumnya. Kondisi ini menambah ketidakpastian menjelang rapat Federal Reserve akhir Oktober, di mana pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga lagi tahun ini. Laporan ADP sebelumnya menunjukkan penurunan 32.000 pekerjaan di sektor swasta, memperkuat pandangan bahwa The Fed akan lebih dovish untuk menahan perlambatan pasar tenaga kerja.
Shutdown yang dimulai sejak 1 Oktober kini menjadi yang ke-15 sejak 1980, dengan potensi dampak lebih luas karena kebuntuan politik antara Demokrat dan Republik. Jefferies memperingatkan bahwa penundaan data seperti CPI, GDP, dan NFP menciptakan “kekosongan data” yang dapat membuat The Fed bersikap lebih berhati-hati. Sementara itu, sektor-sektor yang bergantung pada izin dan regulasi pemerintah—seperti farmasi, teknologi, dan kontraktor pertahanan—berisiko mengalami gangguan serius dalam pendanaan dan proyek.
Secara historis, pasar saham mampu pulih cepat dari shutdown, namun kali ini tekanan datang dari dua sisi: ketidakpastian fiskal dan ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Investor kini menilai dua kali pemotongan lagi hingga akhir tahun, dan kemungkinan tambahan 50 basis poin pada 2026. Dengan tidak adanya rilis resmi NFP hari ini akibat shutdown, fokus pasar beralih pada data swasta dan pernyataan pejabat The Fed.
Source materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk Dollar AS – Ekspektasi tinggi terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dan keterlambatan rilis data ekonomi utama akibat shutdown pemerintah AS menekan daya tarik dolar. Ketidakpastian fiskal dan lemahnya imbal hasil riil mendorong investor beralih ke emas dan aset lindung nilai lainnya, sehingga menambah tekanan terhadap dolar AS.
UBS Naikkan Target Emas ke $4.200: Lonjakan Permintaan Investor dan Pemangkasan Suku Bunga Jadi Pemicu.
UBS menaikkan proyeksi harga emas menjadi $4.200 per ons karena meningkatnya permintaan dari bank sentral dan ETF, serta tekanan defisit fiskal global.
Penurunan suku bunga riil dan pelemahan dolar AS terus memperkuat minat investor terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai.
UBS kembali menaikkan proyeksi harga emas menjadi $4.200 per troy ounce, mencerminkan meningkatnya permintaan investor di tengah ketidakpastian makroekonomi, tekanan fiskal global, dan dorongan pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta ETF. UBS menilai momentum ini akan berlanjut karena suku bunga riil menurun dan defisit fiskal di AS maupun Eropa belum menunjukkan tanda perbaikan. Sementara itu, perak juga diproyeksikan menguat hingga $55 per ounce, mencerminkan potensi overshoot akibat volatilitas yang lebih tinggi.
Kinerja logam mulia pada 2025 dinilai luar biasa, dengan emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dan perak mencapai level tertinggi sejak 2011. UBS menyoroti bahwa “fear of missing out” di pasar aset riil masih kuat, didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed serta pelemahan dolar AS. Data UBS memperkirakan bank sentral akan membeli 900–950 ton emas tahun ini, sedikit di bawah rekor 2024, sementara ETF menunjukkan lonjakan arus masuk hingga 70% lebih tinggi dibanding 2020.
Menurut Deutsche Bank, kombinasi permintaan resmi (bank sentral) dan investor institusional (ETF) menjadi kekuatan dominan yang menjaga reli emas, bahkan melampaui ekspektasi model fundamental. Meski permintaan perhiasan menurun akibat harga tinggi, faktor ini dinilai tidak bearish karena kontribusi utamanya kini digantikan oleh akumulasi investasi. Dengan pasokan daur ulang yang juga lebih rendah dari tren historis, ruang kenaikan emas dinilai masih terbuka lebar hingga akhir tahun.
Source materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — kombinasi kebijakan moneter longgar, lonjakan pembelian institusional, dan defisit fiskal global menciptakan fondasi kuat bagi reli emas berkelanjutan menuju level rekor baru.
Harga Minyak Naik Tipis, tapi Tekanan Oversupply dari OPEC+ dan Permintaan Lesu Masih Bayangi Pasar.
OPEC+ diperkirakan akan menaikkan produksi minyak lebih lanjut pada pertemuan akhir pekan ini, menambah tekanan oversupply global.
Stok minyak AS meningkat dan permintaan musiman menurun, memperkuat proyeksi surplus minyak pada kuartal IV 2025.
Harga minyak dunia berakhir sedikit lebih tinggi pada Jumat (3/10) namun mencatat penurunan mingguan tajam sebesar 8,1%, tertekan oleh kekhawatiran peningkatan pasokan dari OPEC+. Brent ditutup naik 0,7% di $64,53 per barel, sementara WTI naik 0,7% ke $60,88 per barel. Namun, secara mingguan, Brent anjlok 8,1% dan WTI merosot 7,4% — menjadi penurunan terbesar dalam lebih dari tiga bulan. Kabar bahwa delapan negara anggota OPEC+ berpotensi menaikkan produksi, dengan dorongan kuat dari Arab Saudi untuk merebut pangsa pasar, menjadi faktor utama yang menekan harga.
Kelebihan pasokan semakin diperkuat oleh kembalinya aliran minyak dari wilayah Kurdistan ke Turki untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun serta kenaikan stok minyak mentah AS. Laporan EIA menunjukkan peningkatan cadangan minyak, bensin, dan distilat di tengah pelemahan aktivitas kilang dan permintaan. Di sisi lain, data Rystad Energy dan JPMorgan memperkirakan pasar minyak akan memasuki surplus besar pada kuartal IV 2025 dan berlanjut tahun depan, seiring berakhirnya musim puncak permintaan dan meningkatnya output global.
Meskipun terjadi kebakaran di kilang Chevron El Segundo, para analis menilai dampaknya terhadap produksi terbatas dan tidak cukup menopang harga. Sentimen pasar tetap dibayangi oleh potensi kenaikan produksi OPEC+ dan menurunnya permintaan global, sementara faktor geopolitik seperti negosiasi Hamas–Trump juga belum memberikan dukungan signifikan bagi harga minyak.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — potensi peningkatan produksi OPEC+, kenaikan stok AS, serta prospek surplus pasokan global menciptakan tekanan berkelanjutan yang membatasi ruang kenaikan harga minyak.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Tidak ada rilis data ekonomi hari ini yang diperkirakan akan menyebabkan perubahan signifikan di pasar. Namun, pelaku pasar tetap akan mencermati pergerakan harga teknikal dan sentimen global sebagai panduan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
