Wall Street Diguncang Perang, Tapi Tak Tumbang: Pasar Balik Arah di Tengah Serangan ke Iran
Wall Street rebound dari tekanan awal, ditopang saham teknologi dan energi meski konflik AS–Iran memanas.
Lonjakan harga minyak picu kekhawatiran inflasi, berpotensi menekan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Wall Street ditutup bervariasi pada Senin setelah sempat tertekan di awal sesi akibat serangan udara AS ke Iran. Indeks S&P 500 berhasil berbalik naik tipis ke 6.879,33 setelah sempat turun 1,2%, sementara Nasdaq menguat 0,4% ke 22.748,86 usai terkoreksi 1,6%. Sebaliknya, Dow Jones melemah tipis 0,2% ke 48.904,78. Kenaikan saham sektor teknologi dan energi menjadi penopang utama, meredam sentimen negatif dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Serangan akhir pekan oleh AS dan Israel terhadap Iran memicu balasan dari Teheran ke sejumlah negara di kawasan, meningkatkan kekhawatiran akan perang terbuka. Presiden AS menegaskan empat tujuan utama operasi militer, termasuk penghancuran kapabilitas misil dan pencegahan kepemilikan senjata nuklir Iran. Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi, yang berpotensi menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral.
Meski risiko geopolitik meningkat, pasar menunjukkan ketahanan yang kuat. Investor tampak memilih pendekatan “wait and see”, dengan saham teknologi, emas, dolar, dan energi dianggap sebagai aset defensif. Secara historis, pasar saham cenderung pulih setelah guncangan geopolitik, selama konflik tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan yang mengganggu fundamental ekonomi global.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen netral untuk indeks saham AS: Walau indeks berhasil pulih dan menunjukkan resiliensi, eskalasi konflik serta risiko inflasi dari lonjakan harga minyak tetap menjadi ancaman yang dapat membatasi kenaikan pasar jika ketegangan berlanjut.
Emas Menggila! Perang AS–Iran dan Lonjakan Minyak Picu Rally 1%
Eskalasi konflik AS–Iran dan lonjakan harga minyak memperkuat permintaan emas sebagai safe haven.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan lonjakan biaya produksi menopang prospek bullish emas meski dolar ikut menguat.
Harga emas melonjak lebih dari 1% pada awal pekan setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan risiko geopolitik global. Serangan yang meluas, termasuk aksi militer terhadap Iran dan balasan rudal serta drone ke Israel dan wilayah sekitarnya, mendorong arus dana ke aset safe haven. XAU/USD sempat menyentuh level tertinggi satu bulan di $5.419 sebelum stabil di sekitar $5.341.
Ketegangan di Timur Tengah serta stagnasi perundingan damai Rusia–Ukraina memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai. Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, sehingga emas dan dolar AS sama-sama menguat. Indeks Dolar AS (DXY) naik 1% ke kisaran 98,67, mencerminkan permintaan terhadap greenback di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi moneter, pasar masih memperkirakan pelonggaran kebijakan oleh Federal Reserve meski ekspektasi dovish sedikit berkurang menjadi 49 basis poin dari sebelumnya 61 bps. Data ISM menunjukkan aktivitas manufaktur tetap ekspansif, namun lonjakan komponen harga mengindikasikan tekanan biaya akibat tarif impor. Sementara itu, analis BNP Paribas menilai permintaan fisik emas dan akumulasi ETF menjadi pendorong utama reli tahun ini.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Kombinasi risiko geopolitik tinggi, kekhawatiran inflasi akibat lonjakan minyak, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menjadi katalis kuat yang mendukung kenaikan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Minyak Meledak, AS Siap Intervensi: Krisis Hormuz Ancam Inflasi Global
AS siapkan intervensi energi untuk meredam lonjakan harga akibat konflik Iran dan gangguan Selat Hormuz.
Harga minyak dan gas global melonjak tajam, berisiko memicu inflasi dan volatilitas pasar energi dunia.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan akan segera meluncurkan langkah darurat untuk meredam lonjakan harga energi menyusul eskalasi konflik Iran yang memicu gangguan pasokan minyak dan gas. Menteri Luar Negeri AS menegaskan bahwa Departemen Keuangan dan Energi akan mengumumkan fase kebijakan stabilisasi guna menahan dampak kenaikan harga. Lonjakan harga terjadi setelah serangan Israel dan AS ke Iran dibalas Teheran dengan aksi yang mengganggu fasilitas energi serta jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Harga minyak melonjak tajam, dengan Brent sempat naik 13% ke level tertinggi sejak Januari 2025 sebelum ditutup menguat 6,7% di $77,74 per barel, sementara WTI naik 6,3% ke $71,23. Ancaman Iran untuk membakar kapal yang melintas di Selat Hormuz serta serangan drone yang memaksa Arab Saudi menutup kilang terbesar dan Qatar menghentikan produksi LNG memperburuk kekhawatiran pasar. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global melewati jalur tersebut, sehingga potensi gangguan berkepanjangan dapat mendorong harga Brent menembus $100 per barel.
Meski demikian, analis menilai pasokan global sebenarnya masih relatif cukup. OPEC+ sepakat menaikkan produksi 206.000 barel per hari pada April, sementara produsen seperti AS dan Guyana diproyeksikan meningkatkan output tahun ini. Namun, ketegangan geopolitik telah mendorong reli Brent sekitar 19% sepanjang tahun, memicu kenaikan harga bensin AS di atas $3 per galon serta lonjakan tajam harga gas alam di Eropa dan Asia.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen negatif: Lonjakan harga energi, risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz, serta ancaman inflasi yang meningkat berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan memperburuk stabilitas pasar dalam jangka pendek.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi GBP:
- Spring Forecast Statement – GBP
Laporan ini merinci proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan kebijakan fiskal Inggris. Fokus pasar tertuju pada revisi angka PDB dan rencana belanja pemerintah. Jika proyeksi ekonomi lebih kuat dari sebelumnya, ini akan menjadi katalis positif bagi Sterling.
Dampak: GBP berpotensi volatile. Penguatan terjadi jika proyeksi pertumbuhan ekonomi naik; sebaliknya, GBP melemah jika ada kekhawatiran resesi atau pemotongan anggaran.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
