Dolar AS Melemah, Harapan Damai Iran Bangkitkan Risk-On Global
Harapan damai AS-Iran menekan dolar AS dan menurunkan permintaan safe haven.
The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga akibat inflasi tinggi dari lonjakan harga energi.
Dolar AS melemah pada Rabu setelah sentimen pasar global membaik didorong optimisme terhadap laporan keuangan NVIDIA serta harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran. Presiden Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran telah memasuki “tahap akhir”, memicu penurunan permintaan aset safe haven dan menekan indeks dolar AS ke area 99.06. Harga minyak juga turun tajam setelah muncul harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi di atas target 2%. Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran sebelumnya telah mendorong inflasi AS meningkat tajam, sehingga pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Pergantian kepemimpinan The Fed dari Jerome Powell ke Kevin Warsh juga menjadi perhatian besar investor karena kebijakan moneter diperkirakan tetap ketat.
Pasar saham global bergerak lebih positif dipimpin penguatan saham teknologi, terutama NVIDIA yang kembali menjadi pusat perhatian sektor AI dunia. Namun, meski dolar melemah sementara, tekanan inflasi dan peluang suku bunga tinggi lebih lama masih menjadi faktor utama yang menopang kekuatan dolar AS dalam jangka menengah. Investor kini menunggu perkembangan negosiasi AS-Iran dan arah kebijakan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed baru.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen negatif untuk indeks saham AS: Optimisme perdamaian Iran mendorong risk-on sentiment sehingga safe haven dolar melemah sementara. Namun, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed akibat inflasi yang masih panas tetap menjadi faktor kuat yang menopang dolar AS ke depan.
Emas Bangkit di Tengah Ancaman Perang dan Sinyal Hawkish The Fed
Risalah The Fed memperkuat peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi.
Pelemahan dolar AS dan turunnya yield obligasi mendorong rebound harga emas.
Harga emas (XAU/USD) kembali menguat pada Rabu dan diperdagangkan di sekitar USD4.530 setelah risalah rapat Federal Reserve menunjukkan mayoritas pejabat The Fed mulai mempersiapkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap tinggi. The Fed juga menyoroti konflik Timur Tengah sebagai risiko besar terhadap stabilitas ekonomi dan jalur kebijakan moneter. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember kini meningkat hingga 50%.
Meski nada The Fed cenderung hawkish, dolar AS justru melemah ke level terendah dua hari terakhir sehingga mendukung kenaikan harga emas. Yield obligasi AS tenor 10 tahun juga turun ke sekitar 4,57%, mengurangi tekanan terhadap aset non-yielding seperti emas. Pelemahan dolar dan turunnya yield menjadi katalis utama rebound emas setelah sebelumnya sempat tertekan tajam.
Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran masih menjadi faktor utama penggerak pasar. Presiden Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memperingatkan kemungkinan serangan jika kesepakatan gagal tercapai. Garda Revolusi Iran juga mengancam perang regional lebih luas apabila agresi terhadap Iran kembali terjadi. Pasar kini menunggu data PMI AS dan Jobless Claims sebagai petunjuk arah ekonomi berikutnya.
Sumber materi berita: fxstreet.com
Sentimen positif: Walau The Fed masih hawkish, pelemahan dolar AS, turunnya yield obligasi, dan meningkatnya risiko geopolitik AS-Iran memperkuat permintaan safe haven terhadap emas.
AS Panen Rp65 Triliun dari Minyak, Ketegangan Iran Kembali Memanas di Teluk Oman
Lelang hak pengeboran minyak AS mencetak rekor USD4 miliar akibat tingginya permintaan energi global.
Militer AS menghentikan tanker minyak Iran di Teluk Oman terkait dugaan pelanggaran blokade.
Amerika Serikat mencatat rekor besar dalam lelang hak pengeboran minyak dan gas di New Mexico serta Texas dengan nilai penawaran mencapai USD4 miliar. Lonjakan minat industri energi terjadi di tengah terganggunya pasokan global akibat konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz, yang meningkatkan permintaan terhadap minyak AS. Mayoritas lahan yang dilelang berada di Permian Basin, wilayah penghasil minyak terbesar di Amerika Serikat.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah militer AS menghentikan dan memeriksa kapal tanker minyak berbendera Iran di Teluk Oman karena dicurigai melanggar blokade AS terhadap Iran. Setelah pemeriksaan selesai, kapal tersebut dilepas namun diarahkan untuk mengubah jalur pelayaran. Insiden ini menunjukkan bahwa tekanan AS terhadap jalur distribusi energi Iran masih terus berlangsung.
Kombinasi lonjakan permintaan minyak AS dan meningkatnya pengawasan militer di kawasan Teluk memperlihatkan bahwa pasar energi global masih berada dalam kondisi sangat sensitif. Investor tetap memantau risiko gangguan pasokan minyak yang dapat memicu kenaikan harga energi dan memperkuat tekanan inflasi global.
Sumber materi berita: investing.com
Sentimen positf: Konflik dan gangguan distribusi energi masih meningkatkan kekhawatiran pasokan global, sementara permintaan terhadap minyak AS terus melonjak akibat ketidakpastian di Timur Tengah.
Penggerak Pasar Forex dan Komoditi Hari Ini
Pengaruh Data Terhadap Perubahan Harga.
Prediksi USD:
Philadelphia Fed Manufacturing Index (May) – USD
Indikator ini mengukur kondisi bisnis dan tingkat pertumbuhan sektor manufaktur di wilayah Philadelphia. Forecast pasar memperkirakan penurunan indeks yang cukup signifikan ke level 17.6 dari angka bulan lalu sebesar 26.7.
Dampak:
Berpotensi Bearish USD. Penurunan tajam ini mengindikasikan adanya pelambatan aktivitas ekspansi industri manufaktur. Jika rilis aktual sesuai atau berada di bawah perkiraan, data ini akan menekan nilai tukar USD karena mencerminkan mendinginnya pertumbuhan ekonomi.
- Initial Jobless Claims – USD
Mengukur jumlah klaim baru untuk asuransi pengangguran selama satu minggu terakhir. Data kali ini diproyeksikan turun tipis menjadi 210K dibandingkan data pekan sebelumnya di level 211K.
Dampak:
Berpotensi Bullish USD. Angka klaim yang stabil dan rendah menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih tergolong ketat dan solid. Rilis aktual yang lebih rendah dari forecast berpotensi memberikan dorongan penguatan jangka pendek bagi Dolar.
S&P Global Manufacturing PMI (May) P – USD
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) awal (Flash) ini melacak tingkat aktivitas dari para manajer pembelian di sektor manufaktur. Forecast memproyeksikan sedikit penurunan ke level 53.8 dari angka sebelumnya 54.5.
Dampak:
Berpotensi Bearish USD. Meskipun angka di atas 50.0 masih menandakan ekspansi, arah penurunan dari bulan sebelumnya dapat direspons negatif oleh pasar karena menunjukkan momentum pertumbuhan industri yang mulai sedikit melambat.
Disclaimer:
Analisis ini hanya untuk referensi, banyak faktor yang harus dipertimbangkan.
Trading adalah kegiatan berisiko, segala keputusan tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
