Wall Street Rebound: Putusan Mahkamah Agung Batalkan Tarif Trump Akhiri Tren Pelemahan
Mahkamah Agung AS membatalkan tarif Trump berdasarkan IEEPA, memicu reli saham dan mengakhiri tren pelemahan dua pekan.
Data ekonomi menunjukkan pertumbuhan melambat dan inflasi inti tetap tinggi, menjaga sikap hati-hati pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
Saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Jumat, mengakhiri tren pelemahan dua pekan terakhir setelah Supreme Court of the United States membatalkan kebijakan tarif besar-besaran yang diberlakukan Presiden Donald Trump pada 2025. Indeks S&P 500 naik 0,7% ke 6.910,51, NASDAQ Composite menguat 0,9% ke 22.886,07, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,5% ke 49.625,97. Kenaikan ini terjadi setelah pasar sempat dibuka melemah akibat data inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang mengecewakan, sebelum berbalik arah menyusul putusan pengadilan.
Dalam putusan 6–3 pada kasus Learning Resources, Inc. v. Trump, Mahkamah Agung menyatakan bahwa International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) tidak memberikan kewenangan kepada presiden untuk memberlakukan tarif. Meski demikian, Trump menyebut putusan tersebut “mengecewakan” dan menyatakan tarif tetap akan diberlakukan melalui dasar hukum lain, termasuk rencana tarif global 10%. Pelaku pasar menilai keputusan ini mengurangi tekanan terhadap importir AS, meskipun masih menyisakan ketidakpastian terkait potensi pengembalian dana tarif yang telah dipungut.
Di sisi makroekonomi, data menunjukkan tekanan yang beragam. Indeks inflasi inti PCE—acuan favorit Federal Reserve—naik 0,4% secara bulanan dan 3,0% tahunan, tertinggi sejak November 2023. Sementara itu, estimasi awal PDB kuartal IV hanya tumbuh 1,4%, jauh di bawah proyeksi 2,8%. Kombinasi perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang masih tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat sedikit berkurang, menurut alat ukur pasar seperti CME FedWatch.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif untuk indeks saham AS: Dalam jangka pendek berkat katalis hukum yang mendukung pasar, meskipun tetap dibayangi kehati-hatian akibat inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Emas Tembus US$5.000, Data PDB Melemah dan Inflasi Inti Menguat Bayangi Arah Kebijakan The Fed
Perlambatan PDB AS dan inflasi inti di atas 3% meningkatkan kekhawatiran stagflasi, mendorong kenaikan harga emas.
Pelemahan Dolar AS pasca putusan Mahkamah Agung mendukung emas, meski kenaikan imbal hasil obligasi membatasi reli.
Harga emas melonjak lebih dari 1% pada perdagangan Jumat setelah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi yang tetap tinggi. XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$5.065, bangkit dari level terendah harian di US$4.981. Data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV tercatat melambat tajam dari 4,4% menjadi 1,4% secara tahunan, sementara inflasi yang tercermin dalam Core PCE—indikator favorit Federal Reserve—bertahan di atas level 3%. Kombinasi perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi memicu kekhawatiran stagflasi, yang mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh keputusan Supreme Court of the United States yang membatasi tarif darurat yang didukung Presiden Donald Trump. Putusan tersebut menekan Dolar AS, dengan indeks dolar (DXY) turun ke kisaran 97,70, sekaligus meningkatkan selera risiko di pasar saham. Meski demikian, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali naik ke sekitar 4,08%, menjadi faktor pembatas kenaikan emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset non-yielding.
Di tengah dinamika tersebut, pasar uang masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin tahun ini, meskipun waktu pelonggaran kebijakan semakin dipertanyakan. Investor kini menantikan data ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta indeks harga produsen (PPI) sebagai petunjuk tambahan arah kebijakan moneter. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, termasuk wacana opsi militer AS terhadap Iran, turut menjaga minat terhadap emas sebagai aset safe haven.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Didukung oleh kombinasi perlambatan ekonomi, inflasi tinggi, pelemahan Dolar AS, serta ketidakpastian kebijakan dan geopolitik global.
Minyak Terkoreksi Tipis, Namun Catat Kenaikan Mingguan Tajam di Tengah Risiko Konflik AS–Iran
Eskalasi ketegangan AS–Iran meningkatkan premi risiko geopolitik dan mendorong harga minyak ke level tertinggi multi-pekan.
Penurunan tajam stok minyak mentah AS memperkuat sentimen bullish dari sisi fundamental permintaan dan pasokan.
Harga minyak mentah melemah tipis pada Jumat, tetapi tetap berada di jalur kenaikan mingguan signifikan setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah. Kontrak Brent Crude turun 0,1% ke level US$71,61 per barel, sementara West Texas Intermediate juga terkoreksi 0,1% menjadi US$66,13 per barel. Meski demikian, kedua acuan sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus dan diperkirakan menguat lebih dari 5% sepanjang pekan ini.
Fokus pasar tertuju pada meningkatnya risiko konflik setelah Presiden Donald Trump memperingatkan Iran agar mencapai kesepakatan nuklir dalam 10–15 hari atau menghadapi konsekuensi serius. Potensi aksi militer AS terhadap Iran—salah satu produsen utama OPEC—meningkatkan kekhawatiran atas kelancaran distribusi minyak, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pengiriman minyak global. Retorika yang semakin keras mengembalikan premi risiko geopolitik ke pasar, setelah sebelumnya harga sempat tertekan oleh optimisme negosiasi diplomatik.
Dari sisi fundamental, data Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah AS turun tajam sekitar 9 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan persediaan. Penurunan stok bensin dan distilat juga mencerminkan permintaan yang solid. Di sisi lain, putusan Supreme Court of the United States yang membatalkan kewenangan tarif darurat Trump menambah dinamika baru pada pasar energi, meskipun dampaknya terhadap harga minyak masih dinilai terbatas untuk saat ini.
Sumber materi berita: investing.com
Kesimpulan Sentimen:
Sentimen positif: Didorong kombinasi risiko geopolitik yang meningkat dan data fundamental yang menunjukkan pengetatan pasokan.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Hari ini tidak ada rilis data ekonomi penting. Meski demikian, para pelaku pasar tetap akan mengamati perkembangan teknikal dan sentimen global sebagai acuan arah selanjutnya.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
