Dolar Melemah di Tengah Ancaman Shutdown AS dan Fokus pada Data Tenaga Kerja.
Indeks dolar melemah akibat ancaman shutdown pemerintah AS dan ekspektasi NFP.
Data tenaga kerja akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed, dengan pasar menimbang skenario hasil di bawah atau di atas ekspektasi.
Dolar AS tergelincir pada awal pekan, ditekan oleh kekhawatiran potensi shutdown pemerintah serta ekspektasi rilis data ekonomi penting, termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan September. Indeks dolar turun 0,2% ke level 97,92, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian pasar. Investor juga mencermati proyeksi Federal Reserve, yang menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut tahun ini untuk menahan pelemahan pasar tenaga kerja meski inflasi masih tinggi.
Perhatian tertuju pada laporan ketenagakerjaan yang diperkirakan menambahkan 51.000 pekerjaan baru, naik dari 22.000 di bulan sebelumnya. Data ini akan menjadi kunci bagi langkah The Fed selanjutnya, di mana hasil yang lebih rendah dari 75.000 kemungkinan menjaga prospek pemangkasan suku bunga pada pertemuan Oktober. Namun, angka di atas 115.000 bisa memperlambat laju pelonggaran kebijakan. Di sisi lain, risiko politik berupa ancaman shutdown pemerintah AS berpotensi menunda publikasi data ketenagakerjaan, menambah ketidakpastian.
Source materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk Dollar AS – Melemahnya dolar didorong oleh risiko politik (shutdown) serta ekspektasi pelonggaran suku bunga lebih lanjut, yang menekan daya tarik greenback meski data tenaga kerja bisa menjadi penahan sementara.
Emas Melesat ke Rekor Baru di Tengah Ancaman Shutdown AS dan Gejolak Geopolitik.
Ancaman shutdown AS dan pelemahan dolar mendukung lonjakan harga emas ke rekor baru.
Ketidakpastian Fed serta ketegangan geopolitik di Ukraina memperkuat arus safe-haven.
Harga emas melonjak hampir 2% ke level $3.833 per ons pada Senin, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh melemahnya dolar AS dan imbal hasil Treasury yang jatuh. Ancaman penutupan pemerintahan AS semakin memperkuat permintaan safe-haven, terutama karena potensi penundaan rilis data penting seperti Nonfarm Payrolls. Bloomberg bahkan mengonfirmasi bahwa BLS tidak akan merilis data ekonomi jika shutdown terjadi.
Di sisi kebijakan moneter, pejabat The Fed memberikan sinyal beragam. Musalem dan Hammack menegaskan inflasi masih lengket, sementara Williams menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja. Pernyataan ini memperbesar spekulasi bahwa Fed akan tetap memangkas suku bunga, sejalan dengan ekspektasi pasar yang kini menilai peluang 89% untuk penurunan 25 bps pada Oktober.
Geopolitik juga memberi dorongan tambahan bagi emas setelah Rusia mengklaim kemajuan di Donetsk, memicu arus masuk ke aset aman. Dengan dolar yang melemah (DXY -0,27% di 97,91) dan real yield AS yang turun, emas tetap menjadi pilihan utama investor.
Source materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Kombinasi pelemahan dolar, turunnya yield, potensi pemangkasan suku bunga Fed, serta risiko geopolitik memberi katalis kuat bagi emas untuk mempertahankan tren naiknya.
Minyak Anjlok 3% di Tengah Kenaikan Pasokan OPEC+ dan Ekspor Kurdistan.
OPEC+ siap menaikkan produksi November, menambah tekanan pasokan global.
Ekspor minyak Kurdistan ke Turki kembali lancar hingga berpotensi 230.000 bpd.
Harga minyak tergelincir lebih dari 3% pada Senin, dipicu oleh rencana OPEC+ untuk meningkatkan produksi pada November serta dimulainya kembali ekspor minyak dari wilayah Kurdistan Irak melalui Turki. Brent ditutup turun 3,1% ke $67,97 per barel, sementara WTI melemah 3,45% ke $63,45. Sentimen pasokan yang kembali melimpah menekan reli harga pekan lalu yang sempat ditopang oleh ketegangan geopolitik.
OPEC+ diperkirakan akan mengonfirmasi tambahan produksi minimal 137.000 barel per hari pada pertemuan Minggu mendatang, setelah sebelumnya gagal memenuhi target produksi hingga 500.000 barel per hari. Di sisi lain, aliran minyak dari Kurdistan menuju pelabuhan Ceyhan Turki telah mencapai 150.000–160.000 barel per hari, dengan potensi meningkat ke 230.000 barel per hari dalam waktu dekat. Kembalinya pasokan ini menambah tekanan terhadap prospek harga.
Meski pekan lalu harga minyak sempat naik lebih dari 4% akibat serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi Rusia, fokus pasar kini kembali pada fundamental pasokan. Dengan OPEC+ beralih ke strategi pangsa pasar dan ekspor Kurdistan kembali deras, kekhawatiran oversupply mendominasi.
Source materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Prospek pasokan minyak global yang meningkat dari OPEC+ dan Kurdistan mengalahkan faktor geopolitik, sehingga harga minyak berpotensi lanjut melemah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Suku Bunga RBA: Perkiraan suku bunga yang tetap (3.60%) menunjukkan dampak Netral untuk AUD.
GDP Inggris: Perlambatan pertumbuhan ekonomi (0.3% vs 0.7%) merupakan sinyal negatif, berpotensi menekan GBP (⬇️).
German CPI: Inflasi yang stabil (0.1%) menunjukkan dampak Netral untuk EUR.
Chicago PMI: Peningkatan aktivitas manufaktur (43.2 vs 41.5) merupakan sinyal positif, berpotensi mendukung USD (⬆️).
Consumer Confidence & JOLTS: Penurunan kepercayaan konsumen (95.3 vs 97.4) dan lowongan pekerjaan (7.150M vs 7.181M) merupakan sinyal negatif untuk ekonomi AS, berpotensi menekan USD (⬇️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
