Euro Bangkit Tipis, Dolar AS Kehilangan Momentum Jelang Data Inflasi dan Pertemuan Trump–Xi.
Dolar AS melemah menjelang rilis data inflasi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Harapan pertemuan Trump–Xi menurunkan permintaan terhadap aset safe-haven seperti Franc Swiss dan emas.
Euro (EUR) menguat tipis terhadap Dolar AS (USD) pada Rabu, memutus tiga hari pelemahan beruntun seiring Dolar kehilangan tenaga menjelang rilis data inflasi AS (CPI). Indeks Dolar (DXY) turun dari level tertinggi satu minggu ke kisaran 98,84, memberikan sedikit ruang napas bagi Euro yang sempat jatuh ke level 1,1576 sebelum pulih ke sekitar 1,1611. Meski demikian, tren teknikal masih cenderung bearish karena EUR/USD masih bergerak dalam kanal menurun sejak pertengahan September.
Sementara itu, pasangan USD/CHF bergerak stabil di kisaran 0,7950 setelah sempat rebound awal pekan ini. Sentimen pasar membaik setelah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping untuk meredakan ketegangan dagang. Harapan ini mengurangi permintaan aset safe-haven seperti Franc Swiss, sementara Dolar AS tetap tertahan karena pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.
Di sisi lain, deflasi yang berkelanjutan di Swiss terus menekan Bank Nasional Swiss (SNB) untuk mempertahankan suku bunga negatif yang dalam guna menjaga daya saing mata uangnya. Secara keseluruhan, pasar tampak berhati-hati menjelang data inflasi AS dan pertemuan kebijakan moneter besar, dengan EUR/USD mencoba bertahan di atas level support penting, sementara USD/CHF berada dalam fase konsolidasi.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish untuk Dollar AS: Karena pelemahan dolar akibat ekspektasi penurunan suku bunga dan menurunnya permintaan safe-haven.
Emas Tergelincir Jelang Data Inflasi AS, Tekanan Jual Besar Setelah Reli Rekor.
Harga emas anjlok karena aksi ambil untung menjelang rilis data inflasi AS dan potensi perubahan kebijakan The Fed.
Ketegangan dagang AS–China meningkat setelah rencana pembatasan ekspor teknologi oleh Gedung Putih, menambah risiko geopolitik.
Harga emas kembali turun lebih dari 1,5% ke sekitar $4.050 per ons pada Rabu, memperpanjang penurunan tajam sebelumnya yang mencapai 5% — penurunan harian terbesar dalam lima tahun terakhir. Tekanan jual terjadi karena investor mengambil untung setelah reli besar, sekaligus menunggu rilis data inflasi AS (CPI) pada Jumat. Meski dolar AS melemah tipis, fokus pasar beralih ke arah kebijakan moneter The Fed, di mana investor kini memperkirakan potensi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada dua pertemuan terakhir tahun ini.
Secara tahunan, harga emas masih naik 54% (YTD), didorong ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS. Namun, penguatan yang terlalu cepat membuat sebagian pelaku pasar khawatir harga emas telah memasuki fase koreksi wajar. Hasil CPI nanti akan menjadi kunci arah selanjutnya: inflasi yang lebih rendah dapat kembali mendorong harga emas, sedangkan inflasi yang tinggi bisa memperlambat ekspektasi penurunan suku bunga.
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan China kembali meningkat setelah laporan Reuters menyebut Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor produk berbasis software ke China sebagai respons terhadap kebijakan ekspor mineral langka Beijing. Langkah ini berpotensi mengguncang perdagangan global dan menambah ketidakpastian pasar, namun untuk sementara belum cukup kuat menopang harga emas di tengah aksi ambil untung besar.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bearish: Karena kombinasi aksi profit-taking besar, fokus pasar pada data inflasi, dan lemahnya dorongan safe haven menekan harga XAU/USD lebih dalam.
Harga Minyak Melonjak Usai Rencana Sanksi Baru AS terhadap Rusia dan Penurunan Stok Minyak AS.
AS berencana memperketat sanksi terhadap Rusia, memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Data EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun tajam, menandakan permintaan energi tetap kuat.
Harga minyak dunia naik tajam pada Rabu, didorong oleh kabar bahwa AS akan mengumumkan sanksi tambahan terhadap Rusia serta laporan penurunan stok minyak mentah domestik. Brent naik hampir 4% menjadi $63,76 per barel, sementara WTI melonjak lebih dari 4% ke $59,66. Pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahwa sanksi baru akan diumumkan dalam waktu dekat memperkuat sentimen pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
Kenaikan harga juga diperkuat oleh laporan dari Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 961.000 barel, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan. Analis menilai penurunan stok ini mencerminkan permintaan energi AS yang kuat dan tidak mendukung pandangan adanya kelebihan pasokan di pasar.
Selain faktor geopolitik dan stok minyak, pasar juga merespons positif perkembangan perdagangan AS–India yang berpotensi mengurangi impor minyak Rusia. Kesepakatan ini dapat meningkatkan permintaan terhadap jenis minyak lain, sehingga menambah tekanan pada pasokan global.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen Bullish: Karena kombinasi sanksi baru dan penurunan stok AS mempersempit pasokan di tengah meningkatnya permintaan.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Initial Jobless Claims:
Forecast (223K) > Previous (218K): Angka klaim tunjangan pengangguran yang lebih tinggi dari sebelumnya menunjukkan potensi sedikit pelemahan di pasar tenaga kerja. Ini berpotensi melemahkan USD.Existing Home Sales (Sep):
Forecast (4.06M) > Previous (4.00M): Penjualan rumah yang lebih tinggi dari sebelumnya menunjukkan peningkatan aktivitas di sektor perumahan. Ini berpotensi menguatkan USD.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
