Trump Dorong Kandidat Fed Pro-Cut Rate: Pasar Bersiap untuk Era Bunga Rendah?

  • Kevin Hassett menjadi kandidat kuat Ketua The Fed, dikenal pro-penurunan suku bunga dan dekat dengan Trump—mendorong spekulasi perubahan besar pada arah kebijakan moneter.

  • Data ritel melemah & pejabat Fed bernada dovish, menjaga peluang pemotongan suku bunga Desember tetap tinggi di sekitar 80%.

Kevin Hassett muncul sebagai kandidat terdepan Ketua The Fed berikutnya, menurut laporan Bloomberg, karena dianggap sejalan dengan pandangan Presiden Donald Trump yang menginginkan penurunan suku bunga agresif. Langkah ini meningkatkan spekulasi bahwa The Fed dapat berubah lebih dovish bila Hassett terpilih, meskipun Gedung Putih menyatakan keputusan akhir tetap menjadi misteri. Sementara itu, pasar saham AS menguat, dipimpin sektor kesehatan dan ritel, meski saham Nvidia tertekan akibat kekhawatiran kompetisi chip AI.

Sinyal dovish semakin kuat setelah pejabat-pejabat Fed seperti John Williams, Christopher Waller, dan Mary Daly menyatakan dukungan terhadap potensi pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Ekspektasi pemangkasan suku bunga Desember tetap stabil di sekitar 80%, terutama setelah data penjualan ritel yang lebih lemah—hanya naik 0.2% dibanding 0.6% bulan sebelumnya—menambah gambaran bahwa konsumen mulai melemah. Minimnya data karena penundaan akibat shutdown menjadikan pertemuan Desember semakin penuh ketidakpastian.

Dengan pasar menunggu rilis PCE Price Index—indeks inflasi favorit The Fed—ekspektasi investor cenderung mengarah pada The Fed yang akan bersikap lebih longgar menjelang akhir tahun. Jika Hassett benar menjadi Ketua Fed berikutnya, pasar memperkirakan kebijakan moneter akan semakin condong ke pemangkasan suku bunga, sebuah skenario yang berpotensi mengguncang aset dolar dan memicu volatilitas di pasar global.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish untuk indeks saham AS – Pasar saham AS menguat karena meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan bergerak semakin dovish. Spekulasi memuncak setelah Kevin Hassett muncul sebagai kandidat kuat Ketua The Fed berikutnya—yang dikenal sejalan dengan agenda pemangkasan suku bunga Donald Trump.

Emas Menguat Saat Inflasi Tersandung: Sinyal Fed Cuts Semakin Nyaring

  • Inflasi AS melambat dan konsumsi melemah, memicu ekspektasi kuat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga Desember.

  • Kepercayaan konsumen anjlok dan yield serta Dolar melemah, memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas menguat ke $4.159 pada Selasa setelah data AS menunjukkan inflasi mulai mandek dan konsumsi rumah tangga melemah, memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed pada pertemuan 9–10 Desember. Selain itu, pelemahan imbal hasil obligasi AS dan turunnya nilai Dolar membantu menopang reli emas, yang sempat menyentuh level terendah harian di $4.109.

Laporan terbaru menunjukkan inflasi produsen stabil, penjualan ritel melambat, dan kepercayaan konsumen Conference Board anjlok ke 88,7 karena kekhawatiran terhadap pekerjaan, pendapatan, dan dampak penutupan pemerintah. Kombinasi tekanan ekonomi ini membuat pasar kini memberi peluang 82% untuk pemotongan suku bunga 25 bps, naik signifikan dari 50% minggu lalu, meskipun beberapa pejabat Fed seperti Neel Kashkari tetap bernada hawkish.

Ke depan, perhatian investor tertuju pada rilis Durable Goods Orders dan Initial Jobless Claims yang akan dirilis Rabu, yang dapat memperkuat atau melemahkan ekspektasi pemotongan suku bunga sebelum Fed memasuki masa blackout. Penurunan yield riil dan Dollar yang semakin lemah menjadi katalis utama kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bullish — Karena melemahnya inflasi, konsumen yang tertekan, dan meningkatnya peluang pemotongan suku bunga—faktor yang secara historis mendorong harga emas naik.

Damai yang Mengguncang Minyak: Harga Tumbang Sebelum Perangnya Usai

  • Prospek damai Rusia–Ukraina dapat mencabut sanksi energi dan membuka kembali suplai besar dari Rusia, menekan harga minyak lebih dalam.

  • Proyeksi surplus global 2026 semakin menguat, sehingga pasar semakin sensitif terhadap berita apa pun yang menambah potensi kelebihan pasokan.

Harga minyak jatuh lebih dari 1% pada Selasa setelah Ukraina mengisyaratkan bahwa dorongan diplomatik besar dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang dengan Rusia mulai menunjukkan hasil. Prospek berakhirnya perang memunculkan kemungkinan pencabutan sanksi energi Barat, yang berpotensi membuka kembali aliran minyak Rusia dan menambah suplai di pasar global yang sudah dibayangi kekhawatiran kelebihan pasokan tahun depan. Brent turun ke $62.34 per barel sementara WTI merosot ke $57.85.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dilaporkan akan mengunjungi AS untuk merampungkan kesepakatan damai dengan Presiden Donald Trump, namun posisi keras Moskow membuat pasar tetap skeptis. Serangan rudal Rusia terhadap Kyiv pada hari yang sama memperkuat keraguan apakah kedua pihak benar-benar mendekati titik temu, sehingga penurunan harga minyak sedikit tertahan.

Tekanan tambahan datang dari proyeksi surplus minyak global pada 2026, dengan perkiraan pasokan yang terus melampaui permintaan. Jika kesepakatan damai tercapai dan sanksi dicabut, Rusia berpotensi meningkatkan produksi hingga level OPEC+ serta melepaskan stok minyak yang tertahan di tanker laut. Rusia juga dikabarkan mencari jalur ekspor tambahan menuju Tiongkok, yang dapat memperbesar potensi kelebihan pasokan global.

Sumber materi berita: investing.com

Kesimpulan Sentimen:

Sentimen Bearish — Karena kombinasi potensi tambahan pasokan Rusia, surplus global yang semakin besar, dan meredanya risiko geopolitik yang biasanya menjadi faktor pendukung harga.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi NZD dan USD:

  • NZD (RBNZ Rate): Perkiraan penurunan suku bunga 2.25% (turun dari 2.50%) menunjukkan sikap Dovish. NZD berpotensi melemah.

  • USD (Durable Goods): Perkiraan 0.2% (turun tajam dari 2.9%) menunjukkan penurunan pesanan. USD berpotensi melemah.

  • USD (Core PCE): Perkiraan kedua data inflasi favorit The Fed sama (0.2% dan 2.9%). USD berpotensi Netral.

  • USD (New Home Sales): Perkiraan 710K (turun dari 800K) menunjukkan pasar perumahan melambat. USD berpotensi melemah.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: