Wall Street Terguncang, Yield Melonjak dan Emas Bangkit di Tengah Rotasi Saham Teknologi

  • Kekhawatiran intervensi Jepang mendorong penguatan Yen dan menjatuhkan USD/JPY lebih dari 300 pips.

  • Dolar AS melemah akibat isu kebijakan Trump, ketidakpastian Fed, dan ekspektasi penurunan suku bunga.

Pasar saham Amerika Serikat ditutup melemah tajam pada Selasa, dipicu aksi jual besar di sektor teknologi akibat rotasi investor dari saham berkapitalisasi besar dan laporan kinerja yang mengecewakan. Dow Jones turun 0,3% ke 49.241, S&P 500 merosot 0,9% ke 6.917, sementara Nasdaq anjlok 1,4% ke 23.255. Tekanan bertambah setelah muncul laporan bahwa AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk Angkatan Laut, meningkatkan kekhawatiran geopolitik.

Imbal hasil obligasi AS melonjak seiring aksi jual surat utang setelah data manufaktur yang kuat, menambah tekanan bagi pasar saham. Namun, emas dan perak justru bangkit tajam setelah anjlok ekstrem dalam dua hari sebelumnya. Harga emas spot melonjak 6,2% ke $4.949 per ons, sementara emas berjangka naik 6,8% ke $4.970, setelah sebelumnya sempat jatuh hingga $4.400 dari rekor tertinggi.

Perhatian investor kini tertuju pada musim laporan keuangan, dengan lebih dari 100 emiten S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja pekan ini. Palantir mencuri perhatian dengan lonjakan pendapatan, sementara PayPal tertekan akibat kinerja di bawah ekspektasi. Laporan AMD, Alphabet, dan Amazon akan menjadi penentu arah pasar, di tengah sensitivitas investor terhadap prospek pertumbuhan AI dan kondisi ekonomi global.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish untuk Yen: Yen menguat tajam karena pasar takut Jepang akan intervensi langsung ke pasar forex. Dolar AS melemah luas akibat isu independensi The Fed dan kebijakan proteksionis Trump.

Emas Bangkit dari Kejatuhan Tajam, Namun Dolar dan Redanya Risiko Geopolitik Membatasi Laju

  • Aksi beli setelah koreksi tajam mendorong pemulihan emas lebih dari 5% dari level terendah mingguan.

  • Penguatan dolar dan meredanya risiko geopolitik berpotensi membatasi kenaikan lanjutan.

Harga emas (XAU/USD) melonjak lebih dari 5% pada Selasa setelah investor kembali memburu harga murah pasca aksi jual besar dari rekor tertinggi di sekitar $5.600. Logam mulia sempat tertekan hingga ke area terendah empat pekan di $4.402 pada Senin, sebelum pulih ke sekitar $4.980. Lonjakan ini mencerminkan masuknya kembali pembeli setelah likuidasi besar-besaran yang didorong faktor teknikal dan margin call, bukan karena pelemahan fundamental.

Meski sentimen jangka panjang emas masih dinilai konstruktif, volatilitas tetap tinggi, dengan perak naik hampir 10% dalam sehari. Namun, potensi kenaikan emas dalam waktu dekat berisiko tertahan oleh penguatan Dolar AS dan sinyal meredanya ketegangan geopolitik. Indeks Dolar AS (DXY) kembali menguat ke sekitar 97,40, didorong oleh optimisme pasar terhadap nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed dan data manufaktur AS yang solid.

Di sisi geopolitik, pernyataan dari Presiden Iran yang membuka ruang negosiasi dengan AS serta kesepakatan dagang AS–India mengurangi permintaan safe haven. Dari sisi teknikal, harga emas masih bertahan di atas rata-rata bergerak 20 hari yang menanjak, sementara Bollinger Bands yang melebar menunjukkan volatilitas masih besar. Meski demikian, tanpa katalis baru, pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen positif terbatas: Tren jangka menengah masih positif, namun kenaikan jangka pendek berisiko tertahan oleh faktor eksternal.

 

Ketegangan Teluk Hormuz Kerek Harga Minyak, Risiko Geopolitik Kembali Menguat

  • Eskalasi geopolitik di Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global.

  • Sanksi terhadap Rusia dan potensi kenaikan permintaan dari India memperkuat sentimen harga

Harga minyak mentah naik sekitar 2% pada Selasa setelah militer AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab, disusul laporan kapal bersenjata Iran mendekati tanker berbendera AS di Selat Hormuz. Insiden ini memicu kembali kekhawatiran bahwa upaya de-eskalasi antara AS dan Iran terancam gagal. Brent ditutup naik 1,6% ke USD 67,33 per barel, sementara WTI menguat 1,7% ke USD 63,21 per barel.

Lonjakan ini terjadi sehari setelah harga minyak anjlok lebih dari 4% akibat pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Iran “serius berbicara” dengan Washington. Namun, ketegangan terbaru menunjukkan rapuhnya proses diplomasi. Selat Hormuz — jalur vital ekspor minyak dari Saudi Arabia, Iran, UEA, Kuwait, dan Irak — kembali menjadi sorotan. Analis menilai Iran memiliki pengaruh geopolitik besar yang mampu mengganggu pasokan energi global melalui kontrol terhadap rute strategis ini.

Sentimen juga didorong oleh kesepakatan dagang AS–India yang berpotensi meningkatkan permintaan energi global, serta konflik Ukraina yang masih berlanjut dan menjaga sanksi terhadap Rusia. Setiap keterlambatan dalam meredakan perang diperkirakan akan mempertahankan tekanan pasokan global, mengingat Rusia masih menjadi salah satu produsen minyak terbesar dunia.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen postif: Karena risiko geopolitik dan ketidakpastian pasokan global menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD

  • ADP Nonfarm Employment Change (Jan)

ADP diperkirakan naik ke 46K dari 41K, mengindikasikan penciptaan lapangan kerja sektor swasta AS masih berjalan positif. Data ini mengindikasikan pasar tenaga kerja tetap solid dan tekanan upah berpotensi bertahan, sehingga ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat masih terbuka.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish) karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

  • JOLTS Job Openings (Dec)

Kenaikan ke 7.230M dari 7.146M mengindikasikan permintaan tenaga kerja masih kuat. Hal ini mengindikasikan kondisi pasar kerja belum cukup mendingin, sehingga risiko inflasi dari sisi upah masih ada.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish) karena pasar memandang The Fed masih harus bersikap hawkish.

  • S&P Global Services PMI (Jan)

Angka tetap di 52.5 mengindikasikan sektor jasa masih berada di zona ekspansi namun tanpa percepatan baru. Stabilnya aktivitas mengindikasikan ekonomi bertahan, tetapi tidak cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan moneter.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD cenderung netral, reaksi pasar relatif terbatas.

  • ISM Non-Manufacturing Prices (Jan)

Level tinggi di 65.1 mengindikasikan tekanan harga sektor jasa masih kuat. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran inflasi masih sulit turun dengan cepat.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi menguat (Bullish) karena inflasi jasa mendukung kebijakan ketat The Fed.

  • ISM Non-Manufacturing PMI (Jan)

Penurunan dari 54.4 ke 53.5 mengindikasikan perlambatan ringan di sektor jasa meskipun masih ekspansif. Ini mengindikasikan ekonomi mulai kehilangan momentum, namun belum cukup lemah untuk mendorong pelonggaran kebijakan.

Kesimpulan Dampak:
➡️ USD berpotensi melemah ringan, terutama jika data lain juga melambat.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: