Wall Street Pecah Rekor, The Fed Tahan Euforia Pasar.
Reli S&P 500 dipimpin oleh Nvidia dan Apple, dengan dorongan kuat dari optimisme AI dan prospek iPhone.
Pejabat The Fed menahan ekspektasi pelonggaran lebih lanjut, menekankan inflasi masih di atas target.
Indeks S&P 500 kembali mencatat rekor penutupan pada Senin di 6.692,59, ditopang reli saham teknologi besar. Nvidia melonjak lebih dari 3% usai mengumumkan rencana investasi hingga $100 miliar di OpenAI untuk memperluas kapasitas komputasi, sementara Apple mencatat level tertinggi delapan bulan setelah Wedbush menaikkan target harga saham ke $310 karena optimisme lonjakan permintaan iPhone 17.
Namun, sentimen pasar sedikit ditahan oleh komentar hawkish pejabat The Fed. Raphael Bostic menegaskan inflasi masih terlalu tinggi untuk mempertimbangkan pemangkasan tambahan, sementara Alberto Musalem menyebut ruang pelonggaran terbatas. Beth Hammack juga menekankan kehati-hatian, meski Gubernur Fed Stephen Miran masih membuka peluang pemangkasan lebih dalam. Fokus kini tertuju pada pidato Jerome Powell dan rilis data inflasi PCE akhir pekan ini.
Di sisi lain, Goldman Sachs dan RBC Capital mempertegas optimisme jangka menengah terhadap ekuitas AS, merevisi target S&P 500 ke 7.200 dalam 12 bulan. Namun, bagi dolar AS, nada hawkish sebagian besar pejabat Fed memberi dukungan jangka pendek, karena ekspektasi pelonggaran berlebih mulai dikoreksi.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk indeks saham AS – Karena sikap hawkish pejabat The Fed menekan harapan pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Imbal hasil obligasi yang tinggi meningkatkan biaya modal dan mengurangi selera risiko investor.
Emas Sentuh Rekor Baru, Dolar AS Melemah Diterpa Spekulasi The Fed.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang berlanjut mendorong pelemahan dolar dan menopang harga emas.
Permintaan fisik dari Asia (Tiongkok & India) serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor pendukung kenaikan emas.
Harga emas melesat ke level tertinggi sepanjang masa di $3,747 per troy ounce pada Senin, terdorong oleh pelemahan dolar AS dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut dari Federal Reserve. XAU/USD naik lebih dari 1,6% dan diperdagangkan stabil di atas $3,745, didukung meningkatnya permintaan bank sentral dan ketidakpastian geopolitik.
Daya dorong emas juga diperkuat oleh proyeksi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada dua pertemuan tersisa tahun ini, sehingga indeks dolar (DXY) melemah 0,30% ke 97,39. Selain itu, konflik Rusia–Ukraina yang belum menunjukkan tanda mereda, serta lonjakan permintaan fisik dari Tiongkok dan India, memperkokoh sentimen bullish terhadap emas.
Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed memberikan pandangan beragam. Sebagian mendukung pemangkasan suku bunga untuk mengantisipasi pelemahan pasar tenaga kerja, sementara yang lain menekankan risiko inflasi. Meski imbal hasil obligasi AS masih naik tipis, ekspektasi pelonggaran lebih lanjut tetap menjadi katalis utama pergerakan emas.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish — Ekspektasi pemangkasan suku bunga ganda The Fed tahun ini melemahkan dolar AS, sehingga mendorong minat beli emas sebagai aset lindung nilai. Selain itu, dukungan datang dari permintaan fisik Asia (Tiongkok & India) dan ketidakpastian geopolitik global yang meningkatkan permintaan safe haven. Kombinasi faktor fundamental ini memperkuat prospek kenaikan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Minyak Melemah Tipis, Pasar Fokus pada Risiko Oversupply.
Kekhawatiran oversupply meningkat karena ekspor Irak dan kapasitas produksi Kuwait melonjak di tengah tren pelemahan permintaan global.
Pejabat The Fed menepis kebutuhan pemangkasan suku bunga tambahan, mengurangi prospek peningkatan konsumsi energi.
Harga minyak ditutup sedikit lebih rendah pada Senin karena kekhawatiran kelebihan pasokan menutupi ketegangan geopolitik di Rusia dan Timur Tengah. Brent crude turun 0,2% ke $66,57 per barel, sementara WTI untuk kontrak Oktober berakhir di $62,64 per barel, melemah 0,1%. Meski ada eskalasi politik, pasar lebih terfokus pada prospek pasokan global yang melimpah.
Kekhawatiran meningkat setelah Irak—produsen terbesar kedua OPEC—mengerek ekspor hingga 3,45 juta barel per hari, sementara Kuwait mencatat kapasitas produksi tertinggi dalam satu dekade di 3,2 juta barel per hari. SEB menilai permintaan minyak global akan melemah dari Q3 ke Q4 dan kembali turun pada Q1-2026, beriringan dengan peningkatan suplai OPEC+, sehingga risiko harga turun ke kisaran $50 kembali terbuka.
Di sisi makro, pejabat The Fed meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut, dengan alasan inflasi masih di atas target 2% dan pasar tenaga kerja tetap kuat. Sikap hawkish ini menahan prospek konsumsi energi, sekaligus menjadi faktor tekanan tambahan bagi minyak.
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish — Fokus pasar kembali pada risiko oversupply dari OPEC+ (Iraq & Kuwait meningkatkan ekspor), sementara permintaan global diperkirakan melemah dari Q3 ke Q4. Di sisi lain, sikap hawkish The Fed menahan harapan pemangkasan suku bunga, sehingga prospek konsumsi energi ikut tertekan.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
S&P Global PMI (Manufaktur & Jasa): Perlambatan pada kedua sektor (51.8 vs 53.0 dan 53.8 vs 54.5) merupakan sinyal negatif untuk ekonomi AS, berpotensi menekan USD (⬇️).
Ketua Fed Powell Berbicara: Ini akan menjadi penggerak pasar yang signifikan. Nada hawkish akan mendukung USD, sementara nada dovish akan menekan USD.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
