The Fed Siap Potong Suku Bunga Lagi dan Akhiri QT: Sinyal Longgar dari Kebijakan Moneter AS.
The Fed diperkirakan memangkas suku bunga lagi sebesar 25 bps pada akhir Oktober dan bersiap mengakhiri Quantitative Tightening pada November atau Desember.
Inflasi yang melandai dan sinyal dovish Powell memperkuat keyakinan pasar bahwa kebijakan moneter AS akan beralih ke fase pelonggaran.
Federal Reserve diperkirakan akan kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28–29 Oktober mendatang, di tengah kelangkaan data ekonomi akibat penutupan pemerintahan AS. Meskipun indikator tenaga kerja dan inflasi belum lengkap, data CPI September yang lebih rendah dari perkiraan memberikan ruang bagi The Fed untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan demi menopang pasar tenaga kerja.
Lembaga keuangan Jefferies dan Bank of America sama-sama memperkirakan The Fed akan segera menghentikan program Quantitative Tightening (QT)—pengurangan neraca keuangan yang telah berlangsung sejak 2022—karena mulai muncul tekanan pendanaan di pasar uang. Sejak puncak pandemi, neraca Fed telah menyusut dari $9 triliun menjadi sekitar $6,6 triliun, dan Ketua Jerome Powell memberi sinyal bahwa proses ini “mendekati akhir” dalam beberapa bulan ke depan.
Dengan inflasi yang melandai dan ekspektasi pelonggaran tambahan pada Desember, pasar semakin yakin arah kebijakan moneter AS kini beralih ke fase lebih longgar (dovish). Langkah ini berpotensi mendorong minat investasi dan meningkatkan harga aset non-yielding seperti emas, sementara dolar AS berisiko melemah jika kebijakan suku bunga rendah berlanjut.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish Dollar AS – Karena ekspektasi pemangkasan suku bunga dan penghentian Quantitative Tightening (QT) menandakan pelonggaran kebijakan moneter. Langkah ini dapat mengurangi imbal hasil aset berbasis dolar dan menekan daya tarik mata uang AS di pasar global.
JPMorgan Naikkan Target Emas ke $3.850, Pasar Masih Bullish Meski Ada Koreksi.
JPMorgan menaikkan target jangka panjang harga emas ke $3.850, dengan potensi ekstrem hingga $9.000 karena faktor utang AS dan diversifikasi global.
Goldman Sachs tetap optimis terhadap emas dan memperkirakan kenaikan ke $4.900 pada 2026, didukung pembelian bank sentral dan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Harga emas melemah di akhir pekan setelah mencatat reli panjang sembilan minggu, turun sekitar 3% ke level $4.062 per ons akibat aksi ambil untung menjelang rilis data inflasi AS. Meski terkoreksi, sentimen jangka panjang tetap positif seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan meningkatnya permintaan safe-haven di tengah ketidakpastian global.
JPMorgan memangkas proyeksi jangka panjangnya untuk emas dengan signifikan — menaikkan target dari $2.100 menjadi $3.850 per ons, atau 80% lebih tinggi dari sebelumnya. Bank tersebut menilai perubahan besar dalam kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter AS akan memperkuat nilai emas sebagai lindung nilai terhadap utang AS yang terus meningkat. Dalam skenario ekstrem, harga emas bahkan berpotensi menembus $6.000–$9.000 per ons hingga tahun 2029.
Sementara itu, Goldman Sachs mempertahankan pandangan bullish struktural terhadap emas, menilai pembelian besar-besaran oleh bank sentral dan investor jangka panjang akan terus menopang harga. Goldman masih memproyeksikan potensi kenaikan menuju $4.900 per ons pada akhir 2026, terutama jika pemangkasan suku bunga The Fed berlanjut dan minat terhadap aset lindung nilai meningkat.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Koreksi harga saat ini hanya bersifat teknikal akibat profit-taking, sementara faktor fundamental dan prospek jangka panjang tetap mendukung kenaikan harga emas.
Pasar Minyak Ragu: Sanksi AS ke Rusia Dinilai Tak Cukup Kuat, Harga Minyak Melemah.
Pasar skeptis terhadap efektivitas sanksi AS terhadap Rusia, sehingga reli minyak tertahan.
Kelebihan pasokan global dan permintaan lemah dari China berpotensi menekan harga minyak ke depan.
Harga minyak turun pada Jumat (24/10) karena pasar mulai meragukan seberapa tegas sanksi AS terhadap dua raksasa minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil. Setelah sempat naik lebih dari 5% pasca pengumuman sanksi, harga Brent ditutup di $65,94 per barel dan WTI di $61,50, keduanya melemah di akhir sesi perdagangan. Meskipun demikian, minyak masih mencatat kenaikan mingguan lebih dari 7%, menjadi lonjakan terbesar sejak pertengahan Juni.
Keraguan muncul karena banyak pihak menilai sanksi ini tidak akan separah yang diumumkan. China dan India—dua pembeli utama minyak Rusia—dilaporkan akan memangkas pembelian mereka, namun pasar global masih dibanjiri pasokan. OPEC menyatakan siap menaikkan produksi jika terjadi kekurangan, sementara Rusia menegaskan sanksi tersebut tidak akan berdampak besar pada ekonominya.
Analis dari Bernstein menilai bahwa meskipun sanksi baru dan peningkatan cadangan minyak China dapat mendukung harga, keduanya belum cukup untuk mengimbangi kelebihan pasokan global sekitar 2 juta barel per hari. Dengan permintaan minyak China yang melambat akibat pertumbuhan kendaraan listrik, pasar minyak kemungkinan tetap longgar hingga tahun depan.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Karena pasar meragukan dampak nyata sanksi terhadap Rusia sementara kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan global masih menjadi tekanan utama.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Durable Goods Orders (MoM) (Sep) (Pukul 19:30):
Forecast (Tidak tersedia) vs Previous (-2.7%): Tanpa forecast, sulit untuk menilai potensi pergerakan. Namun, jika angka aktual dirilis dan menunjukkan rebound (positif) dari sebelumnya, ini akan berpotensi menguatkan USD. Jika tetap negatif atau bahkan lebih buruk, berpotensi melemahkan USD.New Home Sales (Sep) (Pukul 21:00):
Forecast (710K) < Previous (800K): Penjualan rumah baru yang diperkirakan lebih rendah secara signifikan dari sebelumnya menunjukkan potensi perlambatan di pasar perumahan. Ini berpotensi melemahkan USD.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
