Wall Street Melemah, Tekanan Tarif dan Yield Tinggi Guncang S&P 500.

  • Tarif global Trump menghadapi ketidakpastian hukum, menciptakan keresahan bagi dunia usaha.

  • Lonjakan yield obligasi AS menekan saham teknologi dan menambah beban pada S&P 500.

Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Selasa, dipimpin oleh sektor teknologi yang kembali tertekan akibat lonjakan imbal hasil obligasi AS dan ketidakpastian soal tarif. S&P 500 turun 0,7%, Dow Jones merosot 249 poin atau 0,6%, dan Nasdaq terkoreksi 0,8%. Kekhawatiran atas inflasi yang masih lengket, setelah rilis data PCE minggu lalu, juga menambah keraguan mengenai ruang bagi The Fed untuk segera memangkas suku bunga.

Tarif kembali menjadi isu utama setelah Presiden Donald Trump mengajukan banding ke Mahkamah Agung terkait keputusan pengadilan yang menyatakan sebagian besar bea masuknya ilegal. Walau tarif tetap berlaku selama proses hukum berjalan, ketidakpastian hukum ini meningkatkan keresahan pelaku pasar dan memicu risiko bagi dunia usaha. Di saat yang sama, lonjakan yield obligasi AS akibat kekhawatiran utang global menambah tekanan pada saham berbasis pertumbuhan, dengan Nvidia memimpin pelemahan sektor teknologi.

Fokus pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat, yang bisa menentukan arah kebijakan Fed dalam pertemuan pertengahan September. Meski peluang pemangkasan suku bunga tetap tinggi di atas 90%, prospek inflasi yang masih kuat dan gejolak politik terkait independensi Fed membuat investor lebih berhati-hati. Kombinasi tarif, yield tinggi, dan keraguan terhadap langkah Fed menjaga tekanan bearish di pasar saham.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish untuk indeks saham AS – Ketidakpastian tarif, yield obligasi yang melonjak, dan keraguan atas arah kebijakan Fed memperlemah risk appetite investor, menegaskan tekanan turun pada indeks saham AS, khususnya S&P 500.

Emas Pecah Rekor Baru, Sentimen Pasar Kian Takut.

  • Emas menembus rekor baru di atas $3.500 berkat arus masuk ETF dan ketidakpastian kebijakan AS.

  • Data manufaktur AS yang melemah mendorong investor beralih dari saham ke aset aman seperti emas.

Harga emas menembus rekor tertinggi baru di atas $3.500 per ons pada Selasa, melesat lebih dari 2% meski Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS juga menguat. XAU/USD diperdagangkan di atas $3.520 setelah rebound dari level harian $3.470, melampaui puncak April lalu di $3.500 dan mencetak rekor $3.530. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya risk aversion, di mana investor mencari perlindungan dari ketidakpastian global dan ancaman terhadap independensi The Fed.

Aliran dana ke ETF emas semakin memperkuat reli, dengan SPDR Gold Trust melaporkan kepemilikan naik 1,01% menjadi level tertinggi sejak 2022. Data ekonomi yang beragam juga menambah dorongan: PMI manufaktur AS versi ISM mencatat kontraksi enam bulan berturut-turut di level 48.7, sementara S&P Global menunjukkan penurunan aktivitas manufaktur dari 53.3 ke 53. Kondisi ini memicu investor meninggalkan saham AS dan beralih ke emas sebagai aset aman.

Sementara itu, Dolar AS tetap menguat dengan indeks DXY naik 0,61% ke 98.28, dan imbal hasil obligasi 10 tahun AS naik ke 4,273%. Meski begitu, emas justru tetap melonjak berkat ekspektasi kuat pemangkasan suku bunga Fed pada September, yang peluangnya diperkirakan mencapai hampir 95%. Kombinasi ketidakpastian kebijakan, tekanan makroekonomi, dan derasnya arus masuk ke emas memperkuat tren bullish jangka pendek.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish — Reli emas ditopang oleh kombinasi faktor risk aversion, inflow ETF, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Meskipun dolar dan yield naik, emas tetap menguat, menegaskan dominasi permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.

Minyak Menguat di Tengah Sanksi Iran dan Antisipasi Rapat OPEC+.

  • Sanksi baru AS terhadap Iran dan gangguan kilang Rusia memperketat pasokan global.

  • OPEC+ diperkirakan mempertahankan pemangkasan produksi sukarela, menahan harga tetap tinggi.

Harga minyak ditutup naik lebih dari 1% pada Selasa setelah AS menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan pendapatan minyak Iran. Brent crude naik 1,45% menjadi $69,14 per barel, sementara WTI melonjak 2,47% ke $65,59 per barel. Sanksi tersebut menyasar jaringan pelayaran yang menyelundupkan minyak Iran dengan identitas palsu sebagai minyak Irak, di tengah kebuntuan perundingan nuklir Iran. Tekanan ini dinilai memperketat pasokan global dan mendukung reli harga.

Investor kini menanti rapat OPEC+ pada Minggu mendatang, di mana delapan anggota inti termasuk Saudi Arabia dan Rusia diperkirakan tidak akan mencabut pemangkasan sukarela yang masih berlaku. Kebijakan tersebut menjaga harga tetap bertahan di kisaran $60 per barel, meski pasar mewaspadai potensi surplus pasokan pada kuartal terakhir tahun ini. Selain itu, sanksi Eropa terhadap kilang India yang didukung Rusia menambah kekhawatiran terkait ketersediaan minyak di pasar non-sanksi.

Dari sisi geopolitik, pertemuan Shanghai Cooperation Organisation (SCO) yang dihadiri Tiongkok, Rusia, dan India menambah potensi gesekan dengan AS. Tekanan tambahan berupa sanksi sekunder bisa memperketat pasar lebih jauh. Sementara itu, data AS diperkirakan menunjukkan penarikan stok minyak mentah, dan serangan drone Ukraina yang memangkas kapasitas kilang Rusia turut memperkuat kekhawatiran pasokan. Faktor-faktor ini menambah alasan bagi investor untuk tetap optimis pada harga minyak.

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Alasan utamanya adalah kombinasi sanksi baru, potensi sanksi tambahan, dan gangguan pasokan Rusia yang menahan suplai global, sementara permintaan tetap tinggi setelah musim liburan AS. Hal ini memberikan dorongan kuat bagi harga minyak untuk melanjutkan tren naik.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • JOLTS Job Openings: Penurunan perkiraan lowongan pekerjaan (7.390M vs 7.437M) mengindikasikan pendinginan di pasar tenaga kerja, yang berpotensi menekan USD (⬇️).

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: