Wall Street Cetak Rekor Baru Jelang Keputusan The Fed dan Harapan Damai Dagang AS–China.
Optimisme kuat terhadap kesepakatan dagang AS–China dan pemangkasan suku bunga The Fed mendongkrak kepercayaan pasar.
Saham teknologi memimpin reli dengan dukungan sentimen positif dari investasi AI dan kerja sama korporasi besar.
Indeks S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi pada Selasa (28/10) seiring meningkatnya optimisme akan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Pasar semakin yakin The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan yang berakhir Rabu, memperkuat sentimen bullish di Wall Street.
Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa AS bersedia memangkas sebagian tarif terhadap China jika Beijing sepakat untuk membatasi ekspor bahan kimia pembuat fentanyl. Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga menandatangani kesepakatan pasokan mineral langka dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk mengurangi ketergantungan global terhadap China. Langkah-langkah diplomatik ini meningkatkan keyakinan bahwa tensi dagang global akan mereda.
Sementara itu, saham-saham teknologi memimpin penguatan dengan Nvidia melonjak lebih dari 5% setelah mengumumkan sejumlah kerja sama besar, termasuk dengan Nokia dan Departemen Energi AS. Amazon juga menarik perhatian setelah mengumumkan pemangkasan 14.000 pegawai guna efisiensi di tengah meningkatnya investasi AI. Beberapa analis besar seperti Wells Fargo dan UBS memproyeksikan reli pasar saham AS akan berlanjut hingga 2026, didorong oleh tren AI dan stimulus ekonomi.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish untuk indeks saham AS – Karena kombinasi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, prospek damai dagang global, dan momentum pertumbuhan sektor teknologi.
Bank of America Prediksi Emas Bisa Tembus $5.000 per Ounce pada 2026.
Bank of America memprediksi harga emas bisa mencapai $5.000 per ounce pada 2026, didorong defisit fiskal AS dan kebijakan ekonomi tidak konvensional.
Meski reli emas sudah kuat, tingkat investasi global terhadap emas masih rendah, memberi ruang kenaikan lanjutan.
Bank of America (BofA) memperkirakan harga emas masih berpotensi naik signifikan hingga mencapai $5.000 per ounce pada tahun 2026, didorong oleh faktor makroekonomi global yang masih mendukung tren bullish. Dalam laporan Global Metals Weekly, analis komoditas BofA Michael Widmer menilai bahwa lonjakan harga emas beberapa bulan terakhir bukanlah hal luar biasa, melainkan bagian dari siklus kenaikan alami seperti yang pernah terjadi sejak tahun 1970.
Widmer menjelaskan bahwa reli emas biasanya berakhir hanya ketika faktor fundamentalnya berubah. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kenaikan besar emas dipicu oleh kondisi seperti krisis minyak, stagflasi, kebijakan moneter longgar, hingga pandemi COVID-19. Saat ini, defisit fiskal AS yang tinggi dan kebijakan makro yang tidak ortodoks di era pemerintahan Biden dan Trump menjadi pendorong utama berlanjutnya reli harga emas.
Selain itu, BofA mencatat bahwa meski pasar emas terlihat “overbought,” tingkat investasi terhadap emas masih relatif rendah — hanya sekitar 5% dibandingkan aset saham dan obligasi. Bank tersebut merekomendasikan portofolio “60:20:20” (60% saham, 20% obligasi, 20% emas) yang terbukti memberikan imbal hasil lebih baik sejak 2020, menegaskan pandangan bullish terhadap logam mulia ini.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Karena dukungan fundamental makro yang berkelanjutan, proyeksi kenaikan signifikan, dan pandangan positif dari salah satu bank terbesar dunia.
Harga Minyak Tergelincir Akibat Kekhawatiran Dampak Sanksi AS dan Potensi Kenaikan Produksi OPEC+.
Sanksi AS terhadap Rusia dan potensi kenaikan produksi OPEC+ menekan harga minyak karena mengurangi kekhawatiran pasokan global.
Optimisme pertemuan AS–China memberi harapan pada stabilitas perdagangan, tetapi belum cukup menopang harga minyak.
Harga minyak dunia turun sekitar 2% pada Selasa, memperpanjang pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut. Investor menilai dampak sanksi Amerika Serikat terhadap dua raksasa minyak Rusia—Lukoil dan Rosneft—terhadap pasokan global, serta rumor bahwa OPEC+ berencana menaikkan produksi pada Desember mendatang. Brent ditutup melemah 1,9% di $64,40 per barel, sementara WTI turun ke $60,15 per barel.
Meskipun sanksi AS sempat memicu lonjakan harga pekan lalu, kekhawatiran kini mereda setelah Jerman mendapat pengecualian dari sanksi Rosneft. Selain itu, langkah Lukoil menjual aset internasional menunjukkan dampak langsung dari sanksi, namun analis menilai kapasitas cadangan global masih cukup untuk menutup potensi kekurangan pasokan. Fatih Birol dari IEA menegaskan bahwa efek sanksi terhadap negara pengekspor minyak akan terbatas.
Sementara itu, OPEC+ dikabarkan akan menambah pasokan secara bertahap, menekan ekspektasi kenaikan harga lebih lanjut. Investor juga menunggu hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan, yang bisa membuka peluang kesepakatan dagang baru antara dua konsumen minyak terbesar dunia. Data API menunjukkan stok minyak dan bahan bakar AS turun, tetapi tidak cukup kuat untuk menahan tekanan jual di pasar minyak.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Tekanan utama datang dari potensi peningkatan pasokan OPEC+ dan berkurangnya kekhawatiran terkait sanksi AS terhadap Rusia.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
- BoC Interest Rate Decision (CAD) (Pukul 20:45):
Forecast (2.25%) < Previous (2.50%): Bank of Canada (BoC) diperkirakan akan memangkas suku bunga. Penurunan suku bunga ini berpotensi melemahkan CAD secara signifikan, karena mengurangi daya tarik investasi di Kanada. - New Home Sales (Sep) (USD) (Pukul 21:00):
Forecast (710K) < Previous (800K): Penjualan rumah baru yang diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya menunjukkan perlambatan di pasar perumahan AS. Ini berpotensi melemahkan USD. - Crude Oil Inventories (USD) (Pukul 21:30):
Forecast (-0.400M) vs Previous (-0.961M): Forecast menunjukkan penarikan cadangan minyak yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya (atau kenaikan yang lebih kecil jika angka negatif adalah penarikan). Ini bisa diartikan sebagai permintaan yang sedikit melambat atau pasokan yang lebih baik. Jika penarikan lebih kecil dari sebelumnya, ini berpotensi sedikit melemahkan USD (karena permintaan minyak yang lebih rendah berarti aktivitas ekonomi yang lebih lemah), dan juga bisa memberi tekanan pada CAD yang sensitif terhadap harga minyak.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
