Dolar Tetap Tangguh di Tengah Redanya Konflik, Yen Melemah Meski Intervensi Jepang
Dolar AS menguat tipis didukung stabilitas geopolitik dan data ekonomi yang solid.
Yen Jepang melemah meski ada intervensi besar dari otoritas Tokyo.
Dolar AS menguat tipis pada Selasa di tengah meredanya ketegangan geopolitik setelah Washington memastikan gencatan senjata dengan Iran masih berlangsung. Indeks dolar naik 0,1% ke level 98,45, mencerminkan pergeseran investor ke aset berisiko dan menjauhi aset safe haven. Pernyataan dari pemerintah AS terkait stabilitas jalur pelayaran di Selat Hormuz membantu meredakan kekhawatiran pasar, meskipun situasi di kawasan tersebut masih tergolong rapuh.
Di sisi lain, yen Jepang terus melemah terhadap dolar setelah sempat menguat tajam pekan lalu akibat dugaan intervensi dari otoritas Tokyo. Mata uang Jepang terakhir diperdagangkan di kisaran 157,89 per dolar, dengan pasar meyakini pemerintah Jepang telah menggelontorkan hingga ¥5,48 triliun untuk menahan pelemahan. Menteri Keuangan Jepang juga memperingatkan pelaku pasar agar tidak berspekulasi berlebihan, menandakan potensi intervensi lanjutan jika volatilitas meningkat.
Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan gambaran yang relatif stabil. Lowongan kerja (JOLTS) sedikit di atas ekspektasi, sementara sektor jasa masih menunjukkan ekspansi meski melambat. Tekanan inflasi tetap menjadi perhatian, terutama akibat kenaikan harga energi, namun tidak melonjak setajam yang dikhawatirkan. Kombinasi stabilitas ekonomi dan meredanya ketegangan geopolitik menjaga kekuatan dolar, sekaligus membatasi permintaan terhadap aset lindung nilai.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif untuk Dollar AS: Meredanya ketegangan geopolitik dan data ekonomi yang tetap kuat meningkatkan minat terhadap aset berisiko sekaligus menjaga daya tarik dolar AS di pasar global.
Emas Melejit di Tengah Damai Semu: Hormuz Dibuka, Risiko Belum Usai
Emas rebound tipis setelah kepastian gencatan senjata AS–Iran masih bertahan.
Tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi membatasi kenaikan emas.
Harga emas menguat tipis pada Selasa setelah sebelumnya jatuh ke level terendah dalam lebih dari satu bulan, seiring meredanya kekhawatiran pasar setelah Amerika Serikat memastikan gencatan senjata dengan Iran masih bertahan. Emas spot naik 0,7% ke $4.555,99 per ons, sementara kontrak berjangka juga menguat dengan persentase yang sama. Kenaikan ini terjadi setelah tekanan besar di sesi sebelumnya, di mana emas sempat turun lebih dari 2% akibat lonjakan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Ketegangan antara AS dan Iran masih berlangsung, namun pernyataan dari Donald Trump dan pejabat AS menegaskan bahwa operasi “Project Freedom” bersifat defensif dan tidak bertujuan memicu konflik lebih luas. Meskipun sempat terjadi serangan rudal dan drone, jalur pelayaran mulai kembali dibuka secara terbatas, memberikan sedikit ketenangan bagi pasar. Di sisi lain, Iran juga mengisyaratkan peluang diplomasi masih terbuka, meski situasi tetap rapuh.
Namun, kenaikan emas tertahan oleh faktor fundamental yang lebih dominan, yakni lonjakan harga energi yang meningkatkan ekspektasi inflasi dan suku bunga tinggi. Kondisi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi serta penguatan dolar AS, yang menekan daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Akibatnya, meskipun risiko geopolitik masih tinggi, emas belum mampu membangun momentum kenaikan yang kuat dan masih tertekan lebih dari 10% sejak konflik dimulai.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Meskipun ada sedikit pemulihan dari sisi geopolitik, faktor dominan seperti inflasi tinggi, suku bunga yang tetap tinggi, dan dolar kuat masih menekan pergerakan emas.
Minyak Terkoreksi Tajam: Redanya Konflik Pangkas Euforia Energi Global
Harga minyak turun tajam setelah meredanya ketegangan AS–Iran dan stabilisasi Selat Hormuz.
Pasokan global mulai pulih dengan peran AS sebagai eksportir utama energi.
Harga minyak dunia turun signifikan pada Selasa setelah sebelumnya melonjak tajam, seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak Brent melemah sekitar 4% ke $109,90 per barel, sementara WTI turun 4,4% ke $101,77 per barel. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan yang lebih menenangkan dari kedua pihak serta tanda-tanda bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali stabil.
Upaya AS melalui “Project Freedom” yang diumumkan oleh Donald Trump untuk mengamankan jalur perdagangan minyak dinilai mulai menunjukkan hasil. Sejumlah kapal dilaporkan berhasil melintasi selat dengan pengawalan militer, sementara pernyataan pejabat AS menegaskan bahwa operasi ini bersifat defensif dan tidak ditujukan untuk memicu konflik. Di sisi lain, Iran juga memberi sinyal terbuka terhadap jalur diplomasi, meskipun situasi masih belum sepenuhnya stabil.
Selain itu, pasar mulai melihat potensi berkurangnya gangguan pasokan global, terutama dengan meningkatnya ekspor minyak dari AS yang mampu mengisi sebagian kekosongan pasokan akibat konflik. Pernyataan Trump bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan turut menambah optimisme pasar. Kombinasi stabilisasi geopolitik dan penyesuaian pasokan ini mendorong koreksi harga minyak setelah reli tajam sebelumnya.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif: Meredanya konflik dan mulai pulihnya jalur distribusi energi mengurangi risiko gangguan pasokan, sehingga menenangkan pasar dan menekan harga minyak.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- ADP Nonfarm Employment Change (Apr) – USD
Perubahan tenaga kerja sektor swasta diperkirakan meningkat signifikan menjadi 116K dari angka sebelumnya yang hanya 62K. Data ini sering dianggap sebagai indikator awal sebelum rilis data resmi Government Non-Farm Payrolls (NFP).
Dampak:
Berpotensi Bullish USD. Jika rilis aktual sesuai atau melebihi forecast 116K, ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS yang kembali menguat, yang dapat mendorong penguatan Dolar AS secara jangka pendek.
- Crude Oil Inventories – USD
Persediaan minyak mentah AS diperkirakan akan mengalami penurunan (drawdown) sebesar -2.800M barel.
Dampak:
Berpotensi volatilitas pada Oil/WTI. Meskipun diprediksi menurun, angka ini lebih kecil dibandingkan penurunan sebelumnya sebesar -6.234M. Jika hasil aktual menunjukkan penurunan yang jauh lebih dalam dari forecast, harga minyak mentah berpotensi naik karena keterbatasan suplai.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
