Wall Street Melemah Setelah Rekor, Powell Tekankan Sikap Hati-Hati.
Powell menegaskan The Fed berhati-hati terkait pemangkasan lebih lanjut karena risiko inflasi masih tinggi meski pasar tenaga kerja melemah.
Data PMI AS menunjukkan pelemahan aktivitas bisnis, menambah alasan pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga lanjutan.
Indeks saham AS berakhir lebih rendah pada Selasa setelah S&P 500 sempat menyentuh rekor intraday baru di 6.699,52. Dow Jones turun 0,2%, S&P 500 melemah 0,6%, sementara Nasdaq tergelincir 1%, terbebani aksi ambil untung di saham big tech termasuk Nvidia dan Apple. Investor juga mencerna komentar terbaru Ketua The Fed Jerome Powell yang menekankan pendekatan hati-hati terkait pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Powell menyatakan The Fed menghadapi dilema dengan inflasi yang masih tinggi sementara pasar tenaga kerja menunjukkan tanda pelemahan. Meskipun bank sentral telah memangkas suku bunga 25 bps pekan lalu, Powell menegaskan bahwa kebijakan moneter tidak berada pada jalur yang sudah ditentukan. Pasar kini memperkirakan peluang 90% untuk pemangkasan tambahan 25 bps pada pertemuan Oktober, serta 75% peluang untuk pemangkasan berikutnya di Desember.
Selain komentar Fed, data aktivitas bisnis AS juga melemah. PMI komposit September turun ke 53,6 dari 54,6 bulan sebelumnya, dengan sektor manufaktur dan jasa sama-sama melambat. Sementara itu, saham teknologi sempat terkoreksi usai reli besar, sedangkan beberapa emiten lain seperti Kenvue dan Firefly Aerospace mencatat pergerakan tajam pasca berita dan laporan keuangan.
Source materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish untuk indeks saham AS – Alasannya, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan The Fed mendukung likuiditas pasar dan valuasi saham, meskipun Powell memberi sinyal hati-hati.
Dolar Tertekan Setelah Data Lemah & Sikap Hati-Hati The Fed, Emas Cetak Rekor Baru.
Data PMI yang melemah menambah keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan The Fed.
Imbal hasil obligasi AS yang turun menekan dolar dan memperkuat reli emas ke rekor baru.
Harga emas melonjak 0,73% ke $3,772 pada Selasa malam, setelah sempat mencapai rekor tertinggi $3,791. Kenaikan ini dipicu oleh melemahnya data PMI manufaktur dan jasa AS yang menandakan perlambatan aktivitas bisnis. Di sisi lain, pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell menegaskan risiko pelemahan pasar tenaga kerja sebagai alasan pemangkasan suku bunga pekan lalu, meski inflasi masih relatif tinggi.
Powell menyampaikan bahwa kebijakan saat ini berada pada posisi lebih netral namun tetap data-dependent, sementara pejabat Fed lain menunjukkan pandangan terbelah. Michelle Bowman memperkirakan tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2025, sedangkan Raphael Bostic memperingatkan risiko inflasi bisa lebih lama dari perkiraan. Sentimen dovish ini membuat imbal hasil obligasi AS turun, sehingga menekan dolar dan mendorong reli emas lebih jauh.
Menjelang rilis data penting minggu ini — termasuk GDP final kuartal II dan indeks inflasi inti PCE — pasar semakin yakin The Fed akan memangkas suku bunga lagi pada pertemuan Oktober. Turunnya imbal hasil obligasi nyata AS memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai, sementara dolar melemah terhadap enam mata uang utama.
Source materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Alasannya, ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan The Fed, turunnya imbal hasil obligasi AS, serta meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian geopolitik mendorong reli emas dan memperkuat prospek kenaikan lebih lanjut.
Minyak Menguat Tajam, Stok AS Anjlok dan Serangan Ukraina Tekan Pasokan Rusia.
Deadlock ekspor Kurdistan menahan tambahan pasokan global, mendorong harga minyak naik.
Laporan IEA menegaskan risiko surplus pasokan jangka menengah, meski stok minyak AS turun pekan lalu.
Harga minyak mentah AS naik lebih dari 1% pada Selasa setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan persediaan minyak mentah domestik sebesar 3,4 juta barel, jauh melampaui ekspektasi penurunan 1,6 juta barel. WTI sempat menyentuh $64,55 per barel setelah penutupan, naik dari settlement $64,42. Pasar kini menanti data resmi dari EIA yang akan dirilis Rabu, yang berpotensi memperkuat tren penurunan stok.
Selain faktor persediaan, harga minyak juga terdorong kekhawatiran gangguan pasokan dari Rusia akibat serangan drone Ukraina terhadap pelabuhan ekspor dan kilang utama. Transneft memperingatkan kemungkinan pemotongan produksi, sementara Goldman Sachs memperkirakan sekitar 300.000 barel per hari kapasitas penyulingan Rusia sudah terdampak sejak Agustus. Kondisi ini menambah tekanan pada pasar global dan memperkuat tren kenaikan harga.
Investor juga mencermati keputusan The Fed pada 16–17 September, di mana pemangkasan suku bunga diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi. Dengan kombinasi stok AS yang menurun, pasokan Rusia yang terganggu, serta prospek stimulus moneter, sentimen harga minyak saat ini cenderung kuat bullish, didorong oleh risiko pasokan dan potensi peningkatan permintaan.
Source materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Alasannya, pelemahan dolar AS akibat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed meningkatkan daya tarik komoditas berdenominasi dolar seperti minyak. Ditambah lagi, risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan memberi dukungan tambahan bagi harga minyak untuk tetap dalam tren naik.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Pidato Presiden AS: Dampak pada USD akan bergantung pada isi pidato, apakah menyentuh isu ekonomi atau kebijakan perdagangan.
New Home Sales: Penurunan perkiraan penjualan rumah baru (650K vs 652K) adalah sinyal negatif kecil untuk sektor perumahan, berpotensi menekan USD (⬇️).
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
