Wall Street Bergerak Tipis Jelang Data Inflasi Penentu Arah Suku Bunga The Fed

  • Klaim pengangguran AS turun ke level terendah 3 tahun, menandakan pasar kerja masih kuat.

  • Peluang pemangkasan suku bunga The Fed tetap tinggi di sekitar 85%, menjadi fokus utama pasar.

Indeks saham AS bergerak cenderung menguat tipis pada Kamis menjelang rilis data inflasi penting yang akan menjadi acuan utama The Fed pekan depan. Pada penutupan perdagangan, S&P 500 naik 0,1%, Nasdaq menguat 0,2%, sementara Dow Jones turun tipis 0,1%. Investor memilih menahan posisi sambil menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga.

Dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran mingguan turun ke level terendah dalam tiga tahun di 191 ribu, mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih cukup solid. Namun, pelaku pasar tetap fokus pada rilis Core PCE, indikator inflasi favorit The Fed, yang akan sangat menentukan apakah pemangkasan suku bunga Desember benar-benar terjadi. Saat ini, peluang pemotongan suku bunga masih berada di kisaran 85%.

Sentimen dovish semakin kuat seiring spekulasi perubahan kepemimpinan The Fed di masa depan, dengan nama Kevin Hassett disebut lebih condong ke kebijakan longgar dibanding Jerome Powell. Meski kemungkinan pemangkasan suku bunga semakin besar, sejumlah analis menilai The Fed masih akan bersikap hati-hati karena inflasi belum benar-benar jinak, dan perbedaan pandangan di internal FOMC diperkirakan tetap tinggi.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk indeks saham AS: Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed masih menjadi pendorong utama pasar saham, meskipun penguatan saat ini masih terbatas karena investor menunggu konfirmasi inflasi dari data Core PCE.

Emas Tetap Kokoh di Atas $4.200 Jelang Data Inflasi Kunci AS

  • Peluang pemangkasan suku bunga The Fed mencapai 85%, menjaga daya tarik emas tetap kuat.

  • Pembelian emas bank sentral sebesar 53 ton menjadi penopang utama tren naik emas sepanjang 2025.

Harga emas (XAU/USD) mencatat kenaikan tipis sekitar 0,25% ke $4.212 pada Kamis, didorong oleh ekspektasi kuat pemangkasan suku bunga The Fed pekan depan yang kini berada di kisaran 85%. Meski data tenaga kerja AS menunjukkan pasar kerja masih relatif solid, tanda-tanda perlambatan mulai terlihat, membuat emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai.

Data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan hasil yang bercampur. Laporan Challenger mencatat lonjakan PHK tertinggi untuk November sejak 2022, sementara klaim pengangguran justru turun ke level terendah sejak September 2022 di 191 ribu. Di sisi lain, laporan ADP sebelumnya mencatat pemangkasan 32 ribu tenaga kerja, memperkuat ekspektasi bahwa ekonomi AS mulai melambat secara bertahap.

Di pasar obligasi, yield obligasi AS 10 tahun naik ke 4,104% dan real yield ikut meningkat, sehingga membatasi laju kenaikan emas. Namun, sentimen jangka menengah tetap mendapat dukungan kuat setelah World Gold Council (WGC) melaporkan pembelian emas bank sentral sebesar 53 ton pada Oktober, menjadi yang terkuat sepanjang tahun 2025. Pasar kini menanti rilis Core PCE, data inflasi favorit The Fed.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish: Meskipun yield sempat naik dan membatasi kenaikan jangka pendek, ekspektasi pemangkasan suku bunga dan agresivitas pembelian bank sentral membuat tren emas masih sangat kuat ke arah bullish.

Minyak Menguat Ditopang Harapan Pemangkasan Suku Bunga dan Memanasnya Geopolitik

  • Ekspektasi kuat pemangkasan suku bunga The Fed dan melemahnya dolar AS mendorong harga minyak naik.

  • Ketegangan geopolitik AS–Venezuela dan konflik Rusia–Ukraina menambah risiko gangguan pasokan global.

Harga minyak dunia ditutup menguat pada Kamis, didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang dinilai akan menopang pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi. Brent naik 0,94% ke $63,26 per barel, sementara WTI melonjak 1,22% ke $59,67 per barel. Pelemahan dolar AS yang mencatat penurunan selama 10 hari berturut-turut turut membuat harga minyak lebih murah bagi pembeli global.

Dari sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan Venezuela meningkat, memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan dari Amerika Selatan. Di saat yang sama, proses perdamaian Rusia-Ukraina kembali buntu, sehingga peluang kembalinya pasokan minyak Rusia ke pasar global semakin tertunda. Serangan Ukraina terhadap jaringan pipa minyak Druzhba dan fasilitas ekspor Rusia juga memperkuat kekhawatiran gangguan suplai.

Namun, kenaikan harga dibatasi oleh kenyamanan stok global dan potensi kelebihan pasokan. Data EIA menunjukkan stok minyak AS naik 574 ribu barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan. Fitch juga memangkas proyeksi harga minyak 2025–2027 karena pasokan diperkirakan tumbuh lebih cepat dibanding permintaan. Selain itu, Arab Saudi menurunkan harga jual resmi ke Asia ke level terendah dalam lima tahun, mencerminkan ketatnya persaingan pasar.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk OIL: Kombinasi harapan pemangkasan suku bunga dan meningkatnya risiko geopolitik memberi dorongan bullish pada harga minyak. Namun, lonjakan stok AS, proyeksi oversupply global, dan strategi harga OPEC membuat ruang kenaikan tetap terbatas dalam jangka pendek.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Stabilitas Inflasi Inti (Core PCE): Baik Core PCE Bulanan (MoM) maupun Tahunan (YoY) diperkirakan stabil. PCE Bulanan diperkirakan tetap di 0.2%, dan PCE Tahunan diperkirakan tetap di 2.9%. Dengan data Forecast yang sama persis dengan Previous, USD berpotensi bergerak Netral pada rilis data ini, kecuali jika hasil aktual (Actual) keluar jauh lebih tinggi (Mendukung USD) atau jauh lebih rendah (Melemahkan USD) dari perkiraan.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: