Euro Tertekan ke Level Terendah 3 Bulan, The Fed Hawkish Tekan EUR/USD.
The Fed memberi sinyal kebijakan hawkish setelah pemangkasan 25 bps, menekan ekspektasi pemotongan suku bunga tambahan di Desember.
ECB mempertahankan suku bunga dan menilai ekonomi Zona Euro masih solid, memperlebar divergensi kebijakan dengan The Fed.
Euro (EUR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada Jumat, dengan pasangan EUR/USD turun ke level terendah tiga bulan di sekitar 1.1523. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan Dolar AS yang didorong oleh sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) setelah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3.75%-4.00%. Meski pemangkasan sudah diantisipasi pasar, komentar Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan bahwa pemangkasan lebih lanjut pada Desember “belum tentu terjadi” membuat ekspektasi pelonggaran tambahan mereda.
Sementara itu, indeks Dolar AS (DXY) bertahan di dekat level tertinggi tiga bulan di 99.80, menandakan permintaan yang kuat terhadap mata uang AS di tengah keyakinan bahwa kebijakan suku bunga The Fed masih berada di wilayah restriktif. Di sisi lain, European Central Bank (ECB) memilih menahan suku bunga untuk ketiga kalinya, dengan Presiden Christine Lagarde menilai inflasi Zona Euro telah mendekati target 2% dan ekonomi masih tumbuh stabil. Perbedaan arah kebijakan ini memperlebar kesenjangan antara The Fed yang cenderung hawkish dan ECB yang tetap berhati-hati.
Komentar dari pejabat The Fed seperti Raphael Bostic dan Beth Hammack memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS akan berhati-hati ke depan, sementara perbaikan hubungan dagang AS–China turut memperkuat sentimen terhadap Dolar. Dengan kombinasi fundamental tersebut, tekanan terhadap Euro kemungkinan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk EURUSD – Karena penguatan Dolar AS yang didorong oleh sikap hawkish The Fed dan lemahnya prospek kebijakan ECB menekan nilai tukar Euro.
Emas Melemah Setelah The Fed Isyaratkan Jeda, Pasar Beralih ke Risiko.
Pernyataan Powell yang hati-hati membuat pasar meragukan pemangkasan suku bunga lanjutan, memperkuat dolar dan menekan emas.
Gencatan dagang AS–China meningkatkan sentimen risiko, mengurangi permintaan aset safe haven.
Harga emas (XAU/USD) tergelincir hampir 1% ke sekitar $3,985 pada Jumat setelah gagal mempertahankan level $4,000. Pelemahan ini terjadi karena dolar AS dan imbal hasil obligasi AS tetap kuat menyusul pernyataan hati-hati dari Federal Reserve (The Fed). Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada Desember bukan hal yang pasti dan keputusan kebijakan akan bergantung pada data ekonomi mendatang.
Selain itu, hasil positif dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan—yang menghasilkan gencatan dagang satu tahun—mendorong perbaikan sentimen risiko dan mengurangi minat terhadap aset safe haven seperti emas. Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Desember turun tajam dari 91,7% menjadi 66,8%, sementara imbal hasil obligasi 10 tahun AS naik ke level tertinggi tiga minggu di 4,11%.
Meski tekanan jangka pendek tampak meningkat, tren jangka panjang emas masih dianggap positif didukung oleh permintaan bank sentral dan ketidakpastian global. Namun, selama dolar AS tetap kuat dan imbal hasil obligasi tinggi, ruang kenaikan emas dalam waktu dekat tampak terbatas.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Karena penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan membaiknya sentimen risiko menekan harga emas dalam jangka pendek.
Minyak Dunia di Persimpangan: Antara Potensi Serangan AS dan Diskon Harga Saudi.
Arab Saudi berpotensi menurunkan harga minyak ke Asia dan OPEC+ siap menambah pasokan, menekan harga minyak global.
Ketegangan geopolitik Venezuela menciptakan potensi volatilitas tajam, namun belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan harga.
Harga minyak global bergerak fluktuatif pada akhir pekan setelah laporan bahwa Amerika Serikat mungkin akan melancarkan serangan udara ke Venezuela, yang kemudian dibantah oleh Presiden Donald Trump. Brent ditutup naik tipis 0,11% ke $65,07 per barel, sementara WTI menguat 0,68% ke $60,98 per barel. Ketidakpastian geopolitik ini datang di tengah sinyal bearish dari Arab Saudi yang dikabarkan akan memangkas harga jual minyak Desember ke Asia ke level terendah dalam beberapa bulan.
Di sisi lain, survei resmi menunjukkan aktivitas manufaktur China kembali menyusut untuk bulan ketujuh berturut-turut, menandakan lemahnya permintaan energi global. Sementara itu, OPEC+ dikabarkan akan menambah pasokan minyak pada Desember, dengan Arab Saudi menjadi satu-satunya negara anggota yang mampu meningkatkan produksi secara signifikan. Data AS juga menunjukkan produksi minyak domestik mencapai rekor tertinggi 13,6 juta barel per hari, memperkuat kekhawatiran pasar akan potensi kelebihan pasokan.
Meski Trump menyatakan China akan mulai membeli energi dari AS dalam skala besar, analis masih skeptis terhadap realisasi kesepakatan tersebut. Kombinasi potensi peningkatan pasokan global, lemahnya data China, dan penguatan dolar AS membuat harga minyak menghadapi tekanan jangka pendek, kecuali jika konflik di Venezuela benar-benar pecah dan memicu lonjakan harga mendadak.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Karena peningkatan pasokan global, lemahnya permintaan China, dan potensi pemotongan harga oleh Arab Saudi lebih dominan daripada risiko geopolitik jangka pendek.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- S&P Global Manufacturing PMI (Oct) (USD) (Pukul 21:45):
Forecast (52.2) = Previous (52.2): Aktivitas manufaktur global diperkirakan stabil. Dampak netral pada USD. - ISM Manufacturing PMI (Oct) (USD) (Pukul 22:00):
Forecast (49.2) > Previous (49.1): Aktivitas manufaktur AS yang diperkirakan sedikit meningkat (meskipun masih di bawah 50, menunjukkan kontraksi) adalah berita yang sedikit positif. Ini berpotensi sedikit menguatkan USD. - ISM Manufacturing Prices (Oct) (USD) (Pukul 22:00):
Forecast (62.6) > Previous (61.9): Harga yang dibayar oleh produsen diperkirakan meningkat lebih tinggi. Ini adalah indikator inflasi yang berpotensi menguatkan USD, karena dapat mendukung pandangan The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
