Perang Memanas, Dolar Perkasa: Safe Haven Dollar Bangkit Lagi
Dolar melonjak ke level tertinggi sejak Januari akibat eskalasi konflik dan arus safe haven global.
Risiko inflasi energi meningkat, berpotensi mengubah ekspektasi pemangkasan suku bunga dan menekan euro serta yen.
Dolar AS menguat tajam pada Selasa, didorong lonjakan permintaan safe haven setelah konflik Timur Tengah meluas ke sejumlah negara. Indeks Dolar (DXY) naik 0,6% ke 98,99, level tertinggi sejak Januari, melanjutkan kenaikan hampir 1% sehari sebelumnya. Serangan rudal ke fasilitas AS di Arab Saudi, UEA, dan Bahrain serta perintah evakuasi staf non-darurat AS mempertegas eskalasi. Ketegangan ini memicu kekhawatiran inflasi berbasis energi dan memperkuat arus dana ke greenback.
Kekhawatiran bahwa perang dapat memicu gelombang inflasi baru—mirip periode 2022–2023—mendorong spekulasi sikap lebih hawkish bank sentral, termasuk Federal Reserve. Pasar OIS sebelumnya memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, namun risiko inflasi berpotensi membalikkan ekspektasi tersebut. Kenaikan harga energi juga menekan mata uang yang bergantung pada impor energi, khususnya euro dan yen.
EUR/USD turun 0,6% ke 1,1621 di tengah lonjakan harga gas alam dan menjelang rilis inflasi Zona Euro yang diperkirakan 1,7% (inti 2,2%). Sterling ikut melemah, sementara USD/JPY naik ke 157,52 karena sikap hati-hati Bank of Japan mengurangi peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Ketergantungan Jepang pada energi impor semakin menggerus status yen sebagai safe haven.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Eskalasi geopolitik dan ancaman inflasi memperkuat daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai, sementara mata uang lain tertekan oleh ketergantungan energi dan risiko perubahan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Emas Tersungkur di Tengah Yield Melejit: Dolar Perkasa Tekan XAU/USD di Bawah $5.000
Lonjakan yield 10 tahun AS ke 4,05% dan penguatan dolar 0,70% menjadi faktor utama kejatuhan emas di bawah $5.000.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menyusut, memperkuat sentimen hawkish dan membebani prospek emas.
Harga emas (XAU/USD) anjlok lebih dari 4% pada Selasa dan sempat menembus di bawah $5.000 dari level sebelumnya $5.379, tertekan lonjakan imbal hasil obligasi AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,05%, meningkatkan daya tarik dolar AS dan membebani emas yang tidak memberikan imbal hasil. Indeks dolar (DXY) melonjak 0,70% ke 99,21, mencerminkan arus dana ke aset berbasis dolar di tengah premi risiko yang meningkat akibat konflik AS–Israel–Iran.
Ketegangan geopolitik yang memasuki hari keempat memicu lonjakan harga minyak hampir 6% setelah ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Kenaikan harga energi memperkuat kekhawatiran inflasi, namun alih-alih mendukung emas, pasar justru mendorong yield lebih tinggi karena ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kombinasi inflasi berbasis energi dan permintaan dolar sebagai safe haven membuat emas kehilangan momentumnya.
Komentar pejabat Federal Reserve memperkuat sentimen hawkish. Presiden The Fed New York John Williams menyebut kebijakan saat ini sudah tepat, sementara pejabat lain menegaskan inflasi masih terlalu tinggi. Pasar kini hanya memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 44 basis poin hingga akhir tahun, lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya. Data penting seperti Nonfarm Payrolls dan ISM Services PMI akan menjadi katalis berikutnya, namun untuk saat ini, tekanan yield dan dolar lebih dominan dibanding faktor geopolitik.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen positif: Kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS secara fundamental menekan daya tarik emas, sementara pasar mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter. Selama yield tetap tinggi dan dolar kuat, tekanan turun pada XAU/USD cenderung berlanjut.
Minyak Menggila! Perang Timur Tengah Dorong Brent Tembus Level Tertinggi 2025
Gangguan Selat Hormuz dan pemangkasan produksi besar-besaran memicu lonjakan harga minyak ke level tertinggi 2025.
Lonjakan harga BBM dan gas global menandakan risiko inflasi energi semakin nyata.
Harga minyak melonjak 4,7% pada Selasa dan ditutup di level tertinggi sejak Januari 2025 seiring eskalasi konflik AS–Israel melawan Iran yang mengganggu jalur distribusi energi global. Brent ditutup di $81,40 per barel, sementara WTI naik ke $74,56. Sejak konflik dimulai akhir pekan lalu, Brent telah reli sekitar 12%. Serangan balasan Iran ke infrastruktur energi dan tanker di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui 20% pasokan minyak dan LNG dunia—memicu kekhawatiran krisis pasokan berkepanjangan.
Situasi diperburuk oleh pemangkasan produksi Irak hampir 1,5 juta barel per hari serta penghentian produksi gas di Qatar dan Israel. Arab Saudi juga menutup kilang terbesar dan berupaya mengalihkan ekspor melalui Laut Merah untuk menghindari risiko serangan. Lonjakan premi asuransi kapal dan pembatalan pelayaran membuat pengiriman energi nyaris lumpuh. Analis menyebut respons Iran kali ini jauh lebih agresif dan berisiko nyata terhadap pasokan global.
Di tengah gejolak tersebut, Presiden AS menyatakan operasi militer diproyeksikan berlangsung empat hingga lima pekan, namun pasar sempat meredakan reli setelah ada klaim bahwa sebagian besar target militer Iran telah dilumpuhkan. Meski begitu, lonjakan harga solar AS hingga 10%, kenaikan bensin hampir 4%, serta melebarinya selisih Brent–WTI ke hampir $8 per barel menunjukkan tekanan pasar energi masih sangat kuat.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positif: Risiko gangguan pasokan yang meluas dan eskalasi militer meningkatkan ketatnya suplai energi global, sehingga mendukung kenaikan harga minyak. Namun, dampaknya berpotensi negatif bagi ekonomi global karena memicu inflasi dan volatilitas pasar.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
ADP Nonfarm Employment Change (Feb) – USD
Data tenaga kerja sektor swasta diperkirakan naik signifikan ke angka 50K dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 22K. Peningkatan ini menunjukkan pemulihan penyerapan tenaga kerja yang lebih kuat, yang dapat meningkatkan optimisme pasar terhadap kondisi ekonomi AS secara keseluruhan.
Dampak:
USD berpotensi menguat jika realisasi sesuai atau melampaui forecast, karena memperkuat argumen ekonomi.
- S&P Global Services PMI (Feb) – USD
Angka PMI jasa diperkirakan terkoreksi tipis ke level 52.3. Meskipun masih berada di area ekspansi (di atas 50), penurunan ini mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan di sektor jasa sedikit melambat dibandingkan bulan Januari.
Dampak:
USD cenderung bergerak terbatas dengan bias negatif (melemah tipis) jika data tidak memberikan kejutan di atas angka sebelumnya.
- ISM Non-Manufacturing Composite (PMI & Prices) – USD
Indeks utama (PMI) diprediksi turun ke 53.5, yang mengonfirmasi adanya perlambatan di sektor non-manufaktur. Fokus utama pasar terletak pada korelasi antara penurunan aktivitas bisnis dan indeks harga (Prices) yang sebelumnya berada di level tinggi 66.6.
Dampak:
USD berpotensi melemah (Bearish) jika penurunan PMI disertai dengan penurunan angka Prices yang signifikan, karena akan meredakan kekhawatiran inflasi di sektor jasa.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
