Badai Tarif & Geopolitik Guncang Dolar, Wall Street Berakhir di Zona Merah

  • Ketidakpastian Tarif Meningkat – Putusan Mahkamah Agung dan respons cepat Trump melalui tarif 15% menambah lapisan baru ketidakjelasan kebijakan perdagangan AS.

  • Tekanan pada Pasar & Dolar – Pelemahan dolar dan koreksi tajam Wall Street mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko hukum, geopolitik, dan prospek ekonomi.

Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin (23/2/2026) setelah Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa tarif darurat yang diberlakukan Presiden Donald Trump melampaui kewenangannya. Indeks Dolar (DXY) turun 0,2% ke level 97,65, meskipun sebelumnya mencatat penguatan mingguan terbaik dalam lebih dari empat bulan. Sebagai respons atas putusan tersebut, Trump segera menerapkan tarif universal baru sebesar 15% melalui Section 122 Trade Act 1974 yang berlaku selama 150 hari. Langkah ini memicu ketidakpastian lanjutan terkait arah kebijakan perdagangan AS dan potensi sengketa hukum baru.

Ketidakpastian tersebut berdampak langsung pada pasar saham. Indeks acuan S&P 500 turun 1% ke 6.838,95, NASDAQ Composite melemah 1,1% ke 22.627,27, dan Dow Jones Industrial Average merosot 1,7% ke 48.804,06. Pasar juga dibayangi kekhawatiran atas potensi eskalasi militer AS di Timur Tengah di tengah rencana lanjutan perundingan nuklir dengan Iran. Kombinasi risiko tarif dan geopolitik memperburuk sentimen investor yang sebelumnya mulai stabil.

Di sisi kebijakan moneter, Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bahwa dampak tarif terhadap inflasi bersifat sementara dan tidak serta-merta mengubah arah kebijakan suku bunga. Namun, analis menilai bahwa ketidakpastian yang bersumber dari kebijakan AS dapat menjaga tekanan terhadap dolar sepanjang 2026. Sementara itu, pasar juga menanti laporan keuangan raksasa AI Nvidia, yang diproyeksikan mencatat lonjakan laba signifikan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak disrupsi kecerdasan buatan pada sektor teknologi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif untuk Dollar AS: Dalam jangka pendek. Ketidakpastian kebijakan tarif dan tensi geopolitik menjadi faktor dominan yang menekan dolar serta pasar saham, meskipun sikap The Fed relatif stabil.

 

Gold Melonjak ke Level Tertinggi 3 Pekan Didukung Kebijakan Tarif AS & Risiko Geopolitik

  • Tarif AS & Kebijakan Mahkamah Agung – Pembatalan sebagian besar tarif Trump oleh Mahkamah Agung meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong permintaan aset safe haven seperti emas.

  • Risiko Geopolitik & Safe Haven – Ketegangan antara AS dan Iran memperkuat aliran modal ke emas, mengangkat harga ke level tertinggi dalam beberapa minggu.

Harga emas dunia (XAU/USD) kembali menguat pada 23 Februari 2026, menembus level tertinggi tiga pekan di atas US$5.160 per ounce setelah keputusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Putusan ini menimbulkan ketidakpastian kebijakan perdagangan global, sehingga mendorong investor mencari aset safe haven seperti emas. Spot gold naik lebih dari 1% setelah Dolar AS melemah di tengah kekhawatiran atas dampak kebijakan dagang baru pada ekonomi global.

Selain ketidakpastian tarif, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut memperkuat permintaan terhadap emas. Pasar masih memperhatikan risiko potensial eskalasi konflik di Timur Tengah, yang secara historis mendukung aliran modal ke aset defensif. Selain itu, data menunjukkan bahwa pergerakan imbal hasil obligasi dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve tetap menjadi faktor pendukung tambahan meskipun data ekonomi AS terbaru mengindikasikan inflasi masih relatif tinggi.

Permintaan terhadap logam mulia juga tercermin dalam reli tajam pada ETF emas dan perak, yang dilaporkan meningkat hingga 17% karena investor berlindung di tengah kombinasi risiko tarif dan geopolitik. Emas diperkirakan tetap berada dalam tren kenaikan sepanjang sisa pekan ini, terutama jika ketidakpastian kebijakan perdagangan dan ketegangan regional tidak segera mereda.

Sumber materi berita: fxstreet.com

Sentimen positif: Didorong oleh kombinasi ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan risiko geopolitik yang terus meningkat, membuat emas tetap menarik sebagai lindung nilai (safe haven) dalam kondisi pasar yang serba tidak pasti.

Minyak Bertahan di Puncak Enam Bulan, Bayang-Bayang Iran dan Tarif Trump Tekan Pasar

  • Risiko Geopolitik Iran–AS – Potensi konflik militer tetap tinggi meski jalur diplomasi dibuka, menjaga premi risiko pada harga minyak.

  • Ketidakpastian Tarif AS putusan Mahkamah Agung dan respons tarif baru Trump meningkatkan ketidakjelasan ekonomi global.

Harga minyak dunia melemah tipis pada perdagangan Senin (23/2/2026), namun tetap bertahan di level tertinggi dalam enam bulan terakhir di tengah menjelang putaran ketiga perundingan nuklir antara AS dan Iran. Brent Crude ditutup turun 0,38% ke US$71,49 per barel, sementara West Texas Intermediate melemah 0,26% ke US$66,31 per barel. Pekan lalu, Brent sempat melonjak lebih dari 5% dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2025 akibat meningkatnya kekhawatiran potensi konflik militer antara kedua negara.

Iran menyatakan kesediaannya memberikan konsesi terkait program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi dan pengakuan hak pengayaan uranium. Delegasi AS yang dipimpin Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu perwakilan Iran di Jenewa pada Kamis mendatang. Meski peluang diplomasi terbuka, analis menilai risiko serangan militer tetap tinggi, sehingga premi risiko geopolitik masih menopang harga minyak.

Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS kembali membebani sentimen pasar setelah Supreme Court of the United States membatalkan sebagian tarif Presiden Donald Trump. Meski otoritas bea cukai AS menghentikan pemungutan tarif tertentu, Trump mengumumkan kenaikan tarif sementara menjadi 15%. Ketidakjelasan arah kebijakan ini memicu kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global. Sementara itu, badai musim dingin di wilayah timur laut AS turut mendorong kenaikan margin diesel (diesel crack spread), memberikan dukungan terbatas pada harga energi.

Sumber materi berita: investing.com

Sentimen negatif: Walaupun harga minyak masih tinggi karena faktor geopolitik, ketidakpastian tarif dan risiko perlambatan ekonomi global membatasi penguatan lebih lanjut dan menekan optimisme pasar energi.

Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini

ECONOMIC CALENDAR
Real Time Economic Calendar provided by Investing.com.

Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.

Prediksi USD:

  • CB Consumer Confidence (Feb)

Consumer Confidence diperkirakan naik menjadi 87.6 dari sebelumnya 84.5, yang mengindikasikan adanya perbaikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi dan prospek pendapatan. Kenaikan ini mengindikasikan daya beli masyarakat berpotensi tetap stabil, sehingga dapat mendukung pertumbuhan konsumsi — komponen utama dalam struktur PDB AS. Jika realisasi data sesuai atau lebih tinggi dari forecast, USD berpotensi menguat karena mencerminkan ketahanan ekonomi domestik.

Dampak
Data ini diperkirakan mendukung sentimen positif bagi USD apabila rilis sesuai atau melebihi ekspektasi.

Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.

Share on: