Dolar AS Menguat di Tengah Ancaman Perang, Pasar Khawatir Inflasi Kembali Meledak

  • Konflik AS-Iran kembali memanas meskipun kedua pihak masih membuka peluang negosiasi damai dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

  • Data tenaga kerja dan sektor jasa AS yang kuat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, mendukung penguatan dolar AS.

Dolar AS menguat pada perdagangan Rabu setelah meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan, termasuk insiden yang melibatkan kapal tanker minyak dan serangan terhadap target militer di kawasan Teluk. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa upaya mencapai kesepakatan damai masih menghadapi hambatan besar, meskipun Presiden Donald Trump menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran tetap berlangsung.

Di tengah konflik yang memanas, Iran dilaporkan mengajukan peta jalan empat tahap untuk mengakhiri perang. Proposal tersebut mencakup penghentian operasi militer, pencabutan blokade dan sanksi minyak, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran. Namun hingga kini belum ada kesepakatan final yang tercapai. Ketidakpastian tersebut mendorong harga minyak kembali naik, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sentimen dolar juga didukung oleh data ekonomi AS yang solid. Laporan ADP menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta mencapai level tertinggi sejak awal 2025, sementara aktivitas sektor jasa AS kembali menguat. Di saat yang sama, tekanan harga dalam sektor jasa terus meningkat akibat mahalnya biaya energi. Kombinasi data ekonomi yang kuat, inflasi yang masih tinggi, dan kenaikan imbal hasil obligasi AS semakin memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga menopang penguatan dolar AS.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif untuk Dollar AS: Eskalasi konflik Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven, sementara data ekonomi AS yang kuat dan tekanan inflasi yang tinggi memperbesar peluang kebijakan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Emas Tertekan Meski Timur Tengah Memanas: Dolar dan Suku Bunga Jadi Musuh Utama Bullion

  • Ketegangan AS-Iran kembali meningkat meski Iran mengusulkan roadmap perdamaian empat tahap, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz.

  • Data tenaga kerja dan sektor jasa AS yang kuat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, menekan harga emas.

Harga emas kembali melemah pada perdagangan Rabu setelah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan daya tarik logam mulia. Emas spot turun 0,9% ke US$4.447,09 per ons, sementara emas berjangka terkoreksi 1% ke US$4.475,01 per ons. Penurunan terjadi meskipun ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali meningkat melalui serangkaian serangan dan aksi balasan militer di kawasan Teluk.

Situasi Timur Tengah semakin memanas setelah militer AS menyerang target yang terkait Iran dan mengklaim berhasil menggagalkan serangan rudal serta drone Iran ke Kuwait dan Bahrain. Di sisi lain, Iran mengajukan peta jalan empat tahap menuju perdamaian yang mencakup penghentian operasi militer, pencabutan sanksi minyak, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, perbedaan pandangan terkait program nuklir Iran dan konflik Lebanon masih menjadi hambatan utama tercapainya kesepakatan damai.

Di luar faktor geopolitik, data ekonomi AS turut memberikan tekanan terhadap emas. Laporan ADP menunjukkan penambahan 122 ribu pekerjaan sektor swasta pada Mei, tertinggi sejak Januari 2025. Sementara itu, indeks sektor jasa ISM meningkat ke 54,5 dan menunjukkan tekanan inflasi yang masih kuat. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Meskipun risiko geopolitik meningkat dan secara teori mendukung aset safe haven seperti emas, pasar saat ini lebih fokus pada penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi, serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Minyak Meledak di Tengah Ancaman Perang Berkepanjangan, Pasokan Global Kian Terjepit

  • Ketegangan militer AS-Iran kembali meningkat dan menghambat peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

  • Persediaan minyak mentah AS turun 8 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar, memperkuat kekhawatiran terhadap pasokan global.

Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Rabu setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta belum adanya kepastian mengenai kesepakatan damai di Timur Tengah. Brent crude naik 1,9% ke US$97,80 per barel, sementara WTI menguat 2,4% ke US$96,03 per barel. Sentimen pasar memburuk setelah kedua negara kembali saling melancarkan aksi militer, yang memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi global akan berlangsung lebih lama.

Ketidakpastian negosiasi damai semakin besar meskipun Presiden Donald Trump menegaskan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Iran dikabarkan mengajukan peta jalan perdamaian empat tahap yang mencakup penghentian operasi militer, pencabutan sanksi minyak, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, isu program nuklir Iran, konflik Lebanon, dan ketegangan antara Israel serta kelompok Hizbullah masih menjadi hambatan utama yang membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat tetap terbatas.

Di sisi fundamental, harga minyak juga didukung oleh penurunan persediaan minyak mentah AS yang jauh lebih besar dari perkiraan. Data EIA menunjukkan stok minyak komersial AS turun 8 juta barel dalam sepekan, dua kali lipat lebih besar dari estimasi pasar sebesar 4 juta barel. Selain itu, cadangan minyak strategis AS (SPR) juga menyusut 8 juta barel, menandakan tingginya kebutuhan pasokan di tengah gangguan distribusi akibat penutupan Selat Hormuz.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen positif: Kombinasi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penurunan tajam persediaan minyak AS menciptakan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • Initial Jobless Claims – USD

Metrik ini melacak volume pengajuan awal asuransi pengangguran dalam periode mingguan. Berdasarkan model konsensus, pasar memproyeksikan penurunan klaim ke level 211K dibandingkan siklus sebelumnya di angka 215K.

Dampak:
Berpotensi Bullish USD. Penurunan angka klaim memvalidasi hipotesis bahwa penyerapan tenaga kerja di AS masih berjalan di fase tightening. Sebagai data tunggal berkaliber High Impact hari ini, rilis yang solid (lebih rendah dari ekspektasi) akan berfungsi sebagai leading indicator positif menjelang Nonfarm Payroll (NFP) besok.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: